Wednesday, January 28, 2026

Borong Serama, Gaet Laba

Rekomendasi
- Advertisement -

Saat ini Mega Bird Farm (MBF) baru sanggup memproduksi 10 anakan/bulan. Maklum, dari 17 kandang miliknya hanya 6 induk yang menghasilkan anak. “Banyak induk belum siap bertelur. Telur yang dihasilkan pun acap gagal menetas. Betapa sulitnya menghasilkan anakan serama,” kata Muchsinin, penanggungjawab kandang MBF.

Bisnis penangkaran yang dirintis Megananda berawal pada September 2004 ketika melihat ayam mini itu makin marak di Indonesia. Peluang itu lantas diendus ayah 2 anak itu dengan berburu serama ke penangkar-penangkar di Malaysia. Ratusan juta rupiah dicemplungkan untuk membeli serama bermutu. Induk-induk itu ditangkarkan di kandang berukuran 1 m x 2 m dengan perbandingan jantan dan betina, 1:3.

Perhitungan Megananda, bila setiap induk menghasilkan 5—6 telur. Dengan asumsi tingkat keberhasilan 50%, ia memperoleh 50 anakan/bulan. Jika harga Rp500.000/ekor dipastikan Rp25-juta masuk ke pundinya. Soal menjual serama tak menjadi persoalan. Buktinya, belum genap 3 bulan umur MBF mengelola usaha penangkaran, permintaan serama sudah berdatangan.

Impor banjir

Saat ini yang memproduksi serama tak hanya Megananda. Beberapa hobiis baru bermunculan, seperti Nuryassin, Aris Hartanto, Jojon, Sofyan Juandi, Edi Sebayang, dan Damanhuri. Kehadiran mereka dipastikan bakal meramaikan jagat serama di Indonesia.

Nuryassin, misalnya. Hobiis di Bintaro, Tangerang itu benar-benar kepincut pada serama sehingga ia sengaja mendatangi beberapa penangkar ternama di Kedah dan Penang, Malaysia. Ratusan juta rupiah ia cemplungkan untuk memborong 50 serama pilihan. Ketika Trubus berkunjung ke farmnya, serama yang fotonya menjadi cover Trubus edisi Agustus 2004 pun ternyata ada di sana. Koleksi lain juga patut diacungi jempol. Contohnya, serama berharga RM15.000, sudah dikoleksi bos Kogas Group itu sejak November 2004.

Sebanyak 30 induk yang dibeli sejak September dan Oktober 2004, sebagian sudah menelurkan anakan. Namun, hingga kini ia belum berminat menjual semua hasil ternakannya. “Peminat sudah ada, tapi targetnya mencapai populasi 200 ekor dulu. Dengan kondisi saat ini mungkin pertengahan tahun ini,” kata alumnus Fakultas Teknik Sipil, Institut Teknologi Bandung itu.

Yang bakal menjual serama dalam waktu dekat barangkali Sofyan Juandi di Bekasi, Jawa Barat. Meski kandang penangkaran belum dibangun, puluhan serama bermutu didatangkan dari negeri jiran itu sejak Desember 2004. Kini, puluhan anakan umur sebulan siap dipasarkan. “Rencananya, Februari mendatang showroom bakal dibuka,” kata pemilik Bintara Farm itu.

Yang juga serius mendatangkan serama adalah Damanhuri, hobiis di Jakarta Barat. Sejumlah peternak di Malaysia ia kunjungi, termasuk The Leong Toh alias Choii, penangkar kenamaan di Penang, Malaysia. Saat ini sebanyak 150 ekor sudah mengisi kandang-kandangnya. Jojon, importir di Jakarta pun tak mau ketinggalan. Ia sibuk mondar-mandir Jakarta—Malaysia sejak November 2004 untuk mencari serama pilihan. Pada pertengahan Januari 2005, ia memboyong 36 serama unggul ke Indonesia.

