Pupuk rumput laut plus ikan meningkatkan kualitas dan produktivitas tanaman.

Hasil panen pada Januari 2016 menjadi titik tolak kebangkitan budidaya apel Wahyu Adi Chandra. Bahkan, para petani sekitar rumahnya terheran-heran dengan apel hasil budidaya pemuda 22 tahun itu. “Apelnya kok besar-besar. Pakai pupuk apa?” kata pekebun di Kelurahan Tulungrejo, Kecamatan Junggo, Kota Batu, Jawa Timur, menirukan pekebun lain yang memuji apelnya.
Chandra memanen total 2,1 ton apel ana dan 1,2 ton apel manalagi dari 300 pohon. Produktivitas itu di atas rata-rata dibanding panenan sebelumnya yang hanya 1,2 ton apel ana dan 0,8 ton apel manalagi. Namun, yang membuat pekebun lain terkagum-kagum adalah ukuran buah yang 1,5 kali lebih besar dibanding biasanya. “Jika biasanya 1 kg berisi 7—10 buah, saat ini 6 buah per kg,” ujarnya.
Rumput laut
Keruan saja kualitas tinggi itu menambah pendapatannya lantaran jumlah apel yang lolos sortir makin banyak. Buah apkir karena ada bekas luka gigitan serangga atau ukuran kecil, per kg berisi 20 buah. “Biasanya dari total panen yang tidak lolos sortir 40—50% kini hanya 10—20%. Harga apel apkir Rp1.000 per kg, sementara yang lolos sortir Rp7.000—Rp7.500 per kg,” ujar Chandra.
Lonjakan produksi itu juga mendongkrak omzet Chandra, Rp18.480.000—Rp23.000.000, sebelumnya hanya pada kisaran Rp9-juta. Itu karena Chandra memanfaatkan pupuk organik cair baru. Ia menggunakan pupuk kaya nutrisi berbahan rumput laut dan tepung ikan. Pupuk itu mengandung beragam senyawa yang menyehatkan tanaman seperti mineral, hormon pertumbuhan, vitamin, gula, manitol, laminari, dan alginat.

Menurut ahli pupuk dan nutrisi Universitas Padjadjaran, Bandung, Prof Dr Ir Tualar Simarmata, rumput laut dan ikan mengandung beragam nutrisi bermanfaat untuk tanaman seperti nitrogen, fosfor, kalium yang tergolong makronutrisi dan mikronutrisi seperti mangan, besi, dan klorin. “Nutrisi itu membantu metabolisme tanaman sehingga subur dan berbuah lebat,” ujar Tualar.
Menurut Manajer Pemasaran PT Dua Djaya, produsen pupuk rumput laut dan ikan, Dyah Praningtyas Sari, pupuk itu mengandung beragam hormon pertumbuhan seperti betaine, sitokinin, dan auksin. “Betaine berfungsi untuk meningkatkan proses pematangan buah, sitokinin meningkatkan daya tahan tanaman terhadap patogen dan cendawan, sementara auksin memperbaiki pertumbuhan akar dan batang tanaman,” ujar Dyah. Kandungan lain yang bermanfaat untuk tanaman antara lain manitol, laminarin, dan alginate.
Menurut Prof Tualar manitol salah satu turunan gula. Manitol berfungsi untuk memacu pertumbuhan akar dan kecambah. Laminarin bertugas melindungi tanaman dari cuaca ekstrem. Sementara alginate membantu menekan penyebaran penyakit akibat virus. Beragam senyawa itu bersatu padu meningkatkan kualitas maupun produktivitas tanaman tanpa merusak lingkungan.
Secara umum penggunaan pupuk rumput laut plus ikan akan memperluas dan memperdalam pertumbuhan akar yang membuat bakteri patogen tak mampu berkembang. Selain itu meningkatkan klorofil agar fotosintesis tanaman optimal. “Dua hal itu akan menyehatkan tanaman sehingga mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan bakteri, cendawan, dan virus yang merugikan tanaman,” ujar Dyah.
Hemat pestisida
Kuswinanto juga mencoba pupuk itu di lahan apel 2.000 m2 sejak Agustus 2015. “Biasanya saya melakukan penyemprotan fungisida antara 23—27 kali dalam satu siklus panen. Sejak menggunakan pupuk rumput laut plus ikan frekuensi penyemprotan hanya 17 kali,” ujar Kuswinanto. Sekali semprot ia mengeluarkan biaya Rp45.000—Rp50.000.
Biaya itu meliputi fungisida kontak dan sistemik dengan bahan aktif seperti mankozeb dan heksanokonazol. Dengan demikian ia menghemat biaya fungisida antara Rp450.000—Rp500.000 dalam satu siklus panen. Fakta itu tak lepas dari peran senyawa alginate. “Senyawa bermanfaat itu membantu menekan dan mencegah penyebaran penyakit akibat virus,” ujar Dyah.

Selain hemat kualitas apel Kuswinanto juga meningkat. “Biasanya dalam sekali panen antara 3—4 ton per 2.000 m2, yang apkir mencapai 103—105 kg. Namun, saat panen terakhir hanya 20 kg yang tak lolos sortir,” ujar Kuswinanto yang memperoleh laba bersih Rp10.880.000—Rp17.880.000 dari lahan 2.0002. Itu lebih tinggi dibanding panenan sebelumnya.
Kuswinanto menggunakan pupuk rumput laut plus ikan itu sebanyak setengah liter untuk 6 aplikasi. Ia menyemprotkannya sejak buah berukuran pentil. Ia melarutkan 1 ml larutan per liter air. Namun, pengalaman Chandra yang hanya menggunakan setengah dosis saja sudah efektif.
Pupuk juga membantu merangsang tanaman untuk tumbuh sehat dan produktif. Mudiyanto merasakan manfaat itu. Sebelumnya, pekebun di Tulungrejo itu menggunakan zat perangsang tumbuh yang mengandung beragam hormon. Dalam sekali budidaya ia menghabiskan Rp660.000.

Namun, pada budidaya terakhir ia hanya menggunakan 1/3 dosis atau Rp220.000. Dengan penambahan setengah liter pupuk rumput laut plus ikan dengan harga setengah liternya Rp110.000, sehingga ia bisa menghemat Rp330.000. Bagaimana hasilnya? “Dari lahan 2.500 m2 biasanya saya bisa panen 8 ton, kini meningkat menjadi 10 ton,” ujarnya. Hasil itu akibat ukuran buah yang lebih besar.
Menurut pengamatan pekebun apel sejak 1998 itu, buah bisa lebih besar lantaran umur berkembangnya lebih lama. Kulit buah lebih tebal sehingga kuat terhadap gigitan lalat buah. Itu yang membuat Mudiyanto dan pekebun lain mampu menghemat penggunaan fungisida. Beragam nutrisi pupuk rumput laut dan ikan yang terkandung di dalamnya bertugas untuk menyehatkan tanaman sehingga apel lebih produktif dan berkualitas. (Bondan Setyawan)
