Thursday, January 29, 2026

Maksimalkan Produksi Stevia

Rekomendasi
- Advertisement -

Stevia, berasal dari wilayah subtropis Amerika Selatan. Meski begitu, ia cocok dikembangkan di wilayah tropis. “Indonesia, Malaysia, dan Thailand beberapa negara tropis yang berhasil mengembangkan,” papar Dedi Suhendi yang kini aktif di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember.

Menurut Eko Sudjiarto, peneliti pada Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) Pasuruan, potensi pengembangan Stevia rebaudiana di Indonesia bagus. Di Indonesia ia tumbuh baik di dataran tinggi. Penanaman di Karanganyar, Wonogiri, Garut, Cianjur, dan Sukabumi, stevia dapat dipanen 6—7 kali setahun dengan produksi maksimal.

Dataran tinggi

Stevia menghendaki ketinggian minimal 1.000 m dpl. Ia paling cocok ditanam pada jenis tanah latosol. Ketebalan lapisan top soil minimal 20 cm dengan pH 6,0—7,0.

Lokasi beriklim basah dengan curah hujan merata 1.500—1.800 mm/tahun dan suhu 24—35oC. Olah lahan dengan dibajak atau dicangkul dan digemburkan agar perakaran leluasa tumbuh. Buat bedengan-bedengan setinggi 20—30 cm dan lebar 100—120 cm. Jarak antarbedeng 50—70 cm. Panjang bedengan 5 meter  atau lebih, tergantung kondisi lahan.

Tanam pada lahan yang relatif datar atau pada kemiringan 3o —5o. Pada lahan berkontur miring, sebaiknya dibuat teras.

Banyak klon stevia yang diseleksi Unit Bioteknologi Perkebunan Bogor. Namun, sesuai keinginan pasar, pilih klon yang mengandung senyawa steviosida dan rebaudiosida-A tinggi. Klon yang disarankan BPP16, BPP 18, BPP 23, BPP 25, BPP 57, dan BPP 72.

Klon-klon itu mengandung steviosida di atas 13%. Bandingkan dengan varietas stevia yang ditanam di Jepang, Korea, Brazil, dan Paraguay yang hanya mengandung komponen pemanis 6,4—12%.

Pasar ekspor menghendaki rendemen steviosida minimal 10%. Sementara pasar mensyaratkan perbandingan steviosida dan rebaudiosida-A sebesar 2;1 atau 3:1. Untuk persyaratan itu klon yang sesuai BPP 10, BPP 16, dan BPP 41.

Disetek saja

Stevia diperbanyak dari biji, anakan tanaman, setek, dan kultur jaringan. Namun, teknik perbanyakan dengan setek lebih banyak dipakai karena lebih praktis dan gampang dilakukan.

Perbanyakan dengan setek dilakukan dengan mengambil pucuk-pucuk tanaman, lengkap dengan 3—4 pasang daun. Untuk mempertinggi tingkat keberhasilan, sebelum ditanam celupkan bagian pangkal bahan setek ke dalam zat perangsang tumbuh seperti Rootone-F dan fungisida.

Setek ditanam di bedengan dengan jarak tanam 5 cm x 5 cm. Media tanam berupa campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1. Tutup bedengan dengan sungkup plastik. Sungkup dibuka 2 minggu kemudian. Selama sungkup dibuka bibit disiram setiap hari sampai siap pindah ke lapang 1—2 minggu kemudian.

Bebas gulma

Penanaman di bedengan dengan jarak tanam 25 cm x 25 cm atau 30 cm x 30 cm. Dengan begitu terdapat 4—5 baris tanaman per bedeng. Pada 1—2 minggu sebelum ditanami, berikan pupuk kandang 250 g/lubang tanam. Pemberian pupuk kandang dilakukan setiap 6 bulan.

Setiap lubang ditanami 1 setek. Seminggu setelah tanam, pupuk dengan 1 g Urea, 1 g TSP, dan 1 g KCl per tanaman. Pemupukan NPK diulangi setiap daun stevia baru dipanen. Untuk mempertahankan kelembapan tanah, bedeng ditutup mulsa plastik atau jerami.

