Inovasi Ini Tekan Penyakit Akar Putih Karet hingga 92 Persen

Rekomendasi
- Advertisement -

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan bakteri agens pengendali hayati (APH) untuk menekan penyakit akar putih pada tanaman karet. Inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya mencari metode pengendalian penyakit yang efektif, aman, dan berkelanjutan.

Riset itu dipaparkan Widi Amaria, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Tanaman Perkebunan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, dalam Webinar EstCrops_Corner #30, Jumat (14/8). Webinar yang diselenggarakan Pusat Riset Tanaman Perkebunan ORPP BRIN itu mengangkat tema “Innovative Microbial and Nanodelivery Approaches to Support Sustainable Estate Plant Diseases Management”.

Penyakit akar putih disebabkan oleh jamur Rigidoporus microporus yang menyerang perakaran tanaman karet. Untuk mengendalikannya, Widi mengembangkan pendekatan seleksi bakteri APH berdasarkan lebih dari satu mekanisme kerja.

“Penggunaan pendekatan multimekanisme penting untuk mendapatkan kandidat bakteri yang tidak hanya mampu menghambat patogen, tetapi juga dapat mendukung pertumbuhan dan ketahanan tanaman,” jelas Widi dilansir pada laman BRIN.

Penelitian diawali dengan pengujian terhadap 95 isolat bakteri. Pengujian meliputi keamanan hayati, aktivitas antibiosis, produksi enzim hidrolitik, kemampuan menghambat kolonisasi R. microporus pada substrat alami, hingga identifikasi molekuler.

Dari rangkaian pengujian tersebut diperoleh 22 isolat yang kemudian diseleksi menjadi 10 kandidat bakteri potensial. Seleksi mempertimbangkan kemampuan menghasilkan senyawa organik terdifusi dan volatil, enzim hidrolitik seperti kitinase, glukanase, dan selulase, serta kemampuan menghambat kolonisasi patogen pada medium tanah.

Widi juga menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan prioritas kandidat berdasarkan sejumlah kriteria secara sistematis. Pendekatan tersebut membantu memilih bakteri dengan karakter yang paling menjanjikan untuk dikembangkan sebagai APH.

Menariknya, kandidat bakteri tidak hanya berpotensi sebagai pengendali penyakit. Sepuluh kandidat juga menunjukkan karakter sebagai biofertilizer dan biostimulant karena berpotensi melarutkan fosfat dan kalium, menambat nitrogen, serta menghasilkan fitohormon seperti IAA, giberelin, zeatin, dan kinetin.

Tahap berikutnya dilakukan pengujian terhadap lima kandidat bakteri pada R. microporus dan tanaman karet di rumah kaca. Hasilnya, aplikasi bakteri secara tunggal maupun kombinasi mampu memperlambat kolonisasi patogen dan menekan perkembangan penyakit akar putih.

Kinerja terbaik ditunjukkan oleh kombinasi bakteri APH dengan tingkat penekanan penyakit mencapai 92,11% pada delapan bulan setelah inokulasi. Sementara itu, aplikasi bakteri secara tunggal menghasilkan penekanan penyakit 81–89%.

Hasil tersebut lebih tinggi daripada perlakuan fungisida sintetik dalam pengujian yang hanya menghasilkan penekanan penyakit 10,53%. “Aplikasi kandidat bakteri APH tunggal dan kombinasi menekan penyakit akar putih 81–92%,” ungkap Widi.

Selain menekan penyakit, aplikasi bakteri APH juga meningkatkan pertumbuhan dan biomassa tanaman karet. Pengujian menunjukkan peningkatan aktivitas sejumlah enzim di dalam tanaman yang berpotensi berkaitan dengan mekanisme ketahanan tanaman terhadap penyakit.

Riset tersebut berawal dari penelitian tugas akhir Widi. Penelitian mendapat dukungan fasilitas dari perguruan tinggi tempatnya menempuh pendidikan serta pendanaan dari Kementerian Pertanian.

Menurut Widi, seleksi bakteri multimekanisme menggunakan analisis hierarki dapat membantu mengoptimalkan kinerja bakteri APH. Kandidat yang diperoleh berpotensi menekan infeksi R. microporus sekaligus mendukung pertumbuhan dan ketahanan tanaman karet.

Pengembangan bakteri APH tersebut menunjukkan peluang pemanfaatan mikroorganisme untuk pengelolaan penyakit tanaman perkebunan. Pendekatan itu diharapkan dapat menjadi bagian dari sistem pengendalian penyakit karet yang lebih efektif dan berkelanjutan.

https://trubus.id/wp-content/uploads/2026/08/spanduk-roll-banner-website.jpg.jpeg
Artikel Terbaru

Quinoa Meets Indonesia, Padukan Quinoa dengan Cita Rasa Kuliner Indonesia

Kedutaan Besar Peru di Indonesia bersama PT Mon Leon Indonesia memperkenalkan quinoa kepada masyarakat Indonesia melalui acara master class...

More Articles Like This