Ketertarikan pada gastronomi, perjalanan, dan budaya Jepang membawa Simon Way menetap di Koto-ku, Tokyo. Pria asal Inggris itu kerap menelusuri jejak bahan pangan lokal yang lekat dengan tradisi setempat. Kali ini perhatiannya tertuju pada terong Jepang—dikenal sebagai nasu—yang selama ini akrab di dapur, namun menyimpan kisah menarik di balik reputasinya.
Simon menemukan fakta bahwa nasu sempat mendapat penilaian negatif, bahkan di negara asalnya. Terong Jepang dianggap kurang bergizi karena sekitar 90% bagiannya terdiri atas air. Anggapan itu lama beredar dan membentuk persepsi publik. Namun, penelusuran literatur ilmiah menunjukkan hasil sebaliknya: nasu justru menyimpan beragam manfaat kesehatan.
Sejumlah penelitian menyebutkan, konsumsi terong pada musim panas membantu menurunkan suhu tubuh dan menjaga hidrasi. Menariknya, nasu tetap mempertahankan proporsi nutrisi yang baik meski telah dimasak. Terong Jepang merupakan sumber serat pangan, vitamin B, dan kalium.
Dosen Departemen Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Doni Hariandi, S.P., M.Sc., menjelaskan bahwa nasubi—sebutan lain terong Jepang—mengandung serat, vitamin C, vitamin B, dan vitamin K. “Kandungan gizinya mendukung kesehatan pencernaan dan metabolisme,” ujarnya.
Sebagai anggota famili Solanaceae, terong Jepang juga kaya antioksidan, terutama antosianin. Senyawa ini berperan dalam meningkatkan kesehatan jantung dan menurunkan risiko penyakit kronis. Serat pada kulit terong, yang sejak lama diteliti, diketahui berkontribusi dalam pencegahan kanker usus. Serat membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan sekaligus menyerap racun dan bahan kimia berbahaya di usus besar.
Kandungan serat yang tinggi menjadikan nasubi pilihan tepat bagi mereka yang menjalani program penurunan berat badan. “Serat membantu mempertahankan rasa kenyang lebih lama,” kata Doni, alumnus Universitas Gadjah Mada itu.
Manfaat nasu tidak berhenti di situ. Beberapa studi menunjukkan antioksidan dalam terong Jepang berpotensi melindungi sel-sel otak dari kerusakan dan mendukung fungsi kognitif. Ahli gizi asal Atlanta, Amerika Serikat, Rachael Ajmera, M.S., R.D., menyebut terong Jepang rendah kalori namun kaya serat, mineral, dan senyawa fitokimia. Setiap 100 gram terong mentah mengandung sekitar 26 kalori, 5,4 gram karbohidrat, 2,4 gram serat, 0,85 gram protein, 222 mg kalium, dan 0,106 mg mangan.
Temuan ilmiah lain datang dari penelitian yang dipimpin Konsorsium Eggplant High Functionality Consortium. Prof. Kozo Nakamura dari Fakultas Pertanian Shinshu University, Jepang, melaporkan bahwa senyawa bioaktif dalam terong Jepang menunjukkan efek positif terhadap tekanan darah dan kesehatan jantung.
Dengan rasa dan tekstur yang khas saat dimasak, nasu tak hanya memperkaya cita rasa kuliner Jepang, tetapi juga menegaskan posisinya sebagai pangan fungsional. Terong yang dulu diremehkan, kini justru mendapat pengakuan sebagai sumber gizi bernilai
