Trubus.id — Tumpukan sampah plastik yang sulit terurai selama ini menjadi salah satu persoalan lingkungan yang belum terselesaikan. Di tengah tantangan tersebut, teknologi pirolisis menawarkan peluang untuk mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar cair yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.
Pakar IPB University, Dr. Leopold Oscar, menjelaskan bahwa secara ilmiah sampah plastik memang dapat diolah menjadi bahan bakar melalui proses pirolisis. Teknologi itu bekerja dengan menguraikan material pada suhu tinggi dalam kondisi minim atau tanpa oksigen sehingga menghasilkan produk berupa gas, cairan, dan residu padat.
Fraksi cair hasil proses tersebut berpotensi dikembangkan menjadi bahan bakar. Namun, karakteristik produk yang dihasilkan sangat bergantung pada jenis plastik yang digunakan sebagai bahan baku.
“Karakteristik minyak hasil pirolisis sangat dipengaruhi oleh jenis plastik yang digunakan sebagai bahan baku,” ujar Leopold.
Menurutnya, plastik jenis polyethylene (PE) dan polypropylene (PP) cenderung menghasilkan senyawa hidrokarbon yang lebih sesuai untuk bahan bakar. Adapun polyethylene terephthalate (PET) dan polyvinyl chloride (PVC) menghasilkan senyawa lain yang bersifat korosif atau berpotensi menimbulkan dampak lingkungan sehingga kurang ideal untuk tujuan tersebut.
Selain bahan baku, kualitas minyak pirolisis juga ditentukan oleh berbagai faktor proses, seperti suhu operasi, laju pemanasan, penggunaan katalis, serta perlakuan awal terhadap material. Karena itu, minyak hasil pirolisis belum dapat langsung dipasarkan sebagai solar komersial.
Leopold menjelaskan bahwa produk tersebut masih harus melalui tahapan pemurnian, distilasi, maupun cracking agar memenuhi standar mutu bahan bakar diesel. Dengan kata lain, proses pengolahan tidak berhenti pada tahap pirolisis saja.
Ia menegaskan bahwa aspek kualitas dan keamanan harus menjadi perhatian utama apabila produk tersebut nantinya dipasarkan kepada masyarakat. Pengendalian mutu perlu dilakukan mulai dari pemilahan bahan baku hingga pengujian produk akhir.
“Apabila nantinya dipasarkan kepada masyarakat, aspek kualitas dan keamanan harus menjadi prioritas utama. Mulai dari pemilahan bahan baku, pengendalian proses produksi, hingga pengujian mutu produk akhir perlu dilakukan secara konsisten,” katanya.
Selain berpotensi menghasilkan energi, pemanfaatan sampah plastik melalui pirolisis juga dapat membantu mengurangi timbunan limbah yang sulit terurai. Pendekatan itu sejalan dengan konsep ekonomi sirkular karena memberikan nilai tambah pada limbah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan.
Meski demikian, pengembangan teknologi tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan. Efisiensi proses, kelayakan ekonomi, serta jaminan keamanan lingkungan menjadi aspek yang perlu terus diperbaiki sebelum penerapannya dilakukan secara lebih luas.
Menurut Leopold, pemanfaatan sampah plastik menjadi bahan bakar memiliki prospek yang cukup menjanjikan selama kebutuhan energi masih bergantung pada sumber daya fosil. Namun, pemanfaatannya tetap perlu dievaluasi seiring meningkatnya penggunaan energi terbarukan di Indonesia.
Sumber: IPB University.
