Tuesday, January 27, 2026

Terbang Tinggi dan Kembali

Rekomendasi
- Advertisement -

Para pehobi yang bergairah menerbangkan burung paruh bengkok di gunung, hutan, lautan.

“Zorro, go!” seru Andreas