Produksi CPO Bengkulu Capai 1,31 Juta Ton, Ekspor Mulai Dicatat dari Daerah Asal

Rekomendasi

TBS.id – Produksi minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di Provinsi Bengkulu mencapai 1.314.501 ton pada 2025. Namun, sebagian komoditas tersebut selama ini dikirim melalui provinsi tetangga sehingga tidak tercatat sebagai ekspor asal Bengkulu.

Pemerintah Provinsi Bengkulu bersama sejumlah instansi terkait kini berupaya membenahi pencatatan tersebut. Mulai 1 Desember 2026, seluruh ekspor CPO asal Bengkulu ditargetkan tercatat langsung dari provinsi tersebut.

Komitmen itu dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diinisiasi Pemerintah Provinsi Bengkulu bersama Perwakilan Bank Indonesia di Bengkulu pada Rabu (4/11/2026). Pertemuan tersebut dihadiri Wakil Gubernur Bengkulu Mian, Bupati Mukomuko, instansi daerah dan vertikal, Balai Karantina Bengkulu, serta perusahaan pengolahan kelapa sawit di Kabupaten Mukomuko.

Wakil Gubernur Bengkulu Mian mengatakan, pencatatan ekspor CPO dan produk turunannya atas nama Bengkulu diperlukan agar kontribusi komoditas unggulan daerah tercatat secara akurat.

Selama ini, sebagian CPO asal Bengkulu dikirim melalui provinsi tetangga sehingga nilai ekspornya tidak masuk dalam pencatatan ekspor Bengkulu. Padahal, kelapa sawit memiliki beragam produk turunan yang berpotensi memberikan kontribusi ekonomi bagi daerah.

“Selama ini hasil bumi dengan hilirisasi sangat luas, ada 32 produk turunan kelapa sawit, pengiriman CPO ke provinsi tetangga dan belum dicatat oleh Provinsi Bengkulu. Sehingga tidak bisa memanfaatkan dana bagi hasil yang bisa kembali ke Bengkulu,” ujar Mian.

Menurut Mian, pencatatan ekspor dari daerah asal diharapkan dapat meningkatkan manfaat ekonomi sektor kelapa sawit bagi Bengkulu, termasuk melalui dana bagi hasil. Dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur, seperti jalan dan jembatan, guna memperkuat konektivitas serta mendukung pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikan dalam pertemuan, Bengkulu menempati urutan ke-11 sebagai produsen kelapa sawit dari 38 provinsi di Indonesia. Produksi CPO daerah tersebut mencapai 1.314.501 ton pada 2025.

Kepala Balai Karantina Bengkulu Betty Fajarwati mengatakan, pencatatan asal ekspor juga penting untuk memastikan ketertelusuran komoditas unggulan daerah. Dengan demikian, asal produk kelapa sawit beserta turunannya dapat dikenali secara jelas dalam perdagangan internasional.

“Kami sangat mendukung sinergi dalam pencatatan ekspor produk unggulan Bengkulu. Ketertelusuran tersebut akan kembali ke masyarakat untuk perbaikan infrastruktur dalam mendukung kemajuan ekonomi Bengkulu. Dan dunia mencatat bahwa produk kelapa sawit beserta turunannya adalah Bengkulu,” kata Betty.

Ia menambahkan, Balai Karantina Bengkulu menyediakan layanan Klinik Ekspor untuk membantu pelaku usaha memahami persyaratan karantina dan ketentuan negara tujuan. Layanan tersebut dapat dimanfaatkan sebelum produk dikirim ke pasar internasional.

Pelaku usaha yang membutuhkan informasi dapat mendatangi Klinik Ekspor Karantina Bengkulu atau mengakses situs resmi lembaga tersebut. Layanan serupa juga tersedia di setiap provinsi untuk mendukung kesiapan produk sebelum diekspor.

Melalui kesepakatan tersebut, mulai 1 Desember 2026 seluruh ekspor CPO akan dicatat dari Provinsi Bengkulu. Langkah ini diharapkan memperjelas kontribusi ekspor daerah, memperkuat ketertelusuran produk kelapa sawit, serta meningkatkan manfaat ekonomi komoditas tersebut bagi masyarakat Bengkulu.

Sumber: https://karantinaindonesia.go.id/berita/produksi-cpo-bengkulu-131-juta-ton-ekspornya-kini-didorong-tercatat-dari-daerah-sendiri



Artikel Terbaru

Teknologi Saekedelai Dorong Produktivitas Kedelai hingga 3 Ton per Hektare

Trubus.id — Peningkatan produksi kedelai nasional terus diupayakan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor. Salah satu upaya yang dilakukan...

More Articles Like This