Trubus.id — Sorgum semakin dilirik sebagai sumber pangan alternatif karena kaya serat, bebas gluten, dan dapat diolah menjadi beras maupun tepung. Namun, kualitas produk akhir sangat ditentukan oleh penanganan pascapanen yang tepat.
Tahap pertama dimulai saat panen. Malai sorgum sebaiknya dipetik tanpa menyentuh tanah dan langsung ditempatkan dalam keranjang atau wadah bersih. Cara itu membantu menjaga biji tetap kering serta mengurangi risiko kontaminasi jamur akibat kelembapan.
Setelah panen, biji sorgum perlu diangin-anginkan untuk menghilangkan embun yang menempel. Hamparkan malai di atas alas bersih sebelum dimasukkan ke dalam karung. Langkah sederhana itu penting untuk mencegah peningkatan kadar air selama penyimpanan sementara.
Proses berikutnya adalah pengeringan. Biji sorgum dijemur selama satu hingga dua hari di bawah sinar matahari hingga mencapai kadar air sekitar 12% untuk konsumsi atau 10% jika akan digunakan sebagai benih. Kadar air yang rendah membantu mencegah serangan jamur, kutu, maupun kerusakan selama penyimpanan.
Setelah kering, biji dipisahkan dari malai menggunakan mesin perontok seperti yang digunakan pada padi. Perontokan mekanis dinilai lebih efisien dan mampu mengurangi kehilangan hasil dibandingkan cara manual.
Untuk menghasilkan beras sorgum yang siap dimasak, biji kemudian disosoh sebanyak empat kali. Proses penyosohan bertujuan menghilangkan lapisan kulit ari yang keras sehingga tekstur beras menjadi lebih halus dan nyaman dikonsumsi.

Apabila akan diolah menjadi tepung, beras sorgum hasil sosoh direndam semalaman sebelum digiling. Perendaman membantu melunakkan biji sehingga proses penepungan menjadi lebih mudah dan menghasilkan tepung dengan tekstur lebih halus.
Dari sisi produktivitas, sekitar 1 ton biji sorgum kering dapat menghasilkan kurang lebih 600 kg beras sorgum. Jika diolah lebih lanjut menjadi tepung, hasilnya berkisar 400—500 kg tergantung ukuran dan kualitas biji.
Penanganan pascapanen yang tepat tidak hanya menjaga mutu sorgum, tetapi juga meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut. Dengan kualitas yang baik, sorgum berpeluang semakin berkembang sebagai salah satu sumber pangan masa depan yang sehat dan berkelanjutan.
