Lemak tumbuh membesar dan mengganjal lensa matanya. Tanpa kaca mata, pengawal khusus kepala staf Angkatan Udara itu tak dapat membaca.
Lima belas tahun Sersan Mayor R H P Sunyoto menanggung penderitaan pterigium. Bahkan dalam perkembangannya lemak hampir menutupi seluruh lensa. Pterigium kelainan mata dengan munculnya selaput tipis agak keruh di sudut mata bagian tengah menuju bagian mata berwarna hitam. Iritasi karena asap, debu, atau iritan lain memicu perkembangan pterigium.
”Saya kan kerjanya sering di luar, jadi kerap kena debu,” ujar pria 45 tahun itu. Penyakit itu sebetulnya tak mengganggu fungsi mata. Namun, ketika pertumbuhannya melebar – seperti dialami Sunyoto – hingga menutupi pupil, bakal mengganggu penglihatan. Berbagai pengobatan ditempuh Sunyoto agar indra penglihatannya pulih. Lemak itu pernah disayat, tetapi akhirnya tak kunjung sembuh.
Lepas kacamata
Operasi pterigium memang tak memberikan hasil 100%. Kerap kali terjadi recurrence alias timbul kembali. Setelah operasi gagal, ayah 2 anak itu menyandarkan harapan kesembuhan pada pengobatan urut atau pijat selama 3 tahun. Hasilnya, setali tiga uang, tak ada perubahan sama sekali. Pertengahan Desember 2005, ia melihat siaran sebuah kanal televisi yang menyiarkan pengobatan mata dengan ramuan herbal dari Papua.
Ketika itu ia tak hirau. Keesokan pagi ia mengunjungi pameran Trubus Agro Expo, 16 Desember 2005 di Museum Purna Bhakti Pertiwi, TMII, Jakarta Timur. Betapa terkejutnya dia saat melihat Heinrich A Melcher, herbalis yang dilihatnya pada siaran televisi kemarin. Sunyoto lalu menemui Heinrich dan menceritakan pterigium yang tak kunjung sembuh. Mata kanannya plus 1,5; kiri, plus 1.
Sunyoto langsung membeli 4 buah botol tetes mata bikinan Heinrich. Sekitar pukul 19.00 kedua matanya ditetesi obat itu oleh istrinya. Yang ia rasakan, perih. Kemudian berangsur-angsur kotoran menumpuk di sudut matanya. Setelah kotoran dilap, muncul kotoran lagi berwarna kekuningan. Ketika bangun tidur, keesokan paginya kotoran kembali menumpuk sehingga mata lengket.
Hari itu ia bekerja seperti biasa di markas besar ABRI, Cilangkap, Jakarta Timur. Rekan-rekan kerjanya meledek Sunyoto karena matanya merah dan agak bengkak. Mirip terkena pukulan. Siang itu ia kembali ke lokasi ekshibisi Trubus Agro Expo untuk memprotes Heinrich karena matanya memerah. Karena antrean agak panjang, ia iseng-iseng membaca brosur.
Belum juga protes disampaikan, ia menyadari dirinya mampu membaca tanpa kacamata. Padahal matanya baru sekali ditetesi. Saat itulah ia percaya, kondisi matanya kian membaik. Oleh karena itu ia mengurungkan niat protes. Sekarang, ”Saya tak pernah lagi pakai kaca mata. Sudah lupa kacamatanya saya taruh di mana karena lama tak dipakai,” ujar Sunyoto.
Baca pesan
Selain Sunyoto, Mulki Mansur juga merasakan faedah herbal tetes mata. Ia berjumpa Heinrich Melcher ketika mengikuti pameran pertanian yang diselenggarakan Majalah Trubus. Stan Mulki yang menyediakan beragam tanaman hias persis di sebelah kiri paviliun Heinrich. Di tengah kesibukan mengikuti pameran, Mulki menyempatkan diri untuk ditetesi. Maklum mata kirinya plus 3; kanan, minus 0,5.
Gangguan itu kerap menyulitkannya ketika membaca order tanaman hias dari para kolega. Mereka biasa memesan beragam tanaman hias melalui pesan singkat telepon seluler. Nah ketika membaca pesan itu ia mesti tergantung pada kacamata. Pada 8 Desember 2005 untuk pertama kali matanya ditetesi ramuan herbal oleh Heinrich. Rasanya persis seperti Sunyoto.
Menjelang senja pada hari yang sama, ayah 4 anak itu mendapat pesan singkat. Ia membacanya, jelas terbaca kalimat-kalimat di layar teleponnya. Dan benar itu dilakukannya tanpa kacamata! Baik Mulki maupun Sunyoto hingga kini tetap melanjutkan tetes mata supaya kondisinya kian membaik.
Ramuan herbal bikinan Heinrich terbuat dari 7 tanaman, salah satu di antaranya keben Baringtonia asiatica. Untuk pengurusan hak paten, Heinrich masih merahasikan 6 tanaman obat lainnya. Mulki dan Sunyoto menambah panjang daft ar pasien mata – dengan beragam penyakit – yang kondisinya kian membaik setelah ditetesi ramuan herbal.
(Sardi Duryatmo/Peliput: Vina Fitriani)
