Nominal itu belum termasuk penjualan rutin di 4 gerai di Rawabelong, Jakarta Barat; Karangtengah, Tangerang; dan Sawangan, Depok. ‘Total volume penjualan mencapai 5.000-7.000 pot/bulan dari seluruh gerai,’ kata Ukay. Jenisnya, pride of sumatera, hujan es, hengheng, venus, lady valentine, dynamic ruby, dan cochin. Kisaran harga masing-masing di bawah Rp250.000 per pot.
Nun di Ragunan, Jakarta Selatan, Suhandono mengalami hal sama. Selama November 2007, pemilik nurseri Kusuma Flora itu berhasil menjual lebih dari 2.000 pot chinese evergreen. Harganya di bawah Rp500-ribu/pot. ‘Sebenarnya permintaan lebih dari itu, tapi tak dapat saya penuhi karena tak ada barang,’ katanya. Misal permintaan 2.000 pot pride of sumatera baru dipenuhi setengahnya.
Kejadian itu berbeda dengan kondisi 3 bulan silam. Ukay hanya bisa menjual 2.500 pot per bulan dengan omzet sekitar Rp250-juta-Rp500-juta. Padahal, ketika aglaonema tren 2 tahun silam omzet mencapai miliaran rupiah per bulan dari penjulan rata-rata 1.000-1.500 pot. Omzet lebih besar karena harga anggota famili Araceae itu lebih tinggi. Jenis eksklusif laris terjual. Penelusuran Trubus ke beberapa daerah, pada periode Januari-September 2007 penjualan aglaonema lesu darah, sementara jual-beli anthurium merajalela.
Turun
Penjualan aglaonema di nurseri milik Indri Greg Hambali di Bogor turun. Salah satu indikasi, ‘Tak ada orang baru yang telepon menanyakan aglaonema,’ kata Indri. Permintaan hanya datang dari pedagang langganan. Sementara penjualan jenis-jenis eksklusif dengan harga jutaan rupiah boleh dibilang macet.
Di Semarang, penjulan chinese evergreen di gerai nurseri Baliage melorot tajam. Menurut hitungan Hirza, SE, empunya nurseri, penjualan ke pedagang berkurang hingga 90% dari volume rutin 1.000 pot/bulan. Para pelanggan beralih ke jual-beli anthurium. Permintaan pun hanya datang dari konsumen akhir-para hobiis di seputaran Jawa Tengah. Sebelumnya permintaan datang dari Yogyakarta, Jakarta, serta kota-kota di Kalimantan dan Papua. Jenis yang laku didominasi jenis-jenis murah, seperti lady valentine dan pride of sumatera dengan kisaran harga Rp100.000-Rp150.000/pot.
Para pemain sepakat, saat dihantam gempuran anthurium, bisnis aglaonema yang berjalan jenis-jenis berharga ratusan ribu rupiah. Makanya yang laris manis di stan H Achmad-pekebun di Jakarta Timur-selama pameran di Lapangan Banteng (Agustus 2007), TMII (November 2007), hingga di Wiladatika (Desember 2007) aglaonema kelas Rp300-ribu ke bawah. Itu juga yang dialami Gunawan Widjaja di Sentul, Bogor, dan Ririn Subroto di Tanjungpinang, Riau.
Imbas anthurium pun menjalar ke Thailand. Penjualan aglaonema dari nurseri Pramote Rojruangsang mengalami penurunan sebesar 20-30%. Pengamatan Andretha Helmina, wartawan Trubus, di pameran Suan Luang, Thailand, pada awal Desember 2007, anthurium mendominasi hingga 30% dari 300 stan.
Jenis murah
Meski volume penjualan menurun, tapi para pemain aglaonema tetap bergeming. Mereka yakin bisnis ratu daun itu bakal kembali terkerek. ‘Yang namanya bisnis tanaman hias itu kadang naik kadang turun dan itu sangat wajar,’ kata Ansori, pemain tanaman hias senior di Pondoklabu, Jakarta Selatan. Saat-saat anthurium berjaya justru dimanfaatkan untuk melipatgandakan produksi. ‘Sekitar 1.000 pride of sumatera dan 500 hengheng yang tidak laku ketika anthurium ngetren, sekarang jadi indukan,’ kata Suhandono.
