Produksi daun torbangun kering yang kini mencapai sekitar 500 kg setiap dua pekan menjadi bagian dari perjalanan usaha Muhammad Nasrul Fatah, S.P. “Saat ini total luas tanam sekitar 4 hektare,” kata Nasrul. Daun torbangun segar kemudian dikeringkan menggunakan oven hingga suhu maksimal 80°C. Untuk menghasilkan 1 kg daun kering dibutuhkan sekitar 15 kg daun basah. “Kadar air tanaman torbangun tinggi sehingga rendemen hanya sedikit,” ujar Nasrul.
Dari proses itu lahir tiga jenis produk yakni simplisia daun kering, bubuk daun, dan hasil ekstrak, sesuai permintaan konsumen. Produk berbahan torbangun tersebut diekspor ke berbagai negara. Mulai dari Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, hingga Jepang dan Korea Selatan. Kebutuhan utama adalah bahan baku produk perangsang produksi ASI. Khasiat itu bukan sekadar cerita turun-temurun, melainkan telah dibuktikan secara ilmiah.
Penelitian Prof. Dr. drh. Muh. Rizal Martua Damanik dari IPB menunjukkan bahwa produksi ASI ibu yang mengonsumsi torbangun lebih tinggi dibandingkan dengan suplemen. Tradisi ini telah lama dipraktikkan masyarakat Batak. “Pemanfaatan torbangun sebagai laktagogum merupakan tradisi satu-satunya di dunia,” ujar Rizal.
Berawal dari skripsi dan keisengan membuat akun media sosial, Nasrul justru mendapat permintaan dari luar negeri. “Pada saat itu dia mengatakan berapa pun pasokannya akan kami terima,” kata Nasrul. Sejak 2018, pesanan terus berlanjut. Kini, melalui PT Karya Agro Nasional, ia juga memproduksi berbagai simplisia herbal lain dengan standar ketat. Semua bermula dari torbangun, tanaman lokal yang mengantarkannya menembus pasar global.
Baca kisah Nasrul selengkapnya di sini: https://majalah.trubus.id/emagazine/rahasia-bugar-saat-puasa/
