Sepuluh tahun lamanya, Muhammad Syarif menekuni profesi sebagai teknisi mesin kapal. Pria 44 tahun itu hidup berkecukupan dan kerap melanglang ke mancanegara. Pada 1997, Syarif memutuskan berhenti menjadi teknisi dan memilih membudidayakan kakao. Alasannya kakao adalah salah satu komoditas andalan dari pulau Selebes. Syarif menanam buah anggota famili Sterculiaceae itu di Luwu, 367 km dari kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan.
Di lahan berketinggian 400 meter di atas permukaan laut itu Syarif menanam kakao di area 2,5 ha. Sayang, harapan memetik laba besar cuma impian ketika panen perdana pada pengujung 2005. Produksi pada panen perdana itu hanya 0,5 ton per ha setahun. Idealnya, tanaman asal Tanjung Yucatan, Meksiko, itu berproduksi 1,5 ton per ha. Produksi kakao di kebun Syarif amat rendah karena ia menanam klon lokal nonunggul. Itu membuat semangat Syarif menanam kakao hampir kandas.
Sambung pucuk
Di tengah kegalauan itu, Syarif lalu merehabilitasi kakao atas saran Mars Cocoa Development Center. Lembaga itu merupakan salah satu unit pengembangan kakao oleh Mars Cocoa Sustainability di wilayah Sulawesi. Selama ini Mars Cocoa Sustainability bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember, Jawa Timur, untuk melakukan penelitian dan pengembangan klon-klon unggul di Sulawesi.
Ayah 4 anak itu menyambung samping pada pohon kakao berumur 8 tahun dengan memanfaatkan klon-klon unggul seperti Sulawesi 1 dan M01. Kedua klon itu unggul dan tahan penyakit pembuluh kayu alias vascular streak dieback (VSD). Syarif mengeluarkan biaya Rp5.000 per batang hingga sambungan hidup. Populasi per hektar 1.000 pohon sehingga total biaya sambung samping Rp5.000.000. Padahal, total jenderal luas lahan kakao Syarif 2,5 ha atau Rp12,5-juta. Itu belum termasuk biaya pupuk, pemeliharaan tanaman seperti pemangkasan, serta pengendalian gulma, hama, dan penyakit.
Syarif memberikan 1,5 kg pupuk NPK per pohon setiap 6 bulan. Dosis itu memang melebihi dosis rekomendasi yaitu 300-500 g per 6 bulan. Syarif sengaja meningkatkan asupan hara untuk meningkatkan produksi pohon. “Butuh modal besar untuk mendapatkan hasil yang besar,” ujarnya.
Modal awal yang besar itu bisa kembali setelah 2 tahun tanaman kakao di kebunnya berproduksi. Tahun pertama termasuk masa yang sulit sebab masa investasi, ia banyak mengeluarkan biaya perawatan tanaman. Padahal, tanaman belum berproduksi secara maksimal. Tahun kedua produksi kakao mulai meningkat, yakni 2 ton per ha. Sejak tahun ketiga produksi kakao mulai stabil, 3 ton per ha. Produksi meningkat tiga kali lipat dari sebelum ia menerapkan teknik budidaya itu.
Syarif memperoleh keuntungan bersih Rp7,5-juta per pekan pada saat musim puncak berbuah. Jenis klon yang ia tanam bersifat pembuahan kontinu. Tiap pekan ia memanen 200 kg kakao. Sukses itu menjadi daya tarik bagi para pekebun lain sehingga mereka menerapkan pola budidaya seperti Syarif.
“Menurunkan” produksi
Pada tahun keempat, produksi kakao mencapai 4 ton per ha setahun. Menurut Dr Agung Wahyu Susilo, pemulia tanaman dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jember, Jawa Timur, produksi kakao yang terlalu tinggi menyebabkan tanaman cepat rusak akibat ”kelelahan” menahan buah yang banyak. “Pertumbuhan generatif juga harus diimbangi dengan pertumbuhan vegetatif agar tanaman optimal,” kata Agung. Oleh karena itu Syarif melakukan pengaturan pemupukan dan pemangkasan. Melalui manajemen pemangkasan dan pola pemupukan itu, Syarif mengendalikan produksi kakao menjadi 3 ton per hektar setiap tahun.
Cara pengendalian dengan menurunkan dosis pemupukan, yakni 300-500 g NPK per pohon setiap 6 bulan. Selain itu ia juga menambahkan pupuk organik buatan sendiri berbahan baku daun dan kulit kakao, pupuk kandang, dan kapur pertanian, dengan perbandingan 2 : 2 : 1. Ia memfermentasi campuran itu selama 14 hari. Untuk menggunakan pupuk organik, ia melarutkan 1 liter dalam 15 liter air bersih, mengaduk, dan menyemprotkan di sekujur pohon. Dosis 3-5 kg setiap pohon. Frekuensi penyemprotan pupuk organik 2 kali setahun.
Menurut Agung, klon Sulawesi 1 dan M01 adalah klon yang berpotensi berproduksi hingga 3 ton/ha. Jenis klon itu juga merespon asupan hara yang baik hingga produksi kakao menjadi lebih tinggi. Namun, Agung juga mengingatkan bahwa mendongkrak produksi kakao terlalu tinggi juga memperpendek umur produksi kakao yang umumnya selama 20 tahun. Toh, produksi 3 ton per ha, jauh lebih baik dari rata-rata produksi nasional yang hanya 2 ton per ha. (Pranawita Karina/Peliput: Dian Diani Tanjung)
Dari Kakao Untuk Kakao
- Cacah daun dan kulit kakao untuk mempercepat proses fermentasi.
- Campur daun dan kulit kakao, pupuk kandang, dan kapur pertanian, dengan perbandingan 2 : 2 : 1.
- Diamkan campuran itu selama 14 hari.
- Berikan 3-5 kg setiap pohon 2 kali setahun.
