Trubus.id — Bila singgah ke Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, rasanya belum lengkap tanpa mencicipi durian. Kota itu terkenal sebagai salah satu sentra perdagangan si raja buah. Namun, di balik melimpahnya durian, tersimpan persoalan limbah kulit yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal.
Kondisi itulah yang mendorong sejumlah mahasiswa Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), menciptakan inovasi berbahan baku kulit durian. Mereka mengolah limbah tersebut menjadi mi kulit durian atau yang mereka sebut mi kurin.
Salah satu penggagas inovasi itu, Desti Kurniawan Gulo, mengatakan ide tersebut muncul saat mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa pada 2019. Bersama rekan-rekannya, Desti berupaya mencari cara agar limbah kulit durian memiliki nilai tambah ekonomi.
“Selama ini kulit durian hanya dibuang. Karena itu kami berpikir untuk membuat produk pangan dari bahan baku kulit durian, salah satunya mi,” ujar Desti.
Bahan baku diperoleh dari limbah kulit durian segar yang berasal dari sentra penjualan durian di Kota Medan. Sebelum diolah menjadi mi, kulit durian terlebih dahulu diproses menjadi tepung.

Tahap awal dimulai dengan membersihkan kulit durian dan membuang bagian durinya. Bagian dalam kulit yang berwarna putih kemudian diiris tipis-tipis. Irisan tersebut selanjutnya dikeringkan menggunakan oven bersuhu 100°C selama 24 jam.
Setelah kering dan dingin, bahan diblender hingga menjadi tepung halus. Tepung kulit durian itu lalu dicampurkan dengan tepung terigu, telur, garam, dan minyak sayur untuk membentuk adonan mi.
Untuk meningkatkan nilai gizi sekaligus mempercantik warna produk, tim mahasiswa UISU menambahkan ekstrak bayam ke dalam adonan. Hasilnya berupa mi berwarna hijau dengan kandungan serat yang lebih tinggi dibandingkan mi biasa.
Selain mi kurin, mereka juga mengembangkan produk stik kurin berbahan dasar tepung kulit durian. Mi kurin kering dipasarkan dengan harga Rp5.000 per kemasan isi 175 gram, sedangkan stik kurin dijual Rp7.000 per kemasan isi 100 gram.
Meski tidak menggunakan bahan pengawet, produk tersebut memiliki daya simpan relatif lama. Setelah proses pembuatan selesai, mi kembali dikeringkan dalam oven bersuhu 75°C selama 2—3 jam.
“Dengan cara itu ketahanannya bisa mencapai dua bulan,” kata Desti.
Inovasi tersebut membuktikan bahwa limbah kulit durian yang selama ini dianggap tidak bernilai masih dapat dimanfaatkan menjadi produk pangan yang memiliki nilai ekonomi. Selain mengurangi limbah, pemanfaatan kulit durian juga membuka peluang usaha baru berbasis bahan baku lokal.
