Trubus.id—Tanaman yakon berupa perdu setinggi 1,8 m. Daun mirip bunga matahari Heliantus annuus. Area berketinggian di atas 1.000 m dpl cocok untuk penanaman yakon.
Namun, di Jepang dan Brazil yakon tetap tumbuh baik di ketinggian 600 m dpl. Ia diperbanyak dengan kultur jaringan atau umbi bagian atas yang berukuran lebih kecil ketimbang umbi bagian bawah.
Di sentra Santa Catalina, Ekuador, produktivitas yakon mencapai 74 ton per ha. Malahan pekebun di Cajamarca, Peru, memanen 100 ton untuk luasan sama.
Bentuk umbi mirip singkong. Panjang 25 cm dan berdiameter 10 cm. Selain umbi, daun dan batang juga dimanfaatkan. Setelah kering—dengan kadar air 10%—berfaedah sebagai teh.
Berdasarkan Agriultural Research Center Shikokui, Jepang beberapa nutrisi dalam 100 g yakon yaitu serat makanan 2,6 mg, oligo fruktosa 7,3 g, glukosa 13,8 g, fosfat 34 mg, kalsium 12 mg, dan kalium 344 mg. Kandungan lain seperti polifenol 203 mg, beta karoten 130 mg, vitamin B1 0,07 mg, vitamin B2 0,31 mg, dan vitamin C 5 mg.
Bagi masyarakat Peru yakon bukan barang baru. Sejak 1.600 an tanaman itu sudah dibudidayakan. Kata yakon diadopsi dari bahasa Quechua: yacu yang berarti air. Boleh jadi lantaran kandungan air relatif dominan.
Dari Peru—khususnya Pegunungan Andes—yakon menyebar ke Eropa. Itu karena tentara Fransisco Pizarro dari Spanyol yang menaklukkan bangsa Inca pada 1532. Masyarakat Prancis mengenalnya sebagai poire de terre; Inggris, yacon strawberry.
Di setiap negara yakon mempunyai nama berbeda. Penduduk Ekuador menyebutnya jicama atau chicama. Sementara di Indonesia Ir. Agus Haryo Sudarmodjo mempopulerkan sebagai bengkuang jepang.
Mengapa bukan pir jepang? Sebab, yang diambil berupa umbi—mirip bengkuang. Setelah dikembangkan di Eropa, yakon menyebar ke North Island, Selandia Baru. Di negeri itu yakon dijajakan di pasar swalayan sebagai sayuran eksklusif.
Anehnya, di negeri asalnya ia tidak dijajakan bersama sayuran umbi lain seperti kentang, oca, ulluco, dan mashua. Namun, dipajang sebagai buah bersama chirimoya, apel, dan alpukat.
Perjalanan berlanjut ke Jepang dan Korea hingga akhirnya dibudidayakan di Yogyakarta. Selain di konsumsi segar, yakon juga lezat sebagai campuran salad. Olahan lain dibikin jus yang ngetop dengan nama chancaca. Umbi itu salah satu menu wajib saat perayaan festival Corpus Christi di Peru atau festival Hari Kematian di Ekuador.
