Biaya pakan merupakan komponen terbesar dalam usaha peternakan ayam petelur. Untuk menekan biaya tersebut, PT Magot Indonesia Lestari (PT MIL) memanfaatkan magot atau larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly/BSF) sebagai bahan pakan alternatif.
Perusahaan itu memelihara sekitar 6.000 ayam petelur yang mampu menghasilkan rata-rata 300 kg telur per hari. Dengan harga jual sekitar Rp30.000 per kg, omzet yang diperoleh mencapai Rp9 juta per hari. Menariknya, ayam petelur di PT MIL hanya memperoleh pakan berupa 60% konsentrat, sedangkan 40% sisanya digantikan oleh magot.
Menurut Site Manager PT MIL, Egga Prasetyo, BSF merupakan serangga yang aman karena tidak berperan sebagai penyebar penyakit. Siklus hidupnya berfokus pada perkawinan dan reproduksi. Untuk menghasilkan magot, PT MIL memelihara BSF di dalam insektarium. Telur yang dihasilkan dikumpulkan setiap hari lalu ditetaskan dalam rak penetasan.
Sebanyak 10 gram telur BSF ditempatkan di atas 1 kg pakan organik berupa sisa makanan, sayuran, buah-buahan, dan susu kedaluwarsa yang telah dicacah dan dicampur merata. Dalam waktu 3—4 hari telur menetas menjadi larva atau magot.
Larva kemudian dipindahkan ke ratusan biopond berukuran 1 m x 2 m untuk dibesarkan. Menurut Chief Executive Officer (CEO) PT MIL, Markus Susanto, perusahaan mengolah 5—6 ton sampah organik setiap hari sebagai pakan magot. Setelah berumur sekitar 16 hari, magot dipanen dan dipisahkan dari kasgot, yakni sisa media budidaya dan kotoran larva.
Kasgot yang telah difermentasi dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik karena kaya nitrogen, fosfor, dan kalium. Sementara magot hasil panen diberikan kepada ayam petelur dua kali sehari.
Penggunaan magot terbukti mampu mengurangi ketergantungan terhadap konsentrat hingga 40%. Selain menekan biaya produksi, telur yang dihasilkan juga memiliki nilai tambah. Menurut Egga, telur dari ayam yang diberi pakan magot memiliki kandungan omega yang lebih tinggi karena magot kaya protein.
Dosen Fakultas Peternakan Universitas Mataram, Dwi Kusuma Purnamasari, S.Pt., M.Si., menjelaskan bahwa magot mengandung protein sebesar 40—50% dan lemak 29—32%. Kandungan nutrisi tersebut menjadikan magot sebagai alternatif pengganti tepung ikan yang saat ini semakin sulit diperoleh dan harganya mahal.
Kandungan protein magot juga dipengaruhi oleh media budidayanya. Magot yang dibudidayakan menggunakan roti kedaluwarsa dan ampas tahu mengandung protein sekitar 32%. Sementara penggunaan media kotoran puyuh dapat menghasilkan kandungan protein hingga 42,45%.
Dengan kemampuan menggantikan sebagian pakan komersial sekaligus memanfaatkan limbah organik, magot menjadi solusi yang menjanjikan bagi peternak ayam petelur untuk meningkatkan efisiensi usaha.
