Sunday, January 25, 2026

Adu Tampilan Domba Garut

Rekomendasi
- Advertisement -
 Lukis, juara ke-1 lomba raja pejantan milik Atep dari Garut, Jawa Barat.
Lukis, juara ke-1 lomba raja pejantan milik Atep dari Garut, Jawa Barat.

Ketiga domba garut milik Diaz Yudha sukses memborong juara kelas pada kontes domba garut.

Diaz Yudha girang bukan kepalang saat mendengar panitia memanggil namanya sebagai pemilik domba juara ke-3 pada kontes yang diselenggarakan Himpunan Profesi (Himpro) Ruminansia Fakultas Kedokteran Hewan Institut Peternakan Bogor (IPB) kategori raja calon pejantan. Kegembiraannya semakin bertambah ketika panitia kembali memanggil namanya sebagai pemilik domba juara ke-2 dan juara ke-1.

“Saya sangat senang ketiga domba saya menjadi juara kontes,” kata pria asal Bogor itu. Menurut anggota Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) sekaligus juri kontes, Adhitya, dalam kategori raja calon pejantan, kriteria yang dinilai sama dengan ketegori raja pejantan, yaitu penampilan fisik. Selain itu umur raja calon pejantan maksimalnya 12 bulan. “Jika sudah copot 2 gigi, maka tidak masuk kriteria,” kata Adhitya.

Diaz Yudha, ketiga klangenannya mendapat juara ke-1, ke-2, dan ke-3 untuk kelas petet atau raja calon pejantan.
Diaz Yudha, ketiga klangenannya mendapat juara ke-1, ke-2, dan ke-3 untuk kelas petet atau raja calon pejantan.

Berbagai tipe
Juri juga menilai muka, daun telinga, pangkal tanduk atas atau puhu dalam bahasa Sunda, pangkal tanduk bawah atau congo, gigi, dan panjang tanduk. Bagian penilaian lain warna bulu, bentuk tubuh, tulang, kaki, dan ekor. Setiap bagian itu memiliki beberapa tipe. Bagian daun telinga, misalnya, terdapat tipe rumpung atau bertelinga sangat pendek, dan ngabulu hiris atau daun telinga lebih panjang, tapi relatif lebih pendek daripada domba lokal pada umumnya.

“Dalam penilaian daun telinga tipe rumpung lebih estetis dibandingkan jenis ngabulu hiris,” papar Adhitya. Contoh lain penilaian bagian ekor. Ekor domba garut terdiri atas dua tipe, ekor tikus atau ngabuntut beurit dan menyerupai ekor babi hutan atau ngabuntut bagong. “Domba berekor ngabuntut bagong memiliki nilai estetika lebih tinggi dibandingkan ekor ngabuntut beurit,” kata juri kontes itu.

Adhitya menuturkan domba garut milik Diaz layak menyandang juara raja calon penjantan. “Sepasang tanduknya sudah terbentuk atau merenah, lebih bagus daripada pesaingnya,” kata peternak sejak 1990-an itu. Domba juara ke-2 dan ke-3 sebenarnya tidak kalah dari segi postur. Namun, bentuk tanduknya kalah indah daripada juara ke-1. Adhitya menambahkan, posisi ujung tanduk yang lebih rendah daripada dagu dapat meningkatkan nilai estetika domba.

Subro, domba garut milik Iyeng juara-2 kategori raja pedaging.
Subro, domba garut milik Iyeng juara-2 kategori raja pedaging.

Iyeng juga merasakan kegembiraan. Perjuangannya menempuh perjalanan jauh dari Kabupaten Bandung, Jawa Barat, membawa 6 domba tidak sia-sia. Dua di antaranya sukses meraih juara yaitu juara ke-1 kategori ratu bibit dan juara ke-2 kategori raja pedaging. Menurut Adhitya dalam kategori ratu bibit, juri menilai fisik berupa postur, warna bulu, muka, dan kualitas anakan domba.

Tendang anak
Adhitya mengatakan terkadang ada peternak nakal yang membawa anakan dari indukan berbeda. Untuk mengetesnya Adhitya kerap melepas anak domba, lalu induknya dibawa berpindah tempat. “Jika anakannya mengikuti induk tapi ditendang oleh induknya, maka anak domba itu bukan anak dari induk yang diikutkan lomba,” katanya. Menurut Adit peran induk betina dalam menghasilkan domba berkualitas sangat penting.

“Sekitar 70—75% kualitas anakan domba dominan dipengaruhi oleh domba betina,” tutur anggota HPDKI itu. Domba betina milik Iyeng menjadi juara kategori ratu bibit karena unggul fisik induk dan anakannya bagus. Untuk juara ke-2 fisik domba agak kurus dibandingkan juara ke-1. Juara ke-3 sebetulnya memiliki fisik bagus, tetapi belum dipijahkan. Pada kategori raja pedaging yang dinilai hanya bobot. Domba berbobot paling tinggi menjadi pemenang.

“Jadi tak peduli tanduknya patah atau posturnya jelek, asal bobotnya tinggi,” katanya. Menurut ketua panitia, Muhamad Bintang, kontes domba garut diselenggarakan untuk memperingati ulang tahun ke-52 Institut Pertanian Bogor. Ketua Himpro Ruminansia, Arie Muhammad, mengatakan kegiatan itu sesuai Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Adhitya, juri kontes domba garut di IPB.
Adhitya, juri kontes domba garut di IPB.

Selain kontes panitia juga menyelenggarakan seminar mengenai inseminasi buatan kambing peranakan ettawa dan domba garut. Acara itu juga dimeriahkan dengan pameran yang diikuti produsen obat dan olahan produk ternak. Menurut Bintang domba garut dipilih sebagai satwa yang dilombakan karena kekhasannya. Selain itu biaya penyelenggaraan kontes relatif murah jika dibandingkan dengan kontes ruminansia besar.

Dalam kontes itu 16 domba garut dari berbagai daerah di Jawa Barat, seperti Kabupaten Bandung, Garut, Purwakarta, Bogor, dan Sukabumi beradu molek. Panitia membagi peserta menjadi 4 kelas, yaitu petet jantan (calon pejantan), raja pedaging, kelas raja pejantan, dan ratu bibit. Kontes itu memperebutkan hadiah berupa uang sebesar Rp3.000.000 untuk juara ke-1, Rp1.250.000 untuk juara ke-2, dan Rp750.000 untuk juara ke-3. (Muhamad Fajar Ramadhan)

COVER 1234.pdf

 

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img