Trubus.id— Seorang ibu terus menangis saat teringat almarhum anak dan sang suami. Keduanya menjadi korban fenomena likuifikasi saat gempa mengguncang Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada 2018 silam.
Pascagempa, berbagai bantuan materi seperti kebutuhan pokok bahan pangan, pelatihan, hingga modal usaha telah ia terima. Sayangnya, bantuan dalam bentuk layanan kesehatan mental tidak ia dapatkan.
“Itu terjadi pada ibu-ibu yang saya temui di Kota Palu. Dia mendapat bantuan berupa materi, namun tidak mendapatkan pendampingan mental. Ibarat orang sakit patah tulang, belum dioperasi tapi sudah dikasih tongkat,” kata pendiri Komunitas Sejenak Hening, I Putu Ardika Yana M.Psi., kepada Trubus.id.
Hal serupa juga Ardi temukan di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Ardi menemui salah seorang warga yang telah membangun bertahun-tahun rumahnya, namun akibat gempa dalam waktu 15 detik rumah itu hancur.
Pascagempa, warga tersebut juga kerap cemas dan takut jika kejadian serupa menimpanya kembali. Menurut Ardi, untuk mengetahui kondisi kesehatan mental korban pascagempa, perlu ada pendekatan persuasif. Terdapat tiga kategori gangguan kesehatan mental, yaitu ringan, sedang, dan berat.
“Saat masih dalam kategori ringan atau sedang, itu masih terlihat baik-baik saja. Tetapi sebenarnya, saat bekerja mereka itu kehilangan makna, tidak mampu berpikir realistis, sehingga meskipun diberi bantuan usaha tetap berpotensi gagal,” jelas alumnus Magister Psikologi Profesi, Universitas Gadjah Mada, itu.
Belum adanya layanan kesehatan mental bagi korban bencana, menjadi alasan Komunitas Sejenak Hening membuat program turun ke daerah pascabencana membantu pemulihan kesehatan mental para korban.
Membentuk Kader Sehat Jiwa
Ada beberapa daerah yang menjadi wilayah intervensi dari program pendampingan pascabencana oleh Sejenak Hening. Diantaranya di Kelurahan Balaroa (Kecamatan Palu Barat), dan Kelurahan Petobo (Kecamatan Palu Selatan), Kota Palu.
Sementara, untuk Kabupaten Sigi, wilayah intervensi meliputi empat desa, yakni Desa Soulowe, Desa Sidera, Desa Karawanan, dan Desa Potoya. Sejenak Hening mulai menempatkan tenaga psikolog ke puskesmas yang wilayah kerjanya di daerah-daerah tersebut.

Penempatan tenaga psikolog bertujuan untuk membuka layanan konseling pada masayarakat. Namun, keterbatasan jumlah tenaga psikolog menjadi salah satu hambatan. Sehingga setiap masyarakat hanya dibatasi dua kali konsultasi.
“Jika selama dua kali konsultasi belum bisa sembuh, mereka (masyarakat) boleh menambah untuk konsultasi kembali. Masa pemulihan mental setiap orang berbeda. Tergantung keadaan yang dialami oleh para korban,” jelas pria berusia 34 tahun, itu.
Untuk mengatasi keterbatasan tenaga psikolog, Sejenak Hening mulai membentuk Kader Sehat Jiwa. Para kader ini berasal dari masyarakat setempat. Peran kader adalah melakukan konseling terhadap masyarakat dengan keluhan masalah psikologis ringan.
Kader akan berkonsultasi atau merujuk ke psikolog saat kasus yang ditangani termasuk kategori sedang dan berat. Sebelum melakukan konseling, terlebih dahulu tim Sejenak Hening memberi pelatihan dasar konseling pada para kader.
Pelatihan meliputi dasar-dasar konseling, seperti Psyichological First Aid (PFA) atau pertolongan psikologi awal.
Perjuangkan Akses Kesehatan Mental
Sejenak Hening bersama kader rutin melakukan penyuluhan kesehatan mental ke daerah intervensi. Tujuannya memberikan pemahaman kepada masyarakat seputar dampak psikologis akibat bencana dan langkah tepat mengatasinya.
Menurut Ardi, masyarakat sangat perlu menerima pemahaman seputar kesehatan mental. Sebab, pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental masih minim.
Berdasarkan hasil riset kesehatan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI pada 2018, Sulawesi Tengah (Sulteng) menempati peringkat pertama di Indonesia soal gangguan mental emosional bagi penduduk di atas 15 tahun.
Oleh karena itu, sejatinya pengetahuan dan kesadaran tentang kesehatan mental bukan hanya untuk masyarakat dewasa namun juga remaja.
Remaja dengan mental yang sehat akan tumbuh dan bergaul dengan lebih baik di lingkungan sosialnya. Terutama menjadi calon generasi penerus yang lebih tangguh ke depan.
“Penyuluhan remaja, kami gelar di sekolah-sekolah atau posyandu remaja,” kata Ardi, .

Selain penanganan dan pencegahan, Sejenak Hening turut berupaya melakukan kerja-kerja advokasi. Sejenak Hening kerap berdiskusi bersama stakeholder pemerintah daerah setempat untuk membahas akses layanan kesehatan mental bagi masyarakat.
Seperti peribahasa “gayung bersambut”, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sigi menyambut baik beberapa usulan dari Sejenak Hening.
Beberapa bentuk kesepakatan dukungan Pemda Sigi antara lain, bersedia menyiapkan anggaran untuk Psikolog Puskesmas, mendukung penyusunan Peraturan Bupati (Perbup) tentang kesehatan mental dan alokasi dana desa terkait dengan aktivitas Kader Sehat Jiwa.
Ardi dan rekan dari Sejenak Hening meyakini dengan dukungan Pemda Sigi, masyarakat bisa mengenal dan mengakses layanan kesehatan mental dengan mudah.
Sekilas Komunitas Sejenak Hening
Ardi mendirikan Sejenak Hening sejak 15 Oktober 2016. Rata-rata anggota yang tergabung dalam Sejenak Hening merupakan teman Ardi yang berprofesi sebagai psikolog.
Mereka berhimpun dengan tujuan agar bisa membantu memperjuangkan akses layanan kesehatan masyarakat.
“Harapan kami agar tidak ada lagi masyarakat yang kesulitan mengakses layanan kesehatan mental. Karena kesehatan mental adalah tanggungjawab serta hak semua orang,” tuturnya.
Melalui filosofi penamaan Sejenak Hening, Ardi ingin menyampaikan pesan jika dalam hidup ini tidak perlu berlomba. Seseorang hanya perlu diam sejenak untuk bisa menyadari dan menikmati kehidupan yang indah tanpa gangguan mental.
Berkat program berjudul “Membangun Ketangguhan Kesehatan Mental Masyarakat Pascagempa Bumi, Likuifikasi, dan Tsunami di Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah,” itu Sejenak Hening mendapatkan penghargaan SATU Indonesia Awards (SIA) bidang Kesehatan pada 2021.
SATU Indonesia Awards merupakan salah satu bentuk apresiasi Astra terhadap pemuda inspiratif. Penghargaan SIA diberikan pada kelompok maupun individu yang menginspirasi untuk orang lain. Ada lima bidang kategori, antara lain Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, dan Teknologi.(Trubus/Mohammad Iqbal Shukri)
