Trubus.id—Filsya Khoirina Fildzah, S.Kep., Ners (Ns) sosok perempuan tangguh yang merintis bisnis olahan bayam sejak 2016. Perempuan asal Desa Sukamenak, Kecamatan Sukaresik, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, itu mengolah bayam menjadi keripik.
Kini Filsya sukses menjual sekitar 2.000 kemasan olahan keripik bayam dengan merek Filsyakhoi sehingga meraih omzet Rp50 juta saban bulan. Baca juga Bisnis Olahan Bayam.
Ia menuturkan semula modal memulai usaha olahan bayam itu hanya Rp1 juta dari insentif beasiswa selama menempuh pendidikan sarjana. Lantas, ia membeli bayam di petani sekitar rumah.
Dorongan memberdayakan orang-orang sekitar merupakan motivasi Filsya menekuni dan meneruskan usaha olahan bayam.
“Di daerah tempat tinggal saya masih sedikit orang yang bisa mengenyam perguruan tinggi. Saya melihat ada peluang untuk bisa berdampak bagi masyarakat sekitar. Kebetulan yang banyak ditanam bayam, lalu saya punya ide membuat crackers dan ternyata dapat diterima dengan baik,” ujar ibu satu anak itu.
Kesuksesan Filsya tidak terjadi semalaman. Filsya membutuhkan waktu sekitar 8 tahun untuk menghasilkan keripik bayam berkualitas baik. Berulang kali ia menjalani trial and error sehingga berhasil menyajikan olahan bayam dengan gizi yang baik, kaya serat, dan rendah lemak.
“Sebagai orang kesehatan, saya berupaya menghasilkan camilan sehat,” ujar kandidat Top 30 Millenials Scientist for Nutrition (Mission) from SNV Netherlands 2020 itu.

Ia menuturkan terdapat beberapa tahap pengolahan untuk mempertahankan serat dan supaya kandungan lemak tidak terlalu tinggi. Menurut Filsya tantangan bisnis camilan sayur lainnya yakni membutuhkan pengelolaan yang intens.
Filsya sempat dilema untuk memilih jalan mengembangkan bisnis atau memilih bekerja sebagai perawat sesuai latar belakang pendidikan. Ia pernah mengerjakan kedua pekerjaan berbarengan dan hasilnya kurang baik. Akhirnya Filsya memutuskan fokus mengembangkan bisnis.
Kemahiran Filsya berbisnis sebenarnya tak lepas dari ketekunan menjalin relasi dari beragam acara dan kompetisi bisnis. Ia menuturkan bahkan kebanyakan suntikan modal berasal dari investor karena keberhasilan Filsya meraih juara pada ajang perlombaan bisnis.
Usaha olahan bayam itu juga didorong dengan ketekunan Filsya. Semenjak di bangku perkuliahan, ia menghabiskan akhir pekan dengan terlibat aktif dalam sekolah bisnis di dalam atau luar kampus.
Pebisnis camilan rumput laut fenomenal asal Thailand, Top Ittipad, merupakan tokoh yang sangat menginspirasi Filsya untuk terus berinovasi dalam bisnis makanan ringan.
“Saya terinspirasi bagaimana ia terus berinovasi menghasilkan nori yang crunchy dan bisa meraih banyak investasi,” kata perempuan yang meraih penghargaan UMKM Juara Provinsi Jawa Barat 2020 itu.
Selain pasar camilan, Filsya tengah meriset dan mengembangkan produk baru berupa sabun perawatan kulit (skin care) berbahan baku bayam.
Tujuan diversifikasi itu untuk meningkatkan nilai tambah dan membuka pasar baru yang masih berkaitan dengan kesehatan sesuai komitmen Filsya dalam menciptakan produk.
