Trubus.id — Kabar wabah flu burung mulai merebak kembali membuat khawatir masyarakat dunia. Bagaimana tidak, flu burung bukan hanya menginfeksi unggas, melainkan mamalia lain seperti beruang, singa, dan binatang lainnya.
Prof. Ronny Rachman Noor, Guru Besar Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, menjelaskan, virus ini memang dikenal sangat ganas dan infeksius. Kebangkitan wabah flu burung sudah muncul sejak 2021 lalu.
Flu burung kembali merebak di Eropa, Amerika, dan Australia, kemudian ke selatan memasuki wilayah Amerika Selatan. Vaksinasi masih menjadi pilihan. Namun, banyak negara yang memilih tidak melakukannya.
“Karena adanya kekhawatiran terjadi penyebaran yang lebih luas lagi akibat unggas tanpa gejala akan ikut menyebarkan virus ini pada unggas yang belum divaksin,” terang Ronny seperti dilansir dari laman IPB University.
Pemusnahan unggas yang terinfeksi di wilayah terdampak juga dinilai kurang tepat. Hal ini karena kerugian ekonomi yang ditimbulkan akibat pemusnahan massal tidak sedikit. Ronny menyebut vaksinasi diperlukan untuk mengendalikan wabah ini.
Hasil evolusi dan mutasi yang dialami oleh virus pathogen dinilai menjadi biang dari merebaknya wabah flu burung. Kemunculan strain H5 dan H7 pada flu burung menyebabkan efek mematikannya sangat ganas. Strain ini menyebar pada burung liar dan akhirnya kembali menyebar pada unggas.
Berdasarkan pola penyebaran virus flu burung empat tahun terakhir, wabah ini kembali akan menghantui dunia. Menurut Ronny, penemuan strain baru virus flu burung, yakni varian 2.3.4.4b yang dikenal ganas diduga akan menjadi faktor penyebarnya.
Lebih lanjut, Ronny mengatakan strain baru virus flu burung ini dapat juga menyerang berbagai spesies termasuk mamalia. Informasi terbaru, strain ini menyebabkan kematian 52 ribu menyerang cerpelai di Spanyol. Virus flu burung ini juga menyerang kalkun, pelican, dan burung liar lainnya.
Menurut catatan, varian baru ini bahkan telah menyerang 236 spesies burung liar, termasuk di antaranya elang, burung nasar, pelican, dan penguin. Penyebaran virus flu burung pada cerpelai ini memang menimbulkan kekhawatiran tersendiri karena dapat menjadi jembatan penyebaran virus ini ke mamalia, termasuk manusia.
“Jika hal ini terjadi maka penyebaran virus ini antarmamalia tinggal menunggu waktu saja karena virus ini memiliki kemampuan mutasi yang luar biasa,” papar Ronny.
Ronny menegaskan dunia harus mulai waspada terhadap potensi merebaknya virus ini. Sejak Januari 2021, telah terjadi 186 kasus wabah H5N1 pada mamalia. Virus ini menyerang 17 spesies termasuk rubah, berang-berang dan anjing laut, beruang, singa gunung, serta sigung.
Ganasnya, virus ini tidak hanya menyerang sistem pernapasan, tetapi juga sistem saraf pusat dan otak mamalia. Kekhawatiran terhadap mutasi virus ini dan penularan antarmamalia sangat beralasan. Walaupun saat ini tingkat kematian pada manusia masih rendah.
“Indonesia perlu bersiap jika akhirnya virus flu burung ini masuk kembali ke Indonesia karena jika sudah masuk maka dipastikan akan menimbulkan kerugian yang sangat besar pada industri perunggasan nasional dan perekonomian nasional,” terang Ronny.
