Setiap kali musim panen tiba, selalu saja Purwanta Ismaya membuang buah salak yang rusak. “Salak yang tidak terjual karena rusak dalam proses panen atau pengangkutan memiliki persentase cukup besar dan belum termanfaatkan secara maksimal,“ kata pekebun di Desa Bangunkerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, itu.
Purwanta Ismaya membuat lubang berukuran 60 cm x 60 cm. Di situlah ia membuang salak busuk. Para pekebun lain di sentra itu melakukan hal serupa. Sejak 1970 desa itu memang menjadi sentra penanaman salak pondoh dengan luas 10,32 ha.
Jadi bensin
Hambatan lain adalah harga jatuh ketika panen raya akibat pasokan buah anggota famili Arecaceae itu melimpah. Pada 2011, misalnya, harga jual salak di tingkat pekebun hanya Rp3.000 dari sebelumnya Rp4.500 per kg. Ketika daya jual rendah, buah banyak tertahan dan akhirnya juga rusak dan membusuk. Lagi-lagi pekebun membuang buah eksotis itu. Dita Adi Saputra, Yulianti Utami, dan Muhammad Shidiq dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tergerak memanfaatkan salak rusak itu.
Mereka memanfaatkan limbah buah salak menjadi bioetanol alias etanol dari tumbuhan. Langkah pertama, mereka mengupas buah, memisahkan daging buah dan biji, mencacah daging berukuran lebih kecil dengan mesin khusus sehingga memperoleh bubur salak. Dita dan rekan-rekannya memang lebih dahulu merancang mesin pencacah buah salak dan reaktor bioetanol.
Pada bubur itulah, mereka menambahkan 3-5% ragi dan 1% Urea dari total bahan baku. Larutan itu mengalami proses fermentasi selama 3-7 hari. Hasil fermentasi itu mereka saring dan destilasi. Penyulingan bertujuan untuk memisahkan etanol dan air. Ketika mendestilasi, mereka memanaskan larutan fermentasi pada suhu 78-810C sesuai dengan titik didih etanol, yakni 780C. Zat bertitik didih lebih rendah akan mendidih di bawah suhu titik didih yang lain.
Artinya, etanol yang terkandung dalam larutan fermentasi akan mendidih lebih dahulu, sebelum air mendidih pada suhu 1000C. Satu kali proses destilasi menghabiskan waktu 2 jam. Saat mendidih, uap etanol bergerak melalui pipa, kemudian melewati pendingin berupa bak air. Setelah terjadi pendinginan maka etanol akan terembunkan menjadi bentuk cair. Destilasi pertama biasanya menghasilkan etanol berkadar maksimal 50% yang berfaedah sebagai bahan bakar kompor. Destilasi tahap kedua menghasilkan bioetanol berkadar 70-80%, kadar etanol di atas 90% pada destilasi ketiga.
Pengurangan kadar air pada bioetanol juga dilakukan dengan memanfaatkan material penyerap (adsorben) berupa zeolit (batuan berpori banyak), kapur, dan karbon aktif. Menurut Dita rendemen bioetanol salak mencapai 16,6%. Artinya untuk menghasilkan satu liter bioetanol, perlu 6 kg bahan baku berupa daging buah salak. Bioetanol salak itu kini berguna sebagai bahan bakar kompor untuk memasak. Masyarakat di kaki Gunung Merapi itu juga memanfaatkan bioetanol menjadi antiseptik dan bahan campuran bahan bakar kendaraan.
Hemat
Dalam pembuatan bioetanol, kandungan gula dalam buah yang tinggi akan menghasilkan jumlah bioetanol yang tinggi pula. Kadar gula salak pondoh matang rata-rata 79%. Menurut Prof Dr Karna Wijaya MEng dari Departemen Kimia, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pengolahan buah salak pondoh yang semula terbuang menjadi bioetanol mempunyai nilai jual dan manfaat tinggi.
“Produk bioetanol dapat digunakan sebagai energi alternatif substitusi bahan bakar minyak sehingga dapat mengurangi atau menghemat penggunaan bahan bakar minyak dalam aplikasi ketahanan energi nasional,” kata Dita.
Menurut Dr Ir M Arif Yudiarto MEng dari Balai Besar Teknologi Pati, Lampung Tengah, Lampung, pemanfaatan salak rusak menjadi bioetanol memungkinkan karena salak kaya karbohidrat dan gula. Namun Arif menyarankan untuk memakai buah yang rusak ketimbang yang busuk. “Buah yang busuk kadar gulanya sudah berkurang,” kata periset bidang energi baru terbarukan itu.
Menurut Karna, peluang bioetanol dari salak sangat menjanjikan. Mulai dari bahan bakar, kosmetik, pelarut kimia, desinfektan, etil asetat untuk bahan parfum, dan dietil eter-semua membutuhkan bioetanol. Peneliti di Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada itu mengatakan ampas dari proses pun bermanfaat sebagai pupuk organik dengan menambahkan starter.
Periset di Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi, Institut Pertanian Bogor, Roy Hendroko Setyabudi, mengatakan bahan baku bioetanol selanjutnya adalah nonpangan seperti jerami yang mengandung serat lignoselulosa. Sayangnya, riset bioetanol di Indonesia masih terbatas karena biaya penelitian yang terbilang mahal. Memanfaatkan bahan di sekitar yang terbuang seperti buah salak apkir sebuah pilihan. (Susirani Kusumaputri/Peliput: Andari Titisari & Dian Diani Tanjung)
Bioetanol Salak
- Pisahkan daging buah salak rusak dari kulit dan bijinya. Cacah daging buah salak dengan mesin penggiling hingga halus
- Tambahkan ragi dan Urea pada bubur buah salak dan fermentasikan selama sepekan
- Saring hasil fermentasi dan suling pada suhu 780C
- Hasil destilasi bioetanol masih mengandung air
- Pengurangan kadar air dengan mencampur material penyerap air
- Bioetanol siap digunakan
