Friday, January 16, 2026

Gerakan Pemuda Tani Indonesia (Gempita) Perkuat Kapasitas Petani Milenial : Optimasi Lahan Pertanian Provinsi Kalimantan Tengah

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Gerakan Pemuda Tani Indonesia (Gempita) bekerjasama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah gelar Rembuk Tani pada Sabtu, 23 April 2024.  Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gunung Mas, Ariyantoni dalam laporannya  menyampaikan berbagai macam potensi lahan pertanian di Gunung Mas.

Selain itu ia juga menyampaikan perihal kurangnya minat dan keterlibatan generasi millenial dan gen z dalam mengolah lahan yang berpotensi menjadi lahan produktif. “Harapannya dengan adanya Gempita mampu mengembalikan kecintaan generasi milenial terhadap warisan leluhurnya yakni lahan yang sangat luas di Kalimantan bisa produktif,” tutur Ariyantoni.

Koordinator Nasional Gempita M. Yasir Kaisuku juga menekankan peran bonus demografi di Indonesia. “Bapak menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan keterlibatan petani milenial dan gen z di dunia pertanian.  Sangat penting sebagai bentuk regenerasi petani, dan bonus demografi ini harus kita gunakan sebaik mungkin dengan keterlibatan usia produktif kita untuk memajukan dunia pertanian,” tutur Yasir.

Lebih lanjut ia menuturkan, program optimasi lahan pertanian oleh Mentan Amran yang dilakukan di Provinsi Kalimantan Tengah memberikan kesempatan besar kepada para petani milenial dan gen z untuk terlibat.  

“Program ini full mekanisasi dan menjadi kawasan pertanian modern, kami mengajak semua pihak baik itu organisasi mahasiswa, ormas pemuda, untuk ikut terlibat dengan tetap berkoordinasi dengan dinas pertanian provinsi dan dinas pertanian kabupaten, Babinsa dan penyuluh,” tutur Yasir.

Pada acara itu Direktorat Jenderal Perkebunan, sebagai penanggung jawab optimasi lahan rawa di Provinsi Kalimantan Tengah, membacakan sambutan Dirjen Perkebunan. Optimasi lahan rawa di Provinsi Kalimantan Tengah sebanyak 81.000 hektare (ha) yang sedang dalam proses pelaksanaan.

Tentu dalam kegiatan itu membutuhkan ribuan tenaga kerj. Memberikan peluang besar bagi petani milenial untuk ikut terlibat. Baik dalam pengolahan tanah maupun penggunaan alat dan mesin pertanian modern.

“Besar harapan kami kegiatan Rembuk Tani ini sebagai upaya akselerasi dan kolaborasi untuk bersama-sama bersinergi dengan Gempita dalam peningkatan produksi sektor pertanian,” ujar Wakil Bupati Gunung Mas, Efrensia L.P Umbing, saat membacakan sambutan tertulis Bupati Jaya S. Monong.

Selain itu, ia berharap Rembuk Tani itu bisa meningkatkan akselerasi dan kolaborasi dengan menggalang kelompok tani khususnya petani milenial untuk terjun di usaha sektor pertanian dengan memanfaatkan potensi yang ada.

“Salah satu potensi yang kita miliki di Kabupaten Gunung Mas adalah lahan yang cukup luas yang masih dapat digunakan untuk menambah produksi pangan, khususnya jagung adalah lahan kering yang belum dimanfaatkan secara optimal,” ujar Efrensia saat membacakan sambutan tertulis Bupati Jaya S. Monong.

Saat acara Rembuk Tani juga ada pemberian bantuan berupa 3 mesin pompa kepada tiga ketua kelompok tani. Penyerahan oleh perwakilan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementan RI.

Sebagai penutup kegiatan, semua peserta acara Rembuk Tani melanjutkan dengan Diskusi Panel Tanya Jawab antara kelompok tani Dan KUB Gempita serta Kapusluh BPPSDMP Dan BSIP Provinsi Kalimantan serta Dinas Pertanian.

Acara itu dihadiri Ketua Koordinator Nasional Gempita M. Yasir Kaisusku, Koordinator Gempita Kalteng Reyri Kaswanda, S.T.,  dan Wakil Bupati Gunung Mas  Efrensia L.P Umbing. Direktorat Jenderal Perkebunan Kementan RI sebagai penanggung jawab optimasi lahan di Provinsi Kalimantan Tengah,  dan BSIP kepala Pusat PKH Dr. drh Agus Susanto.

Turut hadir-Kepala Pusat Penyuluh BPPSDMP, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian BPPSDMP, Kepala Dinas Pertanian Gunungmas, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah, Perwakilan Mahasiswa, Pengurus KUB, serta Kelompok Tani Se-Kabupaten Gunung Mas.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img