Friday, August 12, 2022

Rahasia dari Tambang Kapur

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Anwar Sanusi siap memetik buah califroniatahap II pada tanaman pepaya umur 13 bulan
Anwar Sanusi siap memetik buah califronia
tahap II pada tanaman pepaya umur 13 bulan

Anwar Sanusi sukses mengebunkan pepaya kalifornia secara organik.

Sebanyak 1.500 pepaya kalifornia yang tumbuh di lahan 1 ha di Desa Sadeng, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu tengah berbuah lebat. Pada setiap tanaman berumur 13 bulan itu bergelayut 20—25 buah pentil hingga buah siap petik. Penampilan buah di kebun milik Anwar Sanusi itu sehat dan mulus. Menurut Anwar itu adalah buah kedua.

Siapa sangka jika pepaya itu hasil budidaya secara organik. Menurut peneliti di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, Panca Jarot Santoso SP MS, mengebunkan pepaya organik perlu trik khusus dalam memupuk. Itu karena tanaman lambat menyerap pupuk organik. “Pepaya tumbuh genjah dan cepat merespons pupuk seperti buah naga. Perlu teknik khusus agar pupuk organik bisa segera diserap tanaman pada waktu yang tepat,” kata Jarot.

Untuk mempercepat penyerapan nutrisi, Awang—panggilan Anwar—menggunakan pupuk organik berupa kotoran ayam dan kotoran kambing fermentasi. Menurut Anwar tanaman langsung “melahap” pupuk hasil fermentasi karena telah terurai oleh mikroorganisme.

Bertahap

Anwar memberikan pupuk secara bertahap dengan dosis terus meningkat seiring bertambahnya umur tanaman. Sebagai pupuk dasar, ia memberi 5 kg kotoran ayam yang dicampur tanah bekas galian lubang tanam ukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm. Setelah itu biarkan hingga 1—2 hari. Awang lalu menanam bibit pepaya kalifornia umur 1,5 bulan setelah semai. Berikutnya ia memberikan pupuk organik susulan berupa 1 kg kotoran ayam pada umur 3 hari dan 2 kg pada umur 15 hari. Ia memberikan pupuk kotoran ayam pada awal pertumbuhan karena pupuk itu mengandung nitrogen tinggi. Saat tanaman berumur 45 hari, 60 hari, dan 80 hari setelah tanam, Awang memberikan pupuk kotoran kambing yang mengandung fosfor dan kalium tinggi. Dosisnya masing-masing 20 kg, 30 kg, dan 40 kg per tanaman.

Produksi pepaya kalifornia organik tak kalah dengan kebun pepaya konvensional. Setiap tanaman umumnya menghasilkan 20—30 buah pada buah panen pertama dan 20 buah pada buah pada panen ke-2
Produksi pepaya kalifornia organik tak kalah dengan kebun pepaya konvensional. Setiap tanaman umumnya menghasilkan 20—30 buah pada buah panen pertama dan 20 buah pada buah pada panen ke-2

Pada umur 6—7 bulan, Awang panen perdana buah pepaya kalifornia. “Bila dalam 1 tanaman terdapat 20 buah, maka sejak panen pertama dapat dipetik 1 buah setiap minggu selama 20 minggu,” ujarnya. Saat tersisa 1—2 buah per tanaman, Awang kembali memberi pupuk kotoran kambing. Dosisnya 40—50 kg per tanaman. Pada umur 13 bulan Awang panen kalifornia tahap kedua. “Lazimnya masa berbuah kedua berjumlah 20 buah sehingga kembali dapat dipetik rutin setiap minggu selama  20 minggu,” kata ayah 4 anak itu.

Menurut Jarot kesuksesan Awang membudidayakan pepaya secara organik patut diacungi jempol. “Secara teori budidaya pepaya organik bisa, tapi saya belum pernah melihat karena sulit mengendalikan musuh-musuh pepaya,” kata Panca. Pada 2008—2009 membudidayakan pepaya secara organik dianggap mustahil. Ketika itu kebun pepaya di seantero Bogor luluh lantak oleh serangan cendawan Colletotricum sp, tungau Tetranycus sp, trips Thrips parvispinus, dan kutu putih.

Menurut kepala Klinik Tanaman, Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB, Dr Suryo Wiyono, ketika itu hama dan penyakit menyerang hampir bersamaan sehingga temuan di lapangan berbeda-beda. Ada yang musnah karena hama dan ada pula yang kena penyakit.

Untuk mengatasi ancaman hama dan penyakit, Awang menggunakan kapur sebagai salah satu bahan pestisida alami. Ide itu ia peroleh setelah mengamati 2 tanaman pepaya bangkok tumbuh produktif di Kecamatan Ciampea, Bogor, Jawa Barat. Padahal, kebun pepaya yang tumbuh di sekitarnya dan di pekarangan rumah penduduk rusak berat. Menurut pengamatan Awang kedua tanaman pepaya itu mampu bertahan hidup karena tumbuh di tanah bekas bakaran tambang kapur.

Awang meramu 5 kg kapur CaO dengan 4 potong umbi gadung Dioscorea hispida, 250 g umbi bawang putih Allium sativum, dan 250 g umbi bawang merah Allium cepa. Informasi tentang ketiga bahan tanaman itu Awang peroleh dari pelatihan di Serikat Petani Indonesia. Ia melarutkan kapur dalam 10 liter air, lalu endapkan 1 malam. Sementara umbi gadung, bawang putih, dan bawang merah diparut, kemudian campur dengan segelas air, lalu peras.

Awang lalu mencampur air perasan itu dengan larutan kapur yang sudah diendapkan. Awang juga menambahkan setengah gelas urine kelinci ke dalam ramuan itu. Masukkan larutan ke dalam tangki semprot berkapasitas 16 liter, lalu tambahkan air hingga tangki penuh. Awang menyemprotkan ramuan itu pada tanaman bila ada gejala serangan hama dan penyakit. Misal, daun muda terlihat mengeriting karena terserang kutu putih. Satu tangki semprot cukup untuk 100 tanaman.

Ia juga menyemprotkan ramuan 10 hari sekali sejak muncul buah untuk pencegahan. Ramuan itu terbukti ampuh mencegah serangan hama dan penyakit. Pada 2010 Awang sukses memanen pepaya bangkok organik di Sukabumi dan Bogor masing-masing berpopulasi 4.000 tanaman dan 600 tanaman.

Drum plastik volume 200 l di setiap barisan pepaya untuk mempermudah penyiraman dan pemupukan
Drum plastik volume 200 l di setiap barisan pepaya untuk mempermudah penyiraman dan pemupukan

Ramuan mikrob

Sejak itu, menurut kepala Pusdiklat Pertanian Berkelanjutan Serikat Petani Indonesia, Syahroni SP, teknik berkebun ala Awang banyak diterapkan pekebun pepaya kalifornia di sentra pepaya di Bogor seperti Ciampea, Leuwiliang, dan Leuwisadeng. “Sekarang ada 50 pekebun dengan luasan beragam yang menggunakan kapur untuk bahan pestisida alami,” kata Syahroni.

Acu Arsudin yang mengebunkan pepaya kalifornia di lahan 2,5 ha mengadopsi inovasi itu. Pekebun di Desa Sadeng itu mengombinasikan ramuan kapur dengan biopestisida yang mengandung 2 mikrob Basillus pantotkenticus dan Trichoderma lactae hasil riset peneliti di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Dr Ir Mesak Tombe. Kedua mikroorganisme itu pengurai limbah organik yang juga bersifat biopestisida. Kedua mikrob itu melepas antibiotik yang mencegah seragan bakteri dan cendawan.

Menurut Suryo Wiyono, kapur sebetulnya sudah lazim digunakan pekebun buah di tanahair untuk mencegah hama dan penyakit. Contohnya kapur untuk bubur burdo dan bubur kalifornia yang digunakan pekebun jeruk untuk mengatasi penyakit blendok oleh cendawan Botryodiplodia theobromae dan busuk batang karena cendawan Phytophthora spp. Pada bubur burdo kapur dicampur belerang dan tawas, sedangkan pada bubur kalifornia kapur dicampur belerang. “Kapur bersifat fungisida yang juga dibenci hama,” kata Suryo. (Ridha YK/Peliput: Kartika Restu Susilo)

Previous articleAntikutu Beras
Next articleSelamatkan 43 Durian Top
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img