Warna daging buahnya jingga pekat dan tampak menggoda. Teksturnya lembut, creamy, dengan serat yang minim. Sebagian bijinya bahkan kempis sehingga porsi daging buah lebih tebal. Saat dicicip, rasa manis berpadu dengan sedikit sentuhan pahit yang khas, karakter yang mengingatkan pada durian duri hitam asal Malaysia.
Itulah durian nile, durian lokal asal Nagari Halaban, Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Keistimewaan durian itu membuat banyak pencinta durian memberikan penilaian positif setelah mencicipinya.
Salah satunya Fahmi Sugiarto, pengusaha asal Jakarta yang memiliki kampung halaman di Sumatera Barat. Fahmi yang juga memiliki kebun durian menilai durian nile mempunyai karakter rasa yang kuat dan berbeda dibandingkan varietas lain.
“Durian nile memiliki citarasa yang kuat dan karakter tersendiri. Dari segi kualitas, saya menilai durian ini mampu bersaing dengan durian impor,” ujar Fahmi.
Nama durian nile diambil dari nama seorang perempuan yang pertama kali menanam pohon induknya. Penamaan itu menjadi bentuk penghargaan terhadap masyarakat lokal yang menjaga dan merawat pohon tersebut hingga dikenal luas seperti saat ini.
Menurut Fahmi, durian nile memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari daging buah yang tebal, tekstur lembut, aroma kuat, hingga cita rasa yang khas. Karakter itulah yang kemudian mendorong pemulia sekaligus penemu durian nile, Ir. Awang Yahya, untuk mengembangkannya lebih lanjut.
Awang melakukan identifikasi, seleksi, dan perbanyakan tanaman hingga memenuhi persyaratan pendaftaran sebagai varietas tanaman yang dilindungi. Upaya itu juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota yang melihat potensi durian lokal sebagai komoditas unggulan daerah.
Dukungan tersebut membuahkan hasil. Pada 19 Agustus 2025, durian nile berhasil memperoleh Tanda Daftar Varietas Tanaman sebagai varietas lokal dengan Nomor 158/A.9/08/2025.
Meski demikian, perjalanan durian nile menuju varietas unggulan nasional masih memerlukan pembuktian lebih lanjut. Pekebun durian di Kota Padang, Topan Ardiansyah, menilai performa terbaik durian nile sejauh ini baru terbukti pada pohon induk terdaftar yang berada di Halaban.
Menurut Topan, belum tersedia cukup data mengenai performa tanaman hasil perbanyakan di berbagai daerah. Oleh karena itu, diperlukan pengamatan jangka panjang untuk memastikan karakter unggulnya dapat diwariskan secara konsisten dan mampu beradaptasi di berbagai lingkungan tumbuh.
“Jalan menuju predikat durian unggulan nasional masih panjang. Perlu waktu, kesabaran, dan pembuktian berlapis,” ujar Topan.
Ia menyarankan pengembangan durian nile dilakukan secara bertahap dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari lembaga penelitian, pekebun, pembibit, ahli nutrisi tanaman, hingga pemerhati durian dan penggiat media sosial. Kolaborasi itu penting untuk memastikan proses pengembangan berjalan sesuai arah yang diharapkan.
Topan berharap penanaman durian nile diperbanyak di daerah asalnya sehingga Limapuluh Kota dapat dikenal sebagai sentra utama durian nile. Sementara itu, pekebun di daerah lain disarankan melakukan uji tanam dalam skala terbatas sambil mengumpulkan data pertumbuhan dan kualitas buah.
Dalam lima hingga tujuh tahun mendatang, hasil pengamatan tersebut akan menjadi dasar untuk menilai apakah durian nile mampu mempertahankan kualitasnya di berbagai wilayah Indonesia.
Fahmi optimistis durian nile memiliki masa depan yang cerah. Dengan dukungan pembinaan, perlindungan varietas, serta promosi yang berkelanjutan, ia berharap durian asal Limapuluh Kota itu dapat berkembang lebih luas dan menembus pasar internasional.
“Durian nile diharapkan dapat menjadi harapan baru bagi masyarakat Limapuluh Kota dan Sumatera Barat, serta memberi kontribusi bagi penguatan posisi durian Indonesia di tingkat global,” tutur Fahmi.
