Thursday, January 29, 2026

Saat Musim Panas Hampiri Fengshan

Rekomendasi
- Advertisement -

Tak heran jika di sepanjang jalan di Kaohsiung menghampar beragam sayuran yang baru disemai. Ada juga beberapa tanaman memunculkan bunga atau buah seperti yang Trubus saksikan di Fengshan, Kaohsiung.

Ini untuk ketiga kalinya Trubus berkunjung ke kebun milik Known You Seed di Fengshan. Kebun di sebelah selatan Kaohsiung ini khusus untuk sayuran di daerah panas. Tak heran jika sayuran yang ditanam di sana lazim ditemukan di Indonesia.

Kebun seluas 10 ha itu diisi tomat, cabai, paprika, okra, dan terung. Sayuran itu kebanyakan ditanam di lahan, tetapi ada juga yang ditanam di greenhouse. Meski di tanam di lahan toh mutu sayurannya tetap bagus. Itu karena penggunaan bibit berkualitas dan perawatan intensif.

Tidak sembarang sayuran yang ditanam di sana. Jenis yang ditanam merupakan produk terbaru dari Known You Seed. Pantas jika sosok buah dan tanaman tampak asing dan berbeda. Tak hanya penampilannya yang berbeda, pun produktivitas dan ketahanan terhadap hama dan penyakit. Yang istimewa cara perawatan tanaman sangat intensif dengan menggunakan teknologi modern.

Parit

Kebun itu terbagi atas beberapa petakan kecil berukuran 10 m x 8 m. Tanaman ditata berdasarkan familinya. Tomat misalnya ditanam berdekatan dengan cabai dan paprika. Ketiganya anggota famili Solanaceae. Di sudut kebun—dekat pintu masuk—tampak buah tomat bergelantungan di cabang dan ranting. Golden shine, tomat keluaran terbaru Known You Seed, itu sungguh memikat. Bentuk bulat, sedang, dan berwarna jingga kekuningan. Setiap dompol terdiri dari 6—8 buah dengan bobot masing-masing 160—200 g. Selain itu buah relatif tidak retak jika kekurangan kalium atau kepanasan.

Yang istimewa sosok tanaman pendek, tinggi 100 cm dan rimbun. Itu menguntungkan pekebun karena mempermudah perawatan. Tomat ditanam di atas bedengan berselimut mulsa setinggi 5—10 cm dan lebar 50 cm. Pengaturan tanaman terkesan longgar karena jarak antarbedengan besar, 60—80 cm.

Di Indonesia jarak antarguludan 30—40 cm. Namun, sebenarnya jarak antartanaman relatif padat, yaitu 30 cm x 40 cm. Di setiap ujung bedengan dipasangi pipa besi setinggi 2 m. Tujuannya saat penyemprotan pestisida, selang yang dihubungkan dengan mesin tidak melilit tanaman.

Penyemprotan pestisida memang tidak intensif. Paling banter 1—2 bulan sekali atau jika ditemukan gejala serangan hama dan penyakit. Pasalnya, semua jenis sayuran di sana dirakit “kebal” terhadap hama dan penyakit. Golden shine, contohnya, relatif tahan serangan fusarium.

Suhu kebun yang sangat panas membuat tanaman membutuhkan air dalam jumlah banyak. Pekebun di sana menggunakan sistem parit untuk pengairan. Trubus melihat hampir di setiap petakan dibangun parit sedalam 60 cm dan lebar 40 cm. Parit antarpetak dipisahkan semen berlubang yang bisa dibuka-tutup. Dengan begitu jumlah air yang mengalir ke petakan bisa diatur.

Saat penyiraman pekebun tinggal membuka saluran air di sumber air. Kemudian air akan mengalir menuju ke parit-parit. Dari parit itu lalu disalurkan ke petakan-petakan. Air dibiarkan sedikit menggenang di sekitar bedengan. Supaya air tidak mudah menghilang karena menguap bedengan ditutupi mulsa.

Jenis baru

Tak hanya tomat yang menarik perhatian, pun okra, terung, dan gambas. Okra di kebun itu kulit buahnya berwarna merah tua. Ukurannya pun lebih panjangdan besar. Di tanah air lazimnya okra berwarna hijau dan pendek. Dilihat dari warna bunga pun berbeda, okra hijau berbunga kuning; merah berbunga putih. Untuk cara penanaman setali tiga uang dengan tomat. Bedanya di ujung bedengan tidak ditancapkan pipa melainkan bambu setinggi 50 cm.

Tak jauh dari petakan okra—sekitar 100 m—tampak deretan tanamam terung siap panen. Tanaman tampak tegak tanpa penyangga meski memunculkan 3—4 buah, masing-masing berbobot 320 g. Keunggulan lain fullness—nama terung ini—bisa dipanen pada umur 50—55 hari. Buah berwarna ungu kehitaman dan berbentuk bulat. Konsumen di Taiwan menyukai jenis ini karena rasanya enak dan bisa habis sekali makan.

Pantas jika hampir setiap restoran di pulau Formosa itu selalu menyajikan sayuran segar berukuran mini. Itu karena budaya makan mereka tidak pernah menyimpan sayuran dan buah dalam jangka panjang. Biasanya mereka mengkonsumsi sayuran dalam bentuk segar atau setengah matang. Alasannya lebih renyah dan manis. (Bertha Hapsari)

Artikel Terbaru

Rahasia Kecepatan Tumbuh Lele: Genetik, Pakan, dan Kepadatan Tebar

Kecepatan pertumbuhan lele sangat dipengaruhi faktor genetik dan pemilihan strain. Penelitian lapangan dan uji laboratorium menunjukkan bahwa varietas komersial...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img