Dengan teknik melatih yang benar, anjing kesayangan pun cepat pintar.

Penampilan Billy, anjing jenis yorkshire terrier memang menggemaskan. Anjing asal Inggris itu bertubuh mungil dan berbulu panjang dengan warna kombinasi abu-abu kebiru-biruan dan cokelat. Meski bertubuh mungil, Cannis lupus itu sangat energik, berani, dan senang bertualang. Hewan anggota famili Canidae itu juga selalu curiga pada orang asing dan agresif pada anjing peliharaan lain.
“Karakter itu sudah terlihat saat Billy masih berumur 2 bulan,” tutur Amelia Tanudjaja. Pehobi anjing asal Kelapagading, Jakarta Utara, itu mengisahkan saat di rumah Billy sangat aktif mengenali barang-barang sehingga kerap membuat berantakan seisi rumah. Menurut pelatih anjing profesional di Sunter, Jakarta Utara, Thamrin Kim, saat anjing berumur 2—4 bulan adalah fase bermain dan mencari tahu.
Sekolah melatih
Thamrin mengatakan, pada umur 2—4 bulan anjing belajar mana yang boleh digigit dan mana yang tidak. Oleh sebab itu Thamrin mengatakan pada umur itulah masa ideal rasa ingin tahu sang anjing mulai diarahkan dengan melatihnya secara rutin. Jika lebih dari umur itu bukan lagi fase bermain, tapi sudah menjadi karakter sehingga akan lebih sulit melatihnya. Namun, sifat Billy kini berubah 180°.
Billy menjadi anjing yang pintar dan penurut. Ia bahkan pernah menjadi juara umum pada 2 kontes keterampilan anjing. Karakter Billy berubah setelah Amelia mengikuti sekolah anjing. Di sekolah itu Amelia belajar berbagai teknik melatih anjing. Thamrin menuturkan fase paling awal dalam melatih anjing adalah menentukan jenis drive, yaitu dorongan dari dalam diri anjing untuk melakukan sesuatu dengan antusias.
Jenis dorongan pada anjing berbeda-beda. Oleh sebab itu untuk mengenali hal yang dapat mendorong sang anjing melakukan sesuatu adalah dengan mengujinya. Salah satunya menggunakan makanan atau food drive. Menurut Thamrin jenis makanan yang dapat digunakan untuk melatih food drive disesuaikan dengan kebiasaan makan sang klangenan. Thamrin menggunakan daging ayam rebus, kemudian dijemur.

“Bisa juga menggunakan biskuit atau pakan anjing pabrikan,” ujar pemilik sekolah melatih anjing FunSmart itu. Thamrin mengatakan cara melatih food drive adalah dengan mendekatkan makanan pada mulut anjing. Ketika sang anjing berusaha menyantap makanan di tangan, maka hindarkan dari mulut sang anjing sehingga ia terus mengikuti gerakan tangan. Begitu seterusnya.
Jika sang anjing terus-menerus mengikuti arah gerakan tangan yang memegang makanan, itu artinya food drive berhasil. Thamrin menyarankan ketika hendak melatih food drive, sebaiknya sang anjing dalam kondisi lapar. “Dengan begitu anjing cepat merespons ketika dipancing dengan makanan,” tuturnya. Setelah selesai berlatih, barulah anjing diberi makan yang banyak. “Waktu melatih tak perlu lama. Cukup 10—15 menit setiap hari. Waktu berlatih 1—2 jam cukup sesekali saja dalam setiap pekan,” kata Thamrin.
Latihan dasar

Cara lain dalam melatih drive adalah menggunakan mainan (play drive), seperti bola, frisbee, atau picker. “Pilih mainan yang paling disukainya,” ujar Thamrin. Play drive untuk anjing yang sudah berlatih tahap lanjut atau intermediate. “Untuk pemula lebih baik menggunakan makanan. Berlatih food drive juga baik untuk meningkatkan bonding atau ikatan batin dengan pemilik sehingga anjing mudah menurut kepada pemiliknya,” kata pelatih yang pernah mengikuti seminar dan pelatihan anjing di dalam dan luar negeri itu.
Thamrin menjelaskan setelah berhasil menentukan jenis drive, barulah berlatih latihan dasar, yaitu belajar memberikan perintah, larangan, dan pujian. Menurut Thamrin ketika memberi perintah dan larangan (no) hindari mengucapkannya hingga berkali-kali dengan interval yang terlalu cepat. “Jika terbiasa memberikan perintah dan larangan berkali-kali, maka sang anjing tidak akan patuh hanya dalam sekali perintah,” kata pria berkacamata itu.
Thamrin menuturkan dalam memberi pujian pun sang pemilik tidak boleh terlambat. “Begitu anjing berhasil melakukan perintah atau larangan, maka segera berikan pujian dengan cara mengelus atau memberikan snack,” katanya. Jika terlambat maka akan tertanam dalam insting sang anjing bahwa ia tidak akan lagi mendengarkan perintah dan larangan karena tidak mendapatkan imbalan apa pun.

“Yang terpenting hindari memberikan perintah dan larangan dengan kekerasan seperti memukul anjing dengan tongkat atau koran sekali pun,” kata Thamrin. Latihan dasar selanjutnya adalah memperkenalkan benda yang boleh digigit dan tidak. Selama ini para pehobi anjing kerap mengeluhkan sang anjing yang suka menggigit barang-barang di dalam rumah.
Pemilik anjing jenis puddle, Claire Enast, saat ditemui pada seminar pelatihan anjing Inside The Dog yang diselenggarakan FunSmart pada 3 April 2016 mengatakan, “Tisu di rumah sering kali habis digigit-gigit.” Menurut Thamrin cara memperkenalkan benda yang tidak boleh digigit seperti tisu dan sepatu dengan melumurinya dengan minyak kayu putih atau balsem.
Dengan cara itu anjing enggan menggigit karena benda itu menjadi terasa pedas. “Cara yang sama juga bisa dilakukan untuk melatih anjing yang suka mengigit anggota tubuh pemilik, seperti tangan dan kaki,” kata Thamrin. Jika anjing batal menggigit, segera berikan pujian dengan memberikan makanan atau elusan. Dengan latihan seperti itu anjing pun menjadi “sahabat” yang menyenangkan. (Imam Wiguna)