Makin marak

Rebutan membeli serama dari Malaysia terjadi karena tingginya permintaan di sini. Banyak yang menyukai ayam termungil sejagat itu. Sebagai klangenan, ayam hasil silangan Wee Yean Ean, peternak di Kelantan, Malaysia, itu sangat ideal. Tubuh cantik dan warna bulu menarik (baca: Serama: Tiga Rupa, Tiga Istimewa, halaman 116-117).

Mungkin karena itulah pamor serama semakin menanjak sejak diperkenalkan pada pertengahan 2003. Wajar, bila penyedia serama mulai banyak di Jakarta. Dulu hanya satu kios di pasar Pramuka, kini showroom bermunculan, contohnya, Budiyanto, Adrian, Hartono, H. Yusuf, dan Aris Hartanto.

Sejak dibuka pada Januari 2005, Boutique Hobiis milik Aris Hartanto di ITC Cempaka Mas, Jakarta Pusat, ramai dikunjungi hobiis. Sebanyak 5 kandang berdinding fiberglass, masing-masing berukuran 2 m x 2 m dihuni 3 ayam. Itu belum termasuk puluhan serama pilihan lain yang disimpan di lantai 2. Kebanyakan serama yang dijual berbobot 350 g ke bawah. Harga bervariasi, mulai dari Rp3,5- juta—Rp5-juta/ekor, tergantung kualitas.

Menurut Aris, jumlah ayam terjual memang belum banyak. “Hobiis yang datang ke sini selalu bertanya, ayam apa ini, kok kecil sekali?” kata Aris. Maklum, serama belum begitu populer. Hanya orang-orang tertentu saja yang mengenalnya. Toh, ia memperkirakan serama makin marak beberapa bulan mendatang.

Kontes sebagai barometer mencari ayam berkualitas pun turut mendongkrak pamor. Jumlah peserta memang belum menunjukkan angka yang bombastis. Namun, kualitas ayam yang ikut semakin bagus. Kontes perdana pada April 2004 di Rudi Pelung Farm milik Rudiasfi e Sjofi nal di Pondokbambu, Jakarta Timur hanya diikuti sekitar 30 peserta. Maklum, saat itu jumlah ayam bagus terbatas. Meski masih minim peserta, tapi antusias hobiis cukup besar.

Kepopuleran serama terus meningkat ketika diselenggarakan lomba Trubus Cup di Lapangan Banteng pada Agustus 2005. Tak hanya pemain baru yang bermunculan, serama bermutu dari Malaysia pun hadir. Maklum, kebanyakan serama di era 2003 bertubuh bongsor, berbobot 500g. Kini, serama mungil berbobot 350 g yang mulai diminati hobiis. “Sosok semakin mini, bahkan ada peserta yang cuma 280g,” kata Rudiasfi e Sjofi nal. Kelas lomba tak melulu didominasi dewasa dan remaja, kini sudah digelar kelas anakan dan muda.

K e g a i r a h a n  hobiis serama semakin terlihat dengan terbentuknya Persatuan Pelestari Ayam Serama Indonesia (P2ASI) pada awal Januari 2005. “Adanya organisasi bisa menyatukan visi dan misi agar serama berkembang di Indonesia. Kita tidak boleh ketinggalan dengan Malaysia, kalau bisa menciptakan serama tipe Indonesia,” kata Jerry Hermawan, ketua P2 ASI.

Tetap kewalahan

Naiknya pamor serama membuat permintaan kian naik. “Saya benarbenar kelimpungan memenuhi order. Permintaan dari luar kota semakin banyak,” kata Rudi Pelung, panggilan Rudiasfie Sjofinal. Ayah 2 anak itu menghitung, jumlah permintaan yang masuk mencapai 5 kali lipat dari produksi yang hanya 15 anakan/bulan. Saat ini ia hanya mengandalkan 20 induk dan 15 pejantan.

Saking banyaknya permintaan, ia tak sempat lagi meregenerasi indukan. Bagaimana tidak, anakan umur 1 bulan ludes dibeli meski sudah dibandrol Rp1-juta—Rp3-juta/ekor. Melimpahnya order juga dirasakan Ngadilin, peternak di Medan, Sumatera Utara. Sebanyak 90—100 anakan umur 2 bulan dilepas Rp200.000—Rp300.000 ke Jakarta.

