Monday, June 22, 2026

Semula Limbah Organik, Kini Menjadi Panel Peredam Suara

Rekomendasi

Trubus.id — Semula ampas tebu, sabut kelapa, dan kertas bekas hanya dianggap limbah yang kurang bernilai. Di tangan para santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) Malang, bahan-bahan tersebut justru disulap menjadi panel peredam suara ramah lingkungan bernama Ecouiet.

Inovasi itu mengantarkan tim PPI AMF meraih medali perak pada ajang Bali International Science Fair (BISF) 2026 yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA). Kompetisi tersebut diikuti pelajar dari berbagai negara, antara lain Amerika Serikat, negara-negara Asia Tenggara, Kazakhstan, dan Uzbekistan.

Tim terdiri atas Ahmad Adila Al Ghifari, Abyan Agha Al Ghifari, Faizul Umam, Farrand Al Azka, Haidar Abimanyu Tuarita, dan Muhammad Mahir. Mereka mengembangkan Ecouiet sebagai solusi untuk membantu mengurangi polusi suara di lingkungan belajar.

Perwakilan tim, Haidar Abimanyu Tuarita, mengatakan panel peredam suara itu memiliki ketebalan sekitar 2,5 sentimeter dengan tekstur padat menyerupai semen. Dalam proses pembuatannya, tim menambahkan arang hitam untuk meningkatkan kerapatan struktur sekaligus kemampuan menyerap suara.

“Juga ada campuran arang hitam pada proses pembuatannya agar struktur panel lebih padat dan menyerap suara dengan baik,” ujar siswa kelas VIII yang akrab disapa Abi.

Untuk menguji efektivitasnya, tim membuat simulasi sederhana menggunakan kotak kardus yang bagian dalamnya dilapisi panel Ecouiet. Musik dengan volume tinggi diputar dari dalam kotak, kemudian tingkat kebisingan yang keluar diukur menggunakan aplikasi pengukur desibel pada telepon pintar.

“Alat pendeteksi suara yang kami gunakan saat uji coba adalah decibel meter. Aplikasinya bisa diunduh langsung di Play Store,” kata Abi dilansir dari laman Universitas Muhammadiyah Malang.

Meski berhasil menghasilkan inovasi yang membanggakan, proses pengembangannya tidak berjalan mulus. Tim hanya memiliki waktu sekitar empat pekan sejak tahap perencanaan hingga perakitan produk.

Muhammad Mahir dan Faizul Umam menuturkan tantangan terbesar adalah menemukan komposisi bahan yang tepat agar panel memiliki tekstur kokoh sekaligus mampu meredam suara secara optimal.

“Waktu yang mepet membuat kami harus bekerja ekstra cepat, apalagi mencari tekstur panel yang pas dan sesuai keinginan itu cukup sulit,” ujar Mahir.

Pembina Karya Ilmiah Remaja (KIR) PPI AMF, Nabila Almayda, mengaku bangga atas pencapaian para santri yang mampu bersaing di tingkat internasional melalui inovasi berbasis lingkungan.

“Semoga santri-santri PPI AMF dapat terus berkembang dengan berbagai inovasi dan prestasi yang membawa kebermanfaatan luas bagi masyarakat,” ujar Nabila.

Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa limbah organik dapat diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Selain membantu mengurangi pencemaran lingkungan, pemanfaatan limbah sebagai bahan baku panel peredam suara juga berpotensi menjadi solusi ramah lingkungan untuk mengatasi kebisingan di ruang kelas maupun fasilitas umum.

Dengan dukungan riset lanjutan, Ecouiet berpeluang dikembangkan menjadi produk komersial yang mampu menjawab kebutuhan material akustik berkelanjutan di masa depan.


Artikel Terbaru

Inovasi Coating Nabati Lindungi Kacang Tanah dari Racun Aflatoksin

Kacang tanah adalah komoditas yang hampir tidak pernah absen dari meja makan orang Indonesia — mulai dari bumbu sate,...

More Articles Like This