Trubus.id—Pasar produk agroindustri fluktuatif, sangat tergantung kondisi pasokan dan permintaan. Industri agro beroperasi sejak manusia mulai menetap, meninggalkan pola berburu dan meramu. Industri itu terus beroperasi selama ada kehidupan manusia. Semua orang perlu makan, meski saat pandemi seperti sekarang.
Ir. Soekam Parwadi, Direktur Pengembangan Agribisnis Pasar Komoditas Nasional menjelaskan pasar produk agroindustri. Pelaku pasar komoditas apa pun, termasuk produk agro, harus memegang tiga prinsip dasar yaitu jujur, menepati janji, dan tidak menyulitkan pembeli.
Minimnya pelaku agribisnis yang menerapkan ketiga prinsip dasar itu memicu fluktuasi harga yang menjadi siklus tahunan. Penjual maupun produsen komoditas pertanian seharusnya mengamalkan ketiga prinsip itu dalam berbisnis.
Pertanian atau agroindustri menjadi salah satu sektor yang menampung limpahan pekerja dari sektor lain. Meski demikian, pandemi mengubah hubungan bahan pangan yang merupakan salah satu produk agroindustri dengan konsumen. Berkurangnya pendapatan memaksa orang berhemat.
Pelaku agribisnis harus menyesuaikan diri dengan fenomena penurunan daya beli tersebut. Pelaku agribisnis juga wajib mempelajari kesukaan alias preferensi konsumen. Produksi mesti menghasilkan komoditas sesuai keinginan pasar. Ada contoh menarik dari salah satu daerah di Jawa Barat.
Seorang produsen hortikultura, dengan bimbingan pakar dan praktisi pertanian, memproduksi sayuran mutu premium yang bobotnya 2 kg per satuan. Saat panen kurang laku karena pasar menyukai sayuran berbobot 1 kg per satuan. Itu gambaran pentingnya memahami kesukaan konsumen terbanyak.
Ceruk atau kapasitas pasar menjadi komponen lain yang harus dipahami calon pelaku agroindustri. Ceruk menggambarkan tingkat peluang. Tempat paling tepat mempelajari ceruk itu adalah pasar induk. Di pasar induk calon pelaku agribisnis bisa mempelajari kuantitas, kualitas, tingkat harga, atau kontinuitas pasokan.
Pemahaman itu menjadi salah satu modal memenangkan persaingan. Produk agroindustri, terutama sembako, menjadi jalan hidup banyak orang. Peluang untuk pelaku baru selalu terbuka selama ia memahami pasar.
Beberapa hal yang wajib dipenuhi produk baru antara lain kontinuitas produk. Barang berkualitas rendah bisa mendapat pasar kalau ajek tersedia. Sebaliknya produk berkualitas yang tidak selalu ada sulit meraih pasar. Prioritas selanjutnya merek atau brand sehingga pembeli mudah membedakan produk baru itu dengan yang lain.
Harga menjadi prioritas berikutnya. Sedikit lebih murah, selalu ada, dan kualitasnya minimal setara dengan produk yang duluan ada. Niscaya produk seperti itu cepat mendapat pasar.
Cara memangkas harga macam-macam antara lain dengan diskon, memberikan hadiah langsung untuk konsumen yang mengembalikan sejumlah bungkus kosong, atau memberikan garansi kualitas produk. Setelah berhasil mendapat pasar pun pelaku baru harus rajin berinovasi untuk mempertahankan keunggulan.
Hal-hal itu mesti dipertimbangkan sebelum pelaku mulai memproduksi. Pemahaman berbudidaya, penguasaan teknologi, maupun sarana produksi plus pekerja yang andal menjadi modal vital pelaku baru.
Titik pasok terbaik bagi pelaku baru adalah pasar induk karena di sana meningkatkan kapasitas lebih mudah. Kalau memilih jalur eceran kelas rumah tangga, persaingan banyak dan penambahan volume sulit. Pasar komoditas nasional (Paskomnas) kini banyak membimbing produsen baru, menyediakan lapak, serta petugas pendamping.
Paskomnas melakukan hal itu demi membuka peluang bagi pelaku baru agribisnis. Beberapa waktu lalu petani di beberapa daerah di Jawa Timur membentuk asosiasi untuk mengirim langsung produk mereka ke pasar induk yang dikelola Paskomnas.
Selama ini mereka menjual kepada pengepul dengan harga kurang bersaing. Kalau langsung mengirim ke pasar induk, mereka mendapat harga lebih baik.