Pupuk ditebar di sekeliling tanaman atau dibuat lubang di kiri dan kanan tanaman pada jarak 7—10 cm. Setelah dipupuk, pangkal batang ditimbun tanah. Setelah tanaman berumur 2 minggu, lakukan pemangkasan pada setiap pucuk tanaman. Tujuannya untuk memperbanyak percabangan agar produksi daun banyak.

Selain pemangkasan pucuk, lingkungan akar tanaman juga dibersihkan dari rumput dan gulma. Hal ini penting, sebab stevia tidak dapat bersaing dengan gulma. Pada kondisi lingkungan penuh gulma, tanaman hanya mencapai tinggi 60 cm dengan percabangan terbatas sehingga produksi daun sedikit. Pada lingkungan bebas gulma, tanaman dapat mencapai tinggi di atas 90 cm. Dengan begitu, produksi daun pun mencapai maksimal.

Hindari pestisida

Untuk menjamin pertumbuhan dan produksi optimal, tanaman perlu disiram rutin. Tujuannya agar tanaman subur dan memunculkan daun-daun rimbun. Frekuensi penyiraman 2—3 hari sekali.

Belalang Ducetia sp dan Atractomopha psittacana ancaman bagi stevia. Hama lain berupa ulat grayak Heliothis sp, ulat kilan Hyposidra talaka, penggulung daun Caoectia micaceana, dan kutu daun Aphis sp.

Beberapa penyakit stevia di antaranya busuk batang Sclerotium rolfsii dan Sclerotinia sclerotiorum, bercak daun Colletotrichum sp, busuk daun Fusarium sp, dan busuk akar Rhizoctonia solani.

Dedi tidak menganjurkan penyemprotan pestisida anorganik. Sebab, “Penggunaan daun stevia untuk dikonsumsi, dan dipanen pada umur singkat,” paparnya. Ia menganjurkan langkah preventif seperti penanaman tidak berdekatan dengan areal kebun sayur untuk mengurangi risiko serangan.

Segera dikeringkan

Stevia dipanen saat memasuki masa berbunga. Pada akhir periode pertumbuhan vegetatif itulah kadar steviosida (zat penentu kadar kemanisan stevia, red) tanaman berada pada tingkat tertinggi. Di luar itu, kadar steviosida rendah. Fase menjelang tanaman berbunga dicapai pada umur 2 bulan setelah tanam, dan pada setiap 50—60 hari berikutnya.

Panen pada pukul 06.00. Batang atau tangkai stevia dipotong pada ketinggian 15 cm dari permukaan tanah. Sisakan 1—2 tangkai pada setiap tanaman agar kondisi tanaman setelah pemangkasan berat itu cepat normal.

Agar kadar kemanisannya dapat dipertahankan, daun harus segera dirempel dan dikeringkan segera setelah panen. Menunda waktu pemipilan dan pengeringan mengurangi kadar bahan pemanis di dalam daun sampai di bawah batas minimum yang ditentukan. Sebab, di dalam daun segar masih berlangsung proses perombakan bahan pemanis.

Pengeringan dengan menjemur di bawah panas matahari hingga kadar air maksimum 10%. Daun kering ditandai dengan warna hijau kekuningan. Kondisi ini dicapai dalam 8 jam penjemuran. Saat mendung atau hujan, pengeringan sebaiknya dengan oven pada suhu 70oC selama 4 jam.

Daun disortasi untuk memisahkannya dari kotoran lain seperti ranting, kerikil, atau daun lain. Setelah itu daun ditimbang dan dikemas. Setiap bal diisi 20 kg daun. Mula-mula daun dimasukkan ke dalam kantong-kantong plastik yang cukup tebal, lalu dikemas dalam karung. Dengan kemasan seperti itu, daun dapat disimpan sampai 2—3 tahun. Pasar ekspor menghendaki daun yang memiliki kadar air maksimum 10%, kadar steviosida minimal 10%, dan kandungan kotoran maksimal 3%. (Fendy R Paimin)

Artikel Terbaru

Kenapa Mangga Tidak Berbuah? Inilah Penyebab dan Solusinya

Mangga yang tidak berbuah umumnya dipengaruhi masalah fisiologi tanaman. Terutama ketidakseimbangan fase vegetatif dan generatif. Tanaman yang terlalu subur...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img