Friday, December 2, 2022

Selamatkan 43 Durian Top

Rekomendasi
Nurhulis bersama pohon durian namlungpetaling hasil perbanyakan vegetatif dari pohon induk
Nurhulis bersama pohon durian namlung
petaling hasil perbanyakan vegetatif dari pohon induk

Durian-durian terbaik tumbuh di kebun Nurhulis. Upaya penyelamatan plasma nutfah yang kian terancam.

“Wah ini enak sekali,” ujar Wakil Bupati Bangka Barat, Provinsi Bangka-Belitung, H Sukirman, saat mencecap sepongge durian supertembaga berukuran hampir sekepalan tangan orang dewasa. Ia juga menyanjung daging buah yang tebal dan berwarna menarik, yakni jingga. Sanjungan terhadap supertembaga juga dilontarkan kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bangka Barat, Suhadi, yang mencicip Durio zibethinus itu.

Beruntung Trubus turut mencicip sepongge durian supertembaga yang tersisa. Saat dicecap, rasa supertembaga memang tergolong istimewa: daging buah pulen, manis sedikit pahit, meskipun agak berserat. Padahal, supertembaga bukanlah peserta kontes durian yang saat itu tengah berlangsung. Nurhulis, pemilik  supertembaga, menyajikan durian itu usai acara pembukaan durian. “Saya tidak mengikutsertakan supertembaga karena baru berbuah perdana. Saya khawatir rasanya belum optimal,” ujar Nurhulis.

Nurhulis juga memproduksi bibit durian unggul dari Bangka-Belitung
Nurhulis juga memproduksi bibit durian unggul dari Bangka-Belitung

Buah perdana

Sanjungan untuk supertembaga membangkitkan rasa penasaran Trubus untuk mengunjungi pohonnya di kebun Delis, sapaan Nurhulis. Lokasi kebun di Desa Airputih, Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka-Belitung. Setelah berkendara selama 30 menit dari Muntok, Delis mengurangi laju kendaraan, lalu belok ke kanan memasuki jalan setapak yang hanya muat satu mobil. Di kanan dan kiri jalan setapak tumbuh semak belukar yang menjadi pembatas antara jalan dan kebun kelapa sawit.

Sekitar satu kilometer dari jalan raya, Delis menghentikan mobil. Di kebun tanpa pagar itu tampak hamparan pohon durian yang tingginya relatif seragam dengan jarak tanam 10 m x 10 m. Nurhulis menanam 325 pohon durian yang terdiri atas 43 jenis unggul asal Pulau Timah itu di lahan 4 ha. Adapun pohon durian supertembaga berumur 4 tahun dengan tinggi 5 m, cabang pertama setinggi pinggang orang dewasa. Delis menuturkan durian supertembaga itu hasil perbanyakan sambung pucuk dari pohon induk yang tumbuh di Kecamatan Parittiga, Kabupaten Bangka Barat, Bangka-Belitung.

Di kebun Nurhulis terdapat 4 pohon supertembaga, 2 pohon di antaranya tengah belajar berbuah. Pada sebuah pohon bergelayut 15 buah. “Ini baru berbuah perdana,” ujarnya. Delis harus memasang penopang kayu di beberapa cabang untuk menahan beban buah. Ukuran buah supertembaga memang tergolong besar, yakni sekitar 2—3 kg per buah. Sementara ukuran cabang relatif kecil.

Nurhulis mengebun 43 jenis durian unggul asal Bangka-Belitung di lahan 4 hektar
Nurhulis mengebun 43 jenis durian unggul asal Bangka-Belitung di lahan 4 hektar

Selain supertembaga, Nurhulis membudidayakan 30 pohon namlung petaling asal Desa Jebusdarat, Kecamatan Parittiga, Kabupaten Bangka Barat. Durian yang sempat menjadi durian termahal di Bangka-Belitung itu juga sudah berbuah di kebun Delis. Menurut ayah satu anak itu kualitas buah namlung petaling dari kebunnya memang belum selezat buah dari pohon induk. “Masih ada sedikit seratnya. Harus ditambah lagi pupuk organiknya,” katanya.

