Trubus.id — Mikroplastik menjadi ancaman baru bagi sektor peternakan. Partikel plastik berukuran sangat kecil itu dapat masuk ke tubuh ternak melalui pakan, air minum, maupun lingkungan kandang. Keberadaan mikroplastik berpotensi mengganggu kesehatan ternak dan pada akhirnya memengaruhi keamanan pangan.
Melihat kondisi tersebut, tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan feed additive alami berbasis nanopartikel daun kirinyuh (Chromolaena odorata). Inovasi itu dirancang memiliki dua fungsi sekaligus, yakni mengikat mikroplastik di saluran pencernaan dan menyediakan senyawa antioksidan bagi ternak.
Ketua tim riset, Fauzan Akbar Nugroho, mengatakan penggunaan teknologi nanopartikel bertujuan meningkatkan kemampuan daun kirinyuh dalam mengadsorpsi mikroplastik. Menurutnya, ukuran partikel yang sangat kecil membuat luas permukaan bahan menjadi lebih besar sehingga daya ikat terhadap mikroplastik meningkat.
“Ukuran partikel berskala nano pada produk dari daun kirinyuh memungkinkan peningkatan luas permukaan sehingga mampu mengikat mikroplastik secara lebih efektif dan membantu proses ekskresi melalui feses,” ujar Fauzan.
Inovasi itu dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE). Tim terdiri atas mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, yakni Fauzan Akbar Nugroho dan Dhiaz Larasati dari Fakultas Peternakan, Dimas Jati dari Sekolah Vokasi, Muhammad Fazli dari Fakultas Biologi, serta Nabilla Saver dari Fakultas Farmasi. Riset tersebut dibimbing oleh Dr. Moh. Sofi’ul Anam, S.Pt., M.Sc.
Selain berperan sebagai adsorben alami, daun kirinyuh juga mengandung flavonoid dan senyawa fenolik. Kedua senyawa itu dikenal memiliki aktivitas antioksidan yang dapat membantu menekan stres oksidatif pada ternak.
Fauzan menjelaskan kandungan bioaktif daun kirinyuh berpotensi membantu menjaga kesehatan jaringan usus ternak. Dengan demikian, penggunaan feed additive tidak hanya membantu mengurangi dampak mikroplastik, tetapi juga mendukung kesehatan saluran pencernaan.
Menurut Fauzan, pengembangan inovasi tersebut merupakan upaya menghadirkan solusi terhadap meningkatnya ancaman mikroplastik pada rantai makanan terestrial. Ia berharap hasil penelitian itu dapat berkontribusi dalam meningkatkan keamanan pangan sekaligus mendukung produktivitas peternakan yang berkelanjutan.
“Riset kolaborasi lintas bidang ilmu bisa mendukung SDGs dari aspek ketahanan pangan, kesehatan, dan keberlanjutan lingkungan,” katanya.
Pemanfaatan daun kirinyuh sebagai bahan baku feed additive juga membuka peluang penggunaan sumber daya hayati lokal untuk mengatasi persoalan lingkungan dan peternakan secara bersamaan. Dengan penelitian lanjutan, inovasi tersebut diharapkan dapat dikembangkan hingga siap diterapkan di lapangan.
