Kotoran sapi kerap dipandang sebagai limbah yang mencemari lingkungan. Padahal bahan organik itu menyimpan potensi energi dan unsur hara yang besar. Teknologi biodigester memungkinkan peternak mengubah kotoran menjadi biogas sekaligus menghasilkan kompos yang bermanfaat bagi tanah. FAO menegaskan bahwa limbah ternak, bila dikelola secara anaerob, dapat menjadi sumber energi terbarukan yang signifikan bagi rumah tangga pedesaan.
FAO mencatat bahwa seekor sapi menghasilkan 20—30 kilogram kotoran per hari yang dapat diolah menjadi 1—1,5 meter kubik biogas melalui fermentasi anaerob. Volume itu cukup untuk memasak 3—4 jam per hari. Kandungan metana dalam biogas mencapai 50%—70% sehingga mampu menggantikan bahan bakar LPG. Pemanfaatan itu juga mengurangi pelepasan metana langsung ke atmosfer. Hal itu sejalan dengan laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang menyebut metana dari peternakan sebagai salah satu sumber emisi penting yang dapat ditekan melalui teknologi biogas.
Setelah gas terbentuk, sisa padatan dan cairan dalam digester berubah menjadi slurry yang kaya nutrisi. Kompos kotoran sapi umumnya mengandung 1%—1,5% nitrogen, 0,5%—0,8% fosfor, dan 0,8%—1,2% kalium. Kandungan itu tercatat dalam analisis nutrisi pupuk organik oleh J. F. Parr dalam Organic Matter and Soil Productivity. Meski tidak setinggi pupuk kimia, kompos unggul dalam memperbaiki struktur dan kapasitas simpan air tanah. Pembalikan rutin tiap 5—7 hari diperlukan agar mikrob mendapatkan oksigen yang cukup hingga kompos matang dalam 30—45 hari.
Ketika kotoran sapi diolah menjadi biogas dan kompos, peternak memperoleh dua manfaat sekaligus yaitu energi rumah tangga dan pupuk organik yang menyuburkan tanah. Pendekatan itu menciptakan sistem pertanian yang efisien dan rendah emisi, selaras dengan rekomendasi FAO tentang pertanian berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya biomassa Limbah yang sebelumnya menjadi masalah kini berubah menjadi sumber nilai ekonomi dan ekologis. (Naya Maura Denisa)