Tanpa induk bagus mustahil memproduksi serama berkualitas. Itulah sebabnya Rudi Pelung mengganti 90% induknya. Peternak lain, seperti Hengky Tanjung, Hartono, H Yusuf, Ajong, dan Johan Nasution pun ikut-ikutan merombak materi kandang. “Kalau induk tidak segera diganti, kualitas ayam bakal ketinggalan zaman. Maunya bobot kecil dan berpostur bagus,” ucap Johan Nasution, pemilik Nur Serama Farm di Bekasi, Jawa Barat.

Mencetak serama berkualitas memang tidak semudah membalikan tangan. Sejumlah kendala harus dihadapi para penangkar, mulai dari perjodohan, perkawinan, hingga merawat anak. “Membiakkan serama ternyata susah juga. Lebih rumit dibanding ternak ayam umumnya. Dari 5—6 butir, hanya 3 butir saja yang menetas,” kata Ngadilin. Makanya, induk bermutu harus benarbenar terpilih (baca: Serama: Sulitnya Perbanyak si Mini, halaman 118-119).

Namun, bila peternak mampu mengatasi kendala itu maka keuntungan dipastikan bakal diraup. Pantas, bila senyum sumringah terpancar di raut muka Heri Teni, penangkar di Krawang, Jawa Barat ketika melihat induk turun dari sarangnya. Di tumpukan jerami, tampak 3 serama mungil lahir ke dunia. “Itu sudah ada yang mau ambil,” katanya. (Nyuwan SB)

Empat Kali ke Dokter

Sedih. Begitulah perasaan Nuryassin, hobiis di Bintaro, Tangerang, saat melihat serama sakit tanpa ada sebab. Ketika dibeli dari Choii, penangkar asal Penang, Malaysia pada November 2004, kondisi ayam berharga puluhan juta rupiah itu masih segar-bugar. Namun,sosok yang gagah dan dada busung tak tampak lagi saat tiba di Jakarta. Loyo dan kurang bersemangat. Ia hanya meringkuk di pojok kandang. Kokoknya yang nyaring pun tak terdengar lagi. “Bukan harganya, tapi mencari ayam seperti ini sulit,” kata pemimpin Kogas Group.

Saking bingungnya, bos di 11 perusahaan konsultan itu membawa sang klangenan ke dokter hewan terdekat. Dokter yang disambangi kaget karena baru pertama kali ada ayam menjadi pasiennya. Lazimnya hobiis memeriksakan kucing atau anjing. Hasil pemeriksaan suhu dan organ tubuh menunjukkan ayam itu sehat walafi at. Dokter hanya menduga ayam terserang fl u. Beberapa obat diberikan untuk diminum setiap hari.

Toh, usaha itu belum juga menunjukkan hasil. Setidaknya sudah 4 kali si mini itu diperiksa dokter. Bahkan, mengecek feses ke laboratorium juga dilakukan demi kesembuhan ayam. Hasilnya tetap nihil, gejala serangan penyakit tidak terlihat meski sudah dilihat dengan mikroskop.

Usaha Nuryassin sebenarnya tidak cukup itu. Berbagai cara telah ditempuh untuk kesembuhan sang klangenan. Saran untuk memberikan susu segar, vitamin, minuman penyegar, dan bernutrisi telah dicoba, tapi belum juga menunjukkan hasil. “Minuman penyegar saja sudah habis 3 botol,” ucapnya.

Untunglah, salah satu rekan menganjurkan untuk memberikan madu murni. Hasilnya, sesendok teh madu setiap hari membuat ayam asal Penang, Malaysia, itu berangsur-angsur sembuh. Kini, kondisi tubuhnya pulih. Ia rajin berkokok dan bergerak lincah. Warna raut muka merah cerah dan dada pun kembali membusung.(Nyuwan SB)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img