
afrika sejak 2000
Mangga pantaigading berbuah lebat di Sidoarjo. Warnanya seronok.
Pohon mangga itu menjulang hingga 15 meter di sisi kiri halaman rumah dr Kery R. Kertosen, SpOG di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Pada Maret 2013, saat sedang tidak musim buah mangga, pohon itu justru berbuah lebat. Sayang, Kery tidak pernah menghitung jumlah buah setiap kali panen. Ia membagi-bagikan mangga itu kepada kerabat dan handai taulan. Bukan hanya soal waktu berbuah di luar musim yang menarik, tetapi juga soal sosok buah.
Bentuk buah bulat sekepalan tangan, warna kulit merah terang di bagian pangkal. Namun, semakin mendekati ujung buah, warna bersemu keemasan. Sosok buah itulah yang menarik perhatian para pengendara atau pejalan kaki yang melintasi depan rumah Kery. Mereka terpesona pada penampilan buah di halaman rumah dokter kebidanan dan kandungan itu. Warna kulit itu amat kontras dengan warna daging buah yang kuning keemasan. Ukuran bijinya cukup besar, ketebalan daging 3—4 cm, dan berserat.
Buah ke-8
Kery mengatakan rasa mangga itu semanis mangga manalagi. Kelebihan lain tahan simpan hingga 2 pekan pascapetik dengan kematangan 85%. Mangga yang tumbuh di halaman rumah Kery itu sebetulnya berasal dari Pantaigading di Afrika bagian barat. Namun, dokter alumnus Universitas Airlangga itu memperolehnya justru di Amsterdam, Belanda. Itu bermula dari sebuah perjalanan Kery ke Negeri Kincir Angin pada 2000. Dokter pekebun itu mengunjungi sebuah pasar dan menemukan penjual menjajakan mangga-mangga asal Pantaigading.

Penjual meletakkan buah mangga nan sedap dilihat itu di rak-rak begitu saja. Ketika itu Kery ibarat jatuh hati pada pandangan pertama. Ia terpikat pada sosok buah yang merah seronok. Padahal, soal rasa ia belum tahu. Meski demikian timbul hasrat Kery untuk membeli buah itu. Ia membeli 10 buah sebagai oleh-oleh perjalanan jauh. Beberapa hari setelah tiba di kediaman, di Sidoarjo, Kery menikmati mangga-mangga itu bersama keluarga.
Rasanya manis menyegarkan. Baru pada mangga ke-8 yang akan mereka konsumsi, muncul inisiatif di benak Kery untuk menanam biji. Ia menanam 3 pelok alias biji mangga tersisa di dalam polibag dengan media tanah. Sebuah baglog untuk sebuah biji. Pria 60 tahun itu hanya menyiram sesekali dan tanpa perawatan khusus karena ia cukup sibuk bekerja di rumahsakit. Beberapa bulan berlalu hanya satu biji yang tumbuh menjadi tanaman baru.
Setelah bibit setinggi 50 cm ia memindahkannya di lahan. Mangga baru itu melengkapi koleksi tanaman buah Kery seperti mamey sapote, zaitun, cikumega, srikaya merah, dan abiu. Pohon berbunga perdana pada umur 4 tahun. Ia senang karena ternyata mangga itu cocok ditanam di Indonesia. Saat muda buah itu berwarna hijau mirip mangga gadung. Enam bulan pascabunga, buah berubah warna menjadi kuning kemerahan.
Mengenai citarasa buah, Kery menyatakan tidak ada perbedaan antara mangga hasil panen di kebunnya dengan yang dibeli 13 tahun silam. “Rasanya sama. Saya menduga kondisi tanah dan iklim sama dengan di Pantaigading,” kata Kerry. Kery merawat mangga afrika sebagaimana lazimnya mangga lokal. Ia tidak memberikan tambahan nutrisi untuk mangga itu. Kery mengatakan pohon mangga afrika di kebunnya dua kali berbuah dalam setahun.

Menurut Ir. Rebin, peneliti mangga di Kebun Percobaan Cukurgondang, Desa Cukurgondang, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, menyebutkan mangga pantaigading termasuk genus Mangifera. Begitu juga peneliti buah di Pusat Penelitian Tanaman Buah, Solok, Sumatera Barat, Panca Jarot Santosa SP MSi, setelah menyaksikan foto kiriman Trubus, menduga mangga pantaigading termasuk Mangifera indica. Rebin mengatakan mangga pantaigading tergolong dalam jenis berbiji monoembrionik. Mangga monoembrionik mengalami perubahan warna kulit buah, ketika muda berwarna hijau, setelah tua menjadi merah atau kekuningan.
“Itu terlihat dari perubahan warna saat buah muda berwarna hijau dan ketika matang berwarna kuning kemerahan,” kata Rebin. Ia mengatakan kebanyakan mangga di Indonesia jenis poliembrionik. Ciri khas mangga jenis poliembrionik, biji dapat menghasilkan lebih dari satu tunas calon individu baru. Warna kulit buah hijau saat buah muda maupun telah masak. “Ciri itu yang menyebabkan mangga poliembrionik itu memiliki citarasa sama dengan induknya,” kata Rebin.
Mangga badak
Mangga unik lain tumbuh di kebun Sompatwan Sitdhisung di Chiang Mai, Thailand. Di bagian punggung buah dekat pangkal muncul tonjolan menyerupai cula badak. Ning—sapaan Sompatwan Sitdhisung —menyebutnya mangga badak. Menurut Ning, cula muncul pada buah yang terpapar sinar matahari penuh. Artinya tidak semua buah memiliki cula. Tanpa cula sosok reed mangoes—nama lainnya—mirip arumanis. Bobot 350 gram per buah.

Setiap hari, ia panen 255 kg mangga badak. Penikmat rujak patut mencoba mangga badak sebab meski masih muda daging buahnya manis segar. Ketika matang rasanya lebih manis dan tanpa serat. Sosok mangga badak pernah Trubus jumpai di Pameran Flora dan Fauna di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada 2002.
Ketika itu seorang pehobi berani membeli tabulampot mangga bercula Rp1,5—juta per pot karena sosok buah yang istimewa. Sau-sau—nama lainnya—masuk ke tanahair pada awal 1990-an sebagai tanaman koleksi. Nun di Thailand mangga bercula juga jadi kesukaan Raja Bhumibol Adulyadej. (Andari Titisari & Lutfi Kurniawan)