Di kebun Delis juga tumbuh aneka durian unggul lain asal Kecamatan Jebus dan Kecamatan Muntok, keduanya sentra durian enak. Nurhulis memperoleh seluruh koleksi durian itu dengan melakukan eksplorasi. Saat musim durian tiba, Delis getol berburu durian enak ke setiap sentra durian di Bangka-Belitung atau ke lapak-lapak durian langganannya. Berbekal informasi dari para pedagang itulah Delis menelusuri pohon induk. Ia kemudian bekerja sama dengan pemilik pohon induk untuk memperbanyak dengan cara sambung pucuk. Hasil eksplorasi itu kemudian ia tanam di kebunnya. “Di kebun ini pohon durian rata-rata berumur 3—6 tahun,” ujar sarjana Manajemen Informatika itu.

Kontes

Selain eksplorasi ke lapak-lapak durian, Delis juga mencari durian bagus dari kontes durian. Sejak tiga tahun terakhir Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bangka Barat rutin menggelar kontes durian. “Kontes itu untuk menyeleksi durian unggul yang tersebar di Bangka Barat. Dari kontes itulah muncul durian unggul yang nantinya akan dikembangkan di Bangka Barat sebagai sentra durian utama di Bangka-Belitung,” kata Suhadi.

Tiga besar durian jawara kontes pada 2012 yakni si kambang, si datuk, dan bara api kini sudah menghuni kebun Delis. Delis membudidayakan durian unggul dari berbagai daerah di Bangka-Belitung itu secara intensif. Ia memberikan pupuk organik berupa campuran pupuk kandang dan limbah ikan setiap 6 bulan. Dosisnya 30 kg per pohon. Ia juga memberikan 300 g pupuk NPK berimbang untuk setiap pohon pascaberbuah.

Untuk pengairan, Delis membuat danau di samping kanan kebun yang berbatasan dengan area bekas tambang timah. Dari kebun koleksi itu beberapa jenis durian sudah mulai berbuah. Hasil panen biasanya langsung habis karena dipesan oleh para relasi Delis.

Menurut ahli durian dari Balai Penetian Tanaman Buah Tropika, Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, Panca Jarot Santoso SP MSi, upaya Delis membantu melestarikan durian unggul Bangka-Belitung. Dengan begitu jika suatu saat pohon induk mati, maka ada penerusnya. Saat berkunjung pada 2011 Panca Jarot menemukan pohon induk namlung petaling yang berumur 200 tahun meranggas sejak dua tahun terakhir sehingga tidak berbuah. “Kondisi pohon sulit diselamatkan. Batangnya keropos dan beberapa cabang primer sudah mati,” kata Jarot.

Wakil Bupati Bangka Barat, H. Sukirman, saat menikmati durian supertembaga
Wakil Bupati Bangka Barat, H. Sukirman, saat menikmati durian supertembaga

Beruntung pohon itu sudah diperbanyak Delis sehingga kelak kita masih dapat mencicip durian chumasi—sebutan lain namlung petaling. Menurut pengamat buah di Bogor, Jawa Barat, Dr Muhamad Reza Tirtawinata MS, upaya Delis mengebunkan durian unggul asal Bangka-Belitung patut dicontoh setiap pekebun durian.

“Pekebun memang sebaiknya mengebunkan durian unggul di sekitar lokasi kebun karena kondisi tanah dan iklimnya mendekati habitat pohon induk. Dengan begitu kualitas buah diharapkan sama atau mendekati pohon induk,” ujar Reza saat ditemui pada ajang pertemuan anggota komunitas Maniak Durian di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada akhir Juni 2013.

Reza menuturkan selama ini pekebun cenderung menanam durian unggul dari berbagai daerah, bahkan varietas dari luar negeri. “Padahal, dengan kondisi habitat berbeda, maka kualitas buah cenderung berbeda. Kecuali beberapa varietas memang teruji adaptif di berbagai daerah, seperti durian matahari,” ujar doktor alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) itu. Ingin mengikuti jejak Delis? (Imam Wiguna)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Terluka dan Tidak Bisa Terbang, Petugas Mengevakuasi Burung Rangkong

Trubus.id — Petugas Balai Besar KSDA Sumatra Utara, mengevakuasi burung rangkong yang ditemukan terluka di kawasan konservasi Suaka Margasatwa...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img