
Jamu gendong, penghijauan, dan sekolah kampung. Itulah beberapa nomine Trubus Kusala Swadaya.
Sebanyak 12 nomine terpilih dari total 60 kandidat yang diajukan pada awal penilaian pada Agustus 2015. Delapan nomine untuk kategori individu dan 4 nomine kategori kelompok. Menurut Emilia Prasetyo, panitia Trubus Kusala Swadaya, semua kandidat menyimpan cerita sukses mengajak orang sekitarnya untuk bangkit melawan keterbatasan dan tampil menjadi pemenang.
Namun, tetap harus ada yang menjadi pemenang. Itu sebabnya panitia mendapuk ekonom dari Universitas Indonesia Prof Rhenald Kasali PhD, sastrawan dan budayawan Arswendo Atmowiloto, serta pengamat kebijakan dari Institute of Ecosoc Rights Sri Palupi sebagai juri. Trubus menampilkan rekam jejak singkat ke-12 nomine Trubus Kusala Swadaya itu.

Kategori Individu
Baban Sarbana: Berdayakan Yatim dan Fakir
Kemiskinan dan pendidikan rendah menjerat masyarakat Desa Tamansari, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat membuat Baban Sarbana terenyuh. Banyak anak Desa Tamansari terkungkung kemiskinan lantaran merupakan yatim atau yatim piatu. Ia tidak berhenti dengan sekadar prihatin, tetapi langsung bertindak. Setelah menamatkan studi di Program Pascasarjana Kajian Strategik Kepemimpinan di Universitas Indonesia, Baban memulai pemberdayaan anak yatim atau miskin.
Ia membuat tempat pendidikan anak usia dini khusus anak-anak yang kurang beruntung dengan biaya yang nyaris tidak masuk akal, hanya Rp2.000 per hari. Bekerja sama dengan donatur, setiap bulan Baban menyalurkan santunan kepada 70 anak yatim atau miskin. Untuk menggalang bantuan bagi anak-anak yang kurang beruntung itu, ia memanfaatkan internet.
Dari sana ia mampu menjalin kerja sama dengan ikatan alumni SMA Negeri 1 Kota Bogor untuk memperoleh bantuan kesehatan bagi anak-anak asuhannya. Baban juga membentuk simpan pinjam dengan nama Kelompok Bunda Yatim Dhuafa untuk memberikan kredit mikro bagi orangtua anak-anak asuhnya.

Heni Sri Sundani: Mendidik Anak Tani
Ibarat tikus mati di lumbung padi. Itulah kondisi warga Desa Jampang, Kecamatan Jampang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pertanian yang menjadi mata pencaharian utama sebagian warga desa tidak mencukupi kebutuhan hidup. Mereka terpaksa melakoni pekerjaan kasar di kompleks-kompleks perumahan. Melihat kenyataan itu, Heni Sri Sundani dan Aditia Ginantaka—suami Heni—sepakat bertindak.
Mereka mengunjungi warga untuk membangkitkan kesadaran terhadap arti penting pendidikan. Heni lantas menginisiasi terbentuknya komunitas Agroedu Jampang untuk menggiatkan usaha masyarakat. Ia juga menggagas Gerakan Anak Tani Cerdas yang berupa pendidikan untuk anak-anak dengan berbagai kegiatan edukatif. Heni dan Aditia juga membuat sejumlah program di bidang ekonomi, antara lain Semai Manfaat Ibadah Qurban, Kampung 1000 Cahaya, Lokakarya Pemuda Wirausaha, dan pendampingan pemulung di 8 tempat pembuangan sampah di sekitar Desa Jampang.

Regina Sari Febianti: Cahaya Dari Minyak Limbah
Bermula dari kepedulian akan limbah minyak jelantah, Regina mengolah minyak goreng bekas itu menjadi minyak lampu berpenampilan menarik. Kelebihan minyak lampu dibandingkan lilin atau minyak tanah adalah tidak menghasilkan asap atau jelaga ketika menyala. Berbeda dengan lilin, minyak itu benar-benar terbakar habis tanpa sisa.
Dengan bantuan 3 anggota keluarga dan 2 pekerja, Regina membuat minyak pada akhir pekan lantaran ia sendiri berstatus karyawan perusahaan energi di Jakarta. Regina merintis Geraigreen yang menghasilkan produk ramah lingkungan berupa minyak lampu, sabun mandi, dan sabun cuci. Ia tidak segan berbagi ilmu melalui komunitas sehingga banyak yang tertarik membuat minyak lampu sendiri. Regina juga aktif mengikuti berbagai pameran.

Yohanes Ferry dan Audrie Sukoco: Bisnis Bulu Mata Palsu
Melalui visi menggerakkan ekonomi daerah dan menjadi pemain di pasar internasional, Yohanes dan Audrie menggerakkan ekonomi pedesaan tanpa urbanisasi. Dengan sistem remote facilities, saat ini pabrik bulu mata buatan D’Eyeko memiliki 2.000 karyawan dan 4.000 mitra usaha yang mampu memproduksi 14-juta pasang bulu mata pada 2014 lalu.
D’Eyeko menciptakan lingkungan kerja berdasarkan para saling percaya, komitmen menghasilkan produk unggul, dan profesionalisme. Untuk menggerakkan ekonomi lokal, mereka memilih lokasi pabrik di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Dengan lokasi di sana, D’Eyeko membuka peluang kerja sama bagi 87 mitra di pelosok Jawa Tengah. Setiap mitra mempekerjakan 30—60 orang.
Itu memberikan efek bola salju terhadap perekonomian masyarakat. Jika banyak kabupaten di sekitarnya mengirimkan pekerja urban di kota-kota besar, Kabupaten Purbalingga tetap ramai oleh putra daerah yang bekerja di tempat kelahiran mereka.

