Sejak 5 tahun lalu Indonesia memang mengekspor makadamia ke Perancis, Belanda, dan Jerman. Badan Pusat Statistik mencatat volume ekspor pada 2005 sebanyak 13 ton. Setahun kemudian volume meningkat menjadi 19,7 ton. Namun, pada 2007 volume anjlok menjadi 10 ton. Makadamia yang diekspor itu merupakan komoditas yang dibudidayakan di Indonesia, bukan hasil impor yang kemudian diekspor.
Salah satu perusahaan yang mengebunkan makadamia adalah PT Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII). Perusahaan itu mengelola 12.000 pohon di lahan 120 ha. Lokasi kebun di Pegunungan Ijen, Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur. Ketika Trubus ke sana deretan pohon makadamia tampak rapi menghampar. Tinggi pohon berumur 18 tahun itu rata-rata 7—10 meter. Pangkal batang berukuran setengah pelukan. Di blok Blawan buah-buah makadamia seukuran bola pingpong menggelayut di ujung ranting.
Jatuhan
Badan Usaha Milik Negara di bawah Departemen Kehutanan itu menanam makadamia secara bertahap. Pada 1990 perusahaan itu membudidayakan 8.000 pohon setara 80 ha di blok Blawan. Populasi mencapai 100 pohon per ha. Pada 1995, giliran 40 ha lahan di blok Kalimasjampit ditanami 4.000 bibit. Perusahaan itu memperoleh benih dari 5 pohon induk di Pegunungan Ijen yang kini hampir berumur 40 tahun. Pohon induk berasal dari Australia.
Menurut Tirtoboma, periset di Pusat Penelitian Bioteknologi Perkebunan, pohon asal biji berproduksi perdana pada umur 6 tahun; setek dan grafting, 5 tahun. Saat itu produksi 0,5 kg biji kering per pohon per tahun. Volume produksi terus meningkat seiring bertambahnya umur pohon. Pada umur 7 tahun produksi meningkat menjadi 0,7—0,8 kg, 10 tahun (1—1,1 kg), 15 tahun (1,3—1,7 kg). Produksi stabil pada umur 20 tahun (1,7—1,9 kg).
Buah makadamia siap panen 180—200 hari setelah bunga layu. Masa puncaknya April dan Oktober. “Panen pada kedua bulan itu 70% total produksi. Sisanya pada bulan lain,” ujar Ir Setyo Wuryono, manajer Industri Hilir PTPN XII. Ciri buah siap panen, warna kulit berubah dari hijau muda menjadi hijau tua. Panen dilakukan dengan memungut buah jatuh.
Perusahaan itu kemudian menjual makadamia ke beberapa eksportir. Dengan harga jual Rp35.000 per kg, omzet mencapai Rp700-juta per tahun. Menurut Setyo, dengan pemupukan 2 kali setahun untuk pohon berumur di atas 5 tahun, biaya produksi untuk menghasilkan 1 kg makadamia tidak sampai Rp10.000. Makadamia mampu berproduksi hingga berumur 30—50 tahun. Setelah itu pohon anggota famili Proteaceae itu harus diremajakan.
Pasar lokal
Kebun makadamia di Ijen itu terluas di Indonesia. Pembudidaya lain adalah PTPN VII yang mengelola perkebunan di blok Cisaruni (Bandung), Penalang (Tasikmalaya), Gunung Gede (Bogor), dan Malabar (Garut), Provinsi Jawa Barat. Populasi total tidak sampai 300 pohon. “Dulu ditanam hanya sebagai pembatas kebun teh,” kata Ir Ruly B. Tejasukmana, manajer kebun PTPN VII.
Menurut Tirtoboma, makadamia sangat prospektif karena pasar lokal mulai tumbuh. PT Indoteak Agroforestry menjual makadamia kupas—tanpa tempurung—di pasar domestik. Konsumen makadamia di pasar lokal adalah produsen roti di Yogyakarta, Semarang, Bandung, dan Jakarta.
Harga jual makadamia tanpa kulit di pasar lokal mencapai Rp115.000 per kg. Indoteak memperoleh makadamia kulit dengan harga Rp45.000 per kg. Konsumen makadamia memanfaatkan kacang termahal di dunia itu untuk pengisi roti basah dan kue. Selain bermain di lokal, PT Indoteak Agroforestry juga rutin mengirimkan 100 kg makadamia kulit ke Perancis. Sedangkan volume ekspor ke negara-negara lain di Eropa seperti Belanda dan Jerman masing-masing 30 kg per bulan.
Standar mutu kacang belum kupas tempurung itu berdiameter 15 mm atau 1 kg terdiri atas 600—800 buah. Selama ini kontinuitas pasokan terjaga karena perusahaan itu memperoleh pasokan rutin dari pekebun di Jawa Timur. Indoteak memperoleh harga Rp45.000 per kg. Artinya keuntungan bersih Rp10.000 per kg atau total Rp1.6.000 sebulan.
Impor
Selain ekspor, Indonesia juga mengimpor makadamia dari Australia. Data BPS menunjukkan volume impor cenderung meningkat (lihat ilustrasi). Jika dikonversi volume impor rata-rata 73 ton per tahun setara dengan penanaman 438 ha. Itu belum termasuk impor minyak makadamia. PT Sari Prima Mustika, importir minyak makadamia dari Australia, sejak Mei 2009 memasarkan 100—150 botol isi 250 ml per bulan.
Jika penjualan minyak dihitung 25 liter per bulan alias 300 liter per tahun, berarti diperlukan 1,1 ton kernel kering dengan rendemen maksimal 28%. Kalau produktivitas pohon rata-rata 1,7 kg biji kering per tahun, maka diperlukan 628 pohon setara 7 ha untuk menghasilkan 25 liter minyak per bulan. Pada masa mendatang permintaan makadamia bakal terus meningkat. (Argohartono Arie Raharjo)
Pemecah buah makadamia di Kafe Rollaas, Surabaya. Harga makadamia pecah kulit di pasar domestik Rp115.000 per kg
Foto-foto: Nesia Artdiyasa & Imam Wiguna
Ekspor Makadamia
15.757
13.438
19.674
10.816
676
40,827
28,842
8,750
11,101
1,470
Kg
2004 2005 2006 2007 2008
60.000
55.000
Impor Makadamia
50.000
45.000
40.000
35.000
30.000
25.000
20.000
15.000
10.000
5.000
0 Nilai (US$)
42.628
20.290
11.3962
13.3509
54.704
66,802
53,261
86,040
96,022
53,084
Kulit buah berubah dari hijau muda menjadi hijau
tua tanda makadamia siap panen
