Trubus.id—Lazimnya tanaman sukulen menghendaki tempat beriklim kering dan bersuhu tinggi. Namun Aldy Ridwan di Lembang, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, menanam di lokasi berketinggian tempat 1.400 m di atas permukaan laut (m dpl) itu.
Aldy menanam agave, haworthia, kaktus, sansevieria, pachypodium, dan encephalartos. Meski begitu taman kering itu begitu terawat. Semua tanaman sehat, daun kokoh, dan berwarna cerah. Pantas saja taman mungil milik Aldy itu mencuri perhatian.
Meski Lembang kerap berkabut dan diguyur hujan, nyaris tanaman Aldy, tak terlihat busuk. Yang tak kalah istimewa yakni harga tanaman penghuni taman berukuran 10 m x 1,5 m itu yang mencapai ratusan juta rupiah.
Taman milik Aldy itu berisi kaktus golden barrel (Echinocactus grusonii), sansevieria hibrida, sansevieria dragon compacta, Agave titanota, Agave victoria, dan Haworthia fasciata. Ukuran tanaman relatif besar seperti kaktus golden barrel yang berdiameter hampir 40 cm.
Kehadira Encephalartos horridus, Encephalartos lehmannii, dan Pachypodium lamirei setinggi 100 cm juga tak kalah menarik. Aldy memperoleh E. horridus dari kolega seharga Rp 15 juta pada 2020. Ia juga mengoleksi Pachypodium horombense seharga Rp 150.000 saat tinggi tanaman masih 8 cm.
Total jenderal Aldy mengeluarkan uang senilai Rp100 juta untuk mendatangkan semua tanaman itu. Ia memilih tanaman kaktus dan sukulen lantaran memiliki daya hidup tinggi.
Kuncinya yakni penanaman di dalam rumah tanam dan sistem aerasi yang baik. Tanaman khas taman kering enggan hidup di media tanam lembap.
“Penggunaan media yang kurang tepat memicu cendawan penyebab busuk akar dan batang,” kata pemilik nurseri Istana Bunga Kaktus itu.
Aldy menyusun lempeng bebatuan alam di sisi kanan dan kiri taman. Tinggi susunan batu 0,8 m di atas permukaan lantai rumah tanam. Pemilik taman lazimnya menanam tanaman langsung di tanah.
Ia membuat lubang tanam langsung di tanah, Aldy justru menimbun dahulu area tanam dengan bebatuan dan media tanam. Batu menjadi pilihan lantaran memudahkan aerasi. Dengan cara itu ia bisa menikmati keindahan tanaman tanpa harus menunduk.
Tanaman khas iklim gurun itu memiliki detail bentuk yang unik. “Cocok dinikmati dengan jarak pandang yang dekat,” ujar alumnus Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung, itu.
Di area penanaman, ia mengisi dahulu dengan bongkahan bebatuan besar dan kerikil. Selanjutnya ia menaburkan media tanam berupa sekam bakar, pasir malang, dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:2:1.
Aldy mengganti media tanam sekali setahun. Agar tanaman tumbuh subur, Aldy melarutkan 17 ml pupuk yang mengandung vitamin B1 ke dalam 51 liter air. Larutan itu cukup untuk kebutuhan taman berukuran 10 m x 1,5 m. Frekuensi pemupukan sekali sebulan.
Aldy juga rutin menyiram tanaman sekali sepekan saat pagi. Untuk mengatasi hama, Aldy menyemprotkan insektisida berbahan aktif sipermethrin dengan konsentrasi 2 ml per liter air. Saksikan juga video Inspirasi Taman Kering Minim Perawatan.
