Thursday, January 29, 2026

Tiga Pilihan Agar Produksi Optimal

Rekomendasi
- Advertisement -

Menurut Dr Ir Mohamad Reza Tirtawinata, MS, sistem kanal cocok untuk budidaya jambu air. Pengairan tanaman bisa lebih teratur karena air tersedia setiap detik. ?Namanya saja jambu air, jadi butuh 90% air, ? ujar direktur TWM itu. Kelebihan lain, pekebun dapat mengatur air sesuai kebutuhan tanaman. Contohnya, saat pembesaran buah, level air di parit ditinggikan sampai 1 m. Menjelang buah masak disurutkan sekitar 20 cm. Dengan sinar matahari penuh selama minimal 12 jam, buah yang dihasilkan berukuran jumbo dan manis. Itulah yang dialami Opas. Dari populasi 765 pohon, dihasilkan 100 ton buah dengan bobot 200 -250 g/buah setiap musim.

Selain itu, kanal dapat menjadi pembatas akar yang efektif. Kanal membuat tanah jenuh air, akibatnya akar tak mau menembus jauh ke dalam tanah karena akan busuk. Dengan demikian, akar hanya menyebar di atas bedengan yang penuh pupuk. Pupuk cepat terserap akar tanaman sehingga pemupukan jadi lebih efisien.

Di Indonesia, tidak semua daerah dapat membudidayakan citra dengan kanal. ?Kanal cocok dilakukan pada areal pasang surut atau lahan berawa seperti di Karawang, Jawa Barat, atau Sumatera Utara bagian timur,? ujar Reza. Hal itu pula yang terlihat di negeri Siam. Pekebun di seputaran Bangkok, seperti Nakhon Pathom atau Samuth Songkhram, memakai model itu lantaran kondisi lahan berawa. Kendala pekebun yang menggunakan kanal terjadi pada saat panen. Mobil-mobil pengangkut tak dapat memasuki kebun lantaran keberadaan parit-parit yang tergenang air. Alternatifnya pekebun harus menggunakan perahu untuk mengangkut hasil panen.

Tumpangsari

Nun di Demak, juga ada budidaya citra yang mirip model parit. Hanya saja, hamparan padi jadi ganti genangan air. Pemandangan itu Trubus jumpai di kebun milik Sutrisno. Sebelumnya lahan itu hanya areal sawah biasa yang dibatasi pematang-pematang. Sejak 2 tahun silam pematang itu ditanami 200 pohon citra. Pematang diperlebar jadi 3 m dan sawah, 4 m. Jarak antartanaman 6 m x 8 m.

Model budidaya yang dilakukan pengurus Forum Peduli Petani Jawa Tengah itu lazim disebut tumpangsari. Menurut Reza, Sutrisno memperoleh manfaat ganda dari model tumpangsari itu dibanding sistem kanal. Pertama, pekebun memperoleh 2 hasil berupa buah citra dan padi. Kedua, areal sawah dapat dikeringkan ketika buah citra menjelang masak.

Dari segi kebutuhan air, citra mirip padi. Pada masa pertumbuhan padi membutuhkan banyak air, sedangkan saat malai bunga keluar dan mengisi biji sedikit air. Citra pun demikian. Waktu pembesaran buah dibutuhkan air banyak dan menjelang masak air sedikit. Bila penanaman padi dapat diatur sesuai dengan kebutuhan air citra, buah jambu air yang dihasilkan berkualitas bagus.

Menurut Prakoso Heryono, pemilik nurseri Satya Pelita di Demak, Jawa Tengah, kendala menanam citra di areal sawah adalah angin. Ketika hujan, angin berembus sangat kencang sehingga merusak pohon. ?Pohonbisa tumbang, terutama yang berasal daricangkok,? katanya. Namun, jika tanaman dapat dipertahankan pendek, angin tak jadi masalah.

Konvensional

Di luar 2 model di atas, jambu air lazimnya dibudidayakan di lahan pekarangan dan kebun-kebun bertanah datar. Contohnya, kebun-kebun citra di Wonosalam, Demak, dan Karangawen, Jawa Tengah. Dari segi pemanenan buah, sistem ini lebih mudah lantaran kendaraan bisa langsung masuk ke dalam kebun.

Yang menjadi masalah adalah ketersediaan air pada saat pembesaran buah. Untuk mendongkrak ukuran buah, pekebun di Taiwan melakukan penyiraman ganda. Sprinkler untuk menyiram tajuk tanaman dan viaflo yang menetes di atas tanah. Viaflo adalah membran pipih memanjang yang akan menggelembung jika dialiri air.

Kendala lain, seiring bertambahnya umur tanaman, perakaran jadi kian tak terkendali. Akar tumbuh jauh ke dalam tanah, sehingga proses penyerapan pupuk berlangsung lamban. Akibatnya, efek pemberian pupuk tidak langsung terlihat.

Pada tanaman berumur di atas 10 tahun, masalah itu diatasi dengan pemangkasan akar. Pangkaslah akar hingga tersisa selebar tajuk pohon. Pun tajuk, daun dan ranting dipangkas sehingga tempat gundul. Untuk pemangkasan akar, caranya dengan menggali tanah sedalam 50 cm melingkari batang pokok radius 2 -2,5 m. Ke dalam lubang itu diberikan pupuk NPK atau pupuk kandang. Selanjutnya lubang galian ditutup.

Pangkas birokrasi

Untuk merangsang pembungaan, pada tanaman berumur lebih dari 10 tahun dilakukan pengeratan selebar 0,5 -1,0 cm pada batang utama. Keratan dibuat melingkar seperti hendak mencangkok, atau membuat 2 keratan setengah lingkaran terpisah. Pengeratan dibuat sedikit di bawah permukaan tanah dengan cara menggali sebagian tanah di sekitar batang.

Dari keratan itu muncul akar-akar baru yang langsung menyerap air dan unsur hara. ?Akar baru yang banyak itu seperti memotong jalur ?birokrasi ? penyerapan hara, ? ujar Reza. . Maksudnya, bila memupuk hari ini dipangkal batang, hasilnya dapat diketahui esok hari. Itu lantaran jalur tempuh antara akar dan batang sudah pendek sekali.

Supaya ukuran buah besar, selain air dan sinar matahari cukup, penjarangan buah wajib hukumnya. Dalam 1 dompol biasanya disisakan 3 -5 buah. Agar penampilan mulus dan terhindar hama, buah dibungkus sejak berukuran pentil.

Banyak jalan menuju Roma. Sepertinya pepatah itu cocok menggambarkan budidaya citra saat ini. Sistem kanal, tumpangsari, dan konvensional merupakan 3 teknik budidaya citra yang dapat dipilih pekebun. Tujuannya sama, menghasilkan citra berkualitas. (Rosy Nur Apriyanti / Peliput:Evy Syariefa)

Artikel Terbaru

Rahasia Kecepatan Tumbuh Lele: Genetik, Pakan, dan Kepadatan Tebar

Kecepatan pertumbuhan lele sangat dipengaruhi faktor genetik dan pemilihan strain. Penelitian lapangan dan uji laboratorium menunjukkan bahwa varietas komersial...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img