Mengumpulkan induk dan memperbanyak stok, itu juga yang dilakukan Songgo Tjahaja di Jakarta Barat dan Mohammad Adam di Lampung. Adam malah berani menggelontorkan dana Rp1-miliar untuk mengumpulkan induk. Keyakinan itu lantaran, ‘Corak aglaonema lebih variatif,’ ujar Suhandono. Produksi yang terus digenjot membuat harga anggota famili Araceae itu bakal lebih terjangkau. ‘Kalau harga lebih murah, pasar lebih luas,’ kata Ukay.
Buah kesabaran para pemain aglaonema pun kini berbalas. Perlahan tapi pasti, bisnis aglaonema kembali menggeliat. Sekadar menyebut contoh, nurseri Gayatri mulai memasok 100 pot per 2 minggu sejak November 2007 untuk gerai di Bumi Serpong Damai, Tangerang. Harga masing-masing antara Rp100.000-Rp250.000 per pot. Jumlah itu melonjak 4 kali lipat dibanding penjualan pada saat booming anthurium.
Di Ciputat, Tangerang, H. Achmad sanggup menjual 500 pot aglaonema pada pameran Trubus Agro Expo di Taman Rekreasi Wiladatika pada Desember 2007. Harga per pot rata-rata di bawah Rp500.000. Cerita Adil Barus lain lagi. Pada hari pertama pameran di Lampung, pemain aglaonema asal Medan itu meraup omzet Rp15-juta. ‘Delapan puluh persen di antaranya dari aglaonema. Sisanya anthurium,’ katanya.
Eksklusif
Geliat bisnis itu tidak hanya terjadi pada aglaonema kelas ratusan ribu. Jenis-jenis eksklusif pun mulai kembali diminta. ‘Baru seminggu ini ada 4 penelepon yang menanyakan aglaonema-aglaonema koleksi Greg,’ kata Songgo. Yang ia maksud widuri, tiara, hot lady, dan srikandi yang harga per lembarnya jutaan rupiah. ‘Ini momen untuk mengumpulkan aglaonema eksklusif. Kapan lagi membeli tiara Rp1,5 juta/daun dan srikandi Rp500-ribu/daun,’ kata Edwin Djunaedhy di Surabaya. Sebelumnya untuk menebus sri rejeki-sri rejeki itu mesti merogoh kocek Rp2,5-juta-Rp1-juta per lembar daun.
Di Lampung, pada hari ke-1 pameran di alun-alun kota Metro, 2 pot hot lady, 2 pot tiara, 2 pot widuri, dan 1 pot tiara, laku terjual dari stan Mohammad Adam. Artinya, minimal pria kelahiran Lampung, 15 Desember 1953 itu memperoleh Rp66,25-juta.
Pedagang kulakan pun mulai membeli dari Hirza. ‘Kenaikannya masih sekitar 5-10%, tapi sudah cukup lumayan,’ tuturnya. Laju aglaonema pun terlihat di ajang pameran. Saat pameran di Plaza Sri Ratu, pertengahan November 2007, Hirza pernah menjadi satu-satunya stan yang menjual aglaonema. Selang 2 minggu, pada pameran di pasar swalayan Ada, Banyumanik, Semarang, terlihat hampir semua stan memajang 1-5 pot aglaonema.
Diduga embusan balik ke aglaonema karena harga anthurium terlalu tinggi. Akibatnya, konsumen dan penjual tidak mampu membeli sang raja daun. Seperti fesyen, bisnis tanaman hias memang kerap berganti. Kini aglaonema mulai melaju lagi. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Andretha Helmina, Destika Cahyana, Lani Marliani, dan Nesia Artdiyasa)
