Friday, January 16, 2026

Cara Kemas  Hoya untuk Ekspor, Tanaman Segar Hingga 11 Hari Perjalanan

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Sri Susanti rajin memperbanyak tanaman hoya setiap pekan. Pebisnis dan penangkar hoya di Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah, itu memperbanyak tanaman menggunakan setek daun. Total jenderal Santi—sapaan akrab Sri Susanti—menghasilkan lebih dari 100 setek hoya setiap pekan.

Ia lebih banyak menyetek hoya berdaun perak lantaran permintaan pasar cukup tinggi, terutama konsumen mancanegara. Santi memperoleh permintaan dari sejumlah wisatawan mancanegara yang datang ke tanah air pada 2023.

Konsumen itu datang dari berasal dari Rusia, Polandia, Kanada, dan Korea. Setiap wisatawan paling banyak membeli 200 tanaman. Santi menjual hoya untuk pasar ekspor seharga Rp233.925—Rp2,3 juta per tanaman.

Total jenderal Santi menjual 1.000 hoya kepada konsumen mancanegara yang datang ke nurseri sepanjang 2023. Ia juga melayani permintaan pelanggan mancanegara yang menghubungi via sosial media.

Namun jumlah tanaman tidak terlalu banyak. Santi mengirim sekitar 20 tanaman ke Singapura, Thailand, dan Amerika Serikat setiap 6 bulan.

“Pengiriman ke luar negeri membutuhkan waktu 2 sampai 11 hari. Pengiriman terlama ke Korea karena menghabiskan waktu 11 hari,” kata Santi.

Ia menyiapkan pengemasan sesuai standar ekspor (lihat ilustrasi Kemas Hoya Ekspor). Santi menggunakan jasa eksportir di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, untuk memudahkan perizinan ekspor.

Ilustrasi kemas hoya ekspor. (Novi Riadi)

Selain pasar mancanegara, Santi juga menjual tanaman di pasar lokal. Jumlah penjualan pasar lokal tergolong lebih stabil. Pembeli merupakan kolektor dan pebisnis tanaman hias. Setiap bulan Santi menjual 200 tanaman seharga Rp50.000—Rp300.000 per tanaman.

Ia mempertahankan media tanam untuk pengiriman di dalam negeri. Santi menggunakan media tanam campuran berupa sphagnum moss, serbuk sabut kelapa, dan sekam bakar dengan perbandingan sama. Selanjutnya ia membungkus dengan plastik dan kertas pada bagian akar.

Baca selengkapnya pada Majalah Edisi 654 Mei 2024. Dapatkan Majalah Trubus Edisi 654 Mei 2024 di Trubus Online Shop atau hubungi WhatsApp admin pemasaran Majalah Trubus.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img