Yoseph Budi Santoso: Ayo Membaca Buku
Buku tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga menjadi jendela menuju dunia luas. Hal baru, pengetahuan menarik, dan informasi berharga tersimpan dalam buku. Pentingnya buku bagi anak-anak membuat Yoseph tergugah untuk menyediakan buku bernilai yang berkualitas baik. Ia membangun Bale Baca dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Rebung Cendani di 5 tempat di Kota Depok dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
TBM Rebung Cendani menjembatani jurang antara ketersediaan buku bermutu dan daya beli anak-anak sebagai pembacanya. Anak-anak dari keluarga kurang mampu pun dapat membaca buku dengan kategori bagus, baik dari segi gambar, warna, jenis kertas, dan ukuran fonta. Dengan cara itu Yoseph berharap anak tertarik membuka dan membaca buku.

Kategori Kelompok
Perempuan Muara Tanjung: Hidupkan dan Hidup Dari Bakau
Melalui penyelamatan hutan bakau, ibu-ibu rumah tangga di Desa Nagalawan, Deliserdang, Sumatera Utara, mencoba meningkatkan pendapatan sekaligus memenuhi kebutuhan gizi rumah tangga. Mereka tergabung dalam Muara Tanjung yang mengolah hasil hutan bakau seluas 5 ha menjadi produk ekonomis. Produk yang mereka hasilkan antara lain kerupuk, dodol, dan sirop—semua dari hasil tanaman bakau.
Lantaran mangrove juga menjadi habitat ikan dan kepiting, para suami mereka—rata-rata menjadi nelayan—tidak perlu melaut terlalu jauh untuk mencari ikan. Pesisir mangrove yang teduh pun mengundang pelancong. Produk Perempuan Muara Tanjung pun laku terjual di tempat produksinya. Kelompok itu juga mempunyai koperasi simpan pinjam yang memberikan sisa hasil usaha untuk para anggotanya setiap tahun. Mangrove yang lebat itu tidak hanya memberikan penghidupan, tetapi juga membentengi kediaman mereka dari ombak besar dan gelombang tsunami.

Sapu Upcycle: Limbah Naik Pangkat
Sebagai kelompok seni kreatif, Sapu di Kota Salatiga, Jawa Tengah, tidak asyik dengan diri mereka sendiri. Daya kreasi seni mereka tumpahkan dalam bentuk daur tambah alias upcycle berbagai limbah. Jika daur ulang adalah membuat plastik baru dari plastik sampah, maka daur tambah mengubah plastik sampah menjadi barang yang bernilai lebih tinggi daripada plastik baru.
Sampah yang mereka manfaatkan antara lain ban dalam truk, botol, tong, atau jeriken, serta majalah—semua bekas. Mereka menciptakan aneka produk kreatif berbahan dasar ban bekas dengan tenaga kerja masyarakat di sekitarnya. Melalui pelibatan warga, Sapu sekaligus melakukan alih pengetahuan dan keahlian kepada masyarakat sekitar melalui interaksi sosial. Kegiatan yang berlangsung sejak 5 tahun lalu itu menyerap tenaga kerja dari masyarakat. Kegiatan itu memberikan kesibukan bagi kaum muda sehingga mencegah kenakalan remaja.

Tunas Muda: Tak Haus di Padang Tandus
Tanah tandus dan gersang di Kabupaten Soe, Provinsi Nusa Tenggara Timur, tidak memberikan hasil memuaskan ketika Lasarus Faot menanam jagung. Hasil panen bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sarus—panggilan Lasarus—lantas mencoba berbagai tanaman sayuran dan hortikultura seperti peria Momordica charantia atau bawang merah Allium cepa.
Meski hanya tamat SD, semangat belajar Sarus tinggi. Percobaan itu berhasil sehingga perekonomiannya membaik sampai ia mampu memperluas tanah garapan miliknya menjadi 6 ha. Pada akhir 2008 Sarus mengajak para tetangga untuk ikut menanam komoditas hortikultura dan membentuk kelompok Tunas Muda. Berawal dari 8 anggota, kini anggota kelompok itu mencapai 40 kepala keluarga yang mengerjakan lahan milik Sarus secara kolektif. Untuk mempertahankan stabilitas harga, anggota Tunas Muda menanam jenis sayuran berbeda dalam satu musim tanam.

Yayasan Merah Putih: Sekolah Kampung
Skola lipu—bahasa Morowali artinya sekolah kampung—diinisiasi oleh Yayasan Merah Putih bersama Komunitas Adat Tau Taa Wana. Latar belakangnya adalah banyaknya masyarakat etnis Wana yang bermukim bagian timur Provinsi Sulawesi Tengah yang menyandang masalah buta aksara. Topografi bergunung-gunung dan terpisah sungai-sungai berbatu menyulitkan akses menuju pemukiman masyarakat etnis Wana.
Akibatnya wilayah itu seakan terisolir dari gempita dunia luar yang semakin menyempit oleh akses internet dan media sosial. Sebagai masyarakat asli yang lugu, etnis Wana kerap dibodohi ketika bertransaksi hasil ladang. Itu menjadi salah satu motivasi mereka untuk belajar. Apalagi wilayah tinggal mereka juga menjadi incaran investor perkebunan kelapa sawit. Melalui skola lipu, Yayasan Merah Putih mengupayakan pendidikan bagi etnis Wana yang nyaris tergilas roda peradaban. (Argohartono Arie Raharjo)
