Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan kebanggaannya terhadap kemajuan teknologi alat dan mesin pertanian (alsintan) Indonesia. Salah satu inovasi yang ia soroti adalah Combine Harvester generasi terbaru hasil pengembangan Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Mekanisasi Pertanian (BRMP Mektan) di Serpong, Tangerang.
Saat meninjau langsung performa prototipe Combine Harvester – MUD MAX pada Senin (3/11), Mentan Amran menegaskan bahwa transformasi menuju pertanian modern menjadi kunci keberlanjutan swasembada pangan nasional. “Kalau kita menggunakan pertanian modern, biaya turun dan produktivitas naik,” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran generasi baru Combine Harvester menjadi simbol kemajuan mekanisasi pertanian di Indonesia. Teknologi ini memungkinkan proses panen berlangsung cepat, efisien, dan presisi, bahkan di lahan sawah dengan kondisi drainase buruk sekalipun.
BRMP Mektan mencatat, MUD MAX memiliki lebar kerja 2,05 meter dengan daya mesin 100 HP dan bobot 2.905 kilogram. Dengan tekanan tanah 0,17 kg/cm² dan ground clearance 480 mm, alat ini mampu bekerja optimal di lahan berlumpur dengan daya sangga rendah.
Amran berharap pengembangan alsintan terus berlanjut menuju sistem pertanian cerdas. “Kami ingin nanti alat seperti ini menggunakan baterai dan robotik. Jadi, pertanian bisa dikendalikan dari jauh — inilah mimpi pertanian masa depan,” katanya.
Ia juga menyoroti bahwa kemajuan teknologi membuat harga alsintan kini semakin terjangkau. “Combine harvester dulu harganya Rp600 juta, sekarang separuhnya. Rice transplanter dari Rp60 juta turun jadi Rp10 jutaan,” jelasnya.
Selain Combine Harvester, BRMP Mektan juga tengah mengembangkan Mini Transplanter 4 Row untuk lahan kecil dan menengah. Alat ini sudah diuji di Lampung Tengah dan mendapat respons positif karena mudah dioperasikan serta hemat energi.
Mentan Amran menegaskan, mekanisasi pertanian terbukti meningkatkan efisiensi kerja petani. “Kalau dulu menanam satu hektare butuh 25 orang, sekarang cukup satu operator dalam satu hari,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa penerapan teknologi, robotik, dan artificial intelligence telah mendorong peningkatan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi. “Dengan teknologi, indeks pertanaman naik dan hasil panen meningkat,” tegasnya.
Foto: Dok. Kementan
