Friday, January 16, 2026

Inovasi Teknologi Pengecilan Ukuran Material untuk Komoditas Pertanian

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id – Teknologi pengecilan ukuran material atau size reduction berpotensi salami berbagai sektor industri, termasuk pangan, farmasi, dan material berteknologi tinggi. Webinar bertajuk “Teknologi Size Reduction dan Aplikasinya pada Komoditas Pertanian” yang diadakan oleh Pusat Riset Teknologi Tepat Guna (PRTTG) BRIN pada Selasa (17/6) membahas potensi teknologi ini.

Achmat Sarifudin, Kepala Pusat Riset Teknologi Tepat Guna (PRTTG), menekankan pentingnya riset dan pengembangan berkelanjutan dalam teknologi size reduction. Pihaknya telah mengembangkan berbagai alat, seperti chopper, mesin penggiling, dan cross-batter mill, yang menjadi produk unggulan di bidang ini.

PRTTG juga sedang mengembangkan teknologi penggilingan untuk komoditas kering, seperti high-speed grinding dan colloid mill berbasis cairan. Selain itu, teknologi penggilingan basah juga diterapkan pada produk biopestisida, yang berpotensi meningkatkan efisiensi proses industri.

Dengan memperkecil ukuran material hingga skala nano, luas permukaan dan reaktivitasnya meningkat, sehingga proses kimia menjadi lebih efisien. Teknologi ini juga mendorong terbentuknya kelompok riset khusus dan memperkuat kolaborasi dengan dunia usaha untuk pengembangan lebih lanjut.

Melansir pada laman BRIN, Mochmad Bagus Hermanto, Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, menjelaskan bahwa teknologi size reduction tak hanya meningkatkan efisiensi proses produksi, tetapi juga menentukan kualitas produk akhir. Di Universitas Brawijaya, mereka fokus pada pengolahan umbi-umbian, rimpang, dan limbah pertanian, termasuk pengembangan tepung porang berkualitas tinggi.

Porang, yang kaya glukomanan, memiliki potensi besar di industri pangan, farmasi, dan kosmetik, namun pengolahannya menghadapi tantangan besar. Dari pemilihan bahan baku hingga proses penggilingan presisi, berbagai metode dikembangkan, seperti hammer mill, ball mill, roller mill, dan pemisahan kristal oksalat menggunakan ball mill berblower.

Universitas Brawijaya juga mengembangkan model matematis untuk optimasi distribusi ukuran partikel dengan akurasi tinggi. Model ini sudah diterapkan pada UMKM di Jombang untuk meningkatkan kualitas produk berbasis porang dan memperkuat daya saingnya di pasar global.

Rita Noveriza, Peneliti Ahli Madya di Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, menjelaskan riset pengembangan nanoemulsi berbahan minyak atsiri untuk nanobiopestisida. Teknologi ini berfokus pada reduksi ukuran partikel bahan aktif untuk menghasilkan formulasi nanoemulsi yang lebih efektif.

Minyak atsiri dari sereh wangi, cengkih, dan eucalyptus yang diolah menjadi nanoemulsi terbukti meningkatkan efektivitas pengendalian hama dan penyakit tanaman. Selain itu, teknologi ini juga berpotensi untuk aplikasi lain, seperti nanobiofertilizer, nanobiostimulan, dan nano-sensor, dengan teknik berbasis energi rendah yang hemat biaya.

Rita juga mengembangkan formulasi nanoenkapsulasi padat dengan teknik spray drying dan freeze drying yang lebih efisien untuk distribusi jarak jauh. Uji laboratorium menunjukkan bahwa formulasi ini mampu menekan berbagai patogen tanaman hingga 100%, memberikan solusi efektif bagi petani dan industri.

Rita berharap riset nanoemulsi dan teknologi lainnya dapat dimanfaatkan lebih luas oleh petani dan industri. Teknologi ini diharapkan dapat mendorong pengembangan pertanian yang lebih maju dan berkelanjutan di Indonesia.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img