Trubus.id— Ibarat kanker, sektor perkebunan karet di Provinsi Jambi memasuki stadium empat. Setiap hari, ditemukan warga yang terus mengonversi lahan karet menjadi komoditas lain. Bahkan pada 2023 para petani setempat dibuat geger dengan tutupnya dua pabrik yang puluhan tahun beroperasi.
Dua pabrik karet itu yakni PT Angkasa Raya Jambi dan PT Batanghari. Perusahaan terpaksa tutup lantaran harga tak kunjung membaik ditambah keputusan petani yang enggan memanen karet. Hal itu membuat bahan baku karet sulit didapat.
Celakanya kondisi itu tak hanya di Provinsi Jambi. Di tingkat nasional 45 perusahaan pabrik pengolahan karet resmi tutup dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Dari jumlah total sebelumnya 152 pabrik, kini menyisakan 107 perusahaan saja.
Harapan kembalinya fase kejayaan karet yang pernah mencapai harga Rp 28.900/kg seperti pada Juli 2008 kini hanya angan-angan. Sederet upaya yang dilakukan pemerintah daerah dan pusat juga nyaris tak memberikan peta jalan apa pun pada sektor perkebunan karet di Provinsi Jambi.
Tentu saja semua kondisi itu membuat nasib 251.403 petani Hevea brasiliensis di Provinsi Jambi terombang-ambing. Menurut Dosen Pertanian Berkelanjutan ITS NU Jambi, Angga Eko Emzar, beberapa petani bahkan langsung mengalihfungsikan kebun dengan menanam komoditas lain seperti sawit, kopi, tebu, sayur-sayuran, dan pinang.
“Ada pula petani yang mengalihfungsikan kebun karet dengan metode sisip. Mereka menyisipkan penanaman komoditas lain di sela-sela karet hingga tanaman itu menghasilkan. Langkah selanjutnya tentu saja menebang semua pohon karet,” ujar Angga.
Angga menuturkan alasan kuat yang melatarbelakangi alih fungsi lahan karet yakni harga jual dan pendapatan yang lebih menjanjikan bagi petani. Para petani juga ada yang menganggurkan kebun karet miliknya.
Mereka beralih profesi untuk bekerja di sektor lain agar dapat menabung. Setelah uang dikumpulkan cukup, petani mengonversikan kebun karet dengan menanam komoditas lain.
“Beragam pilihan itu tentu saja mengancam masa depan karet kita, terutama di Jambi,” tutur Angga.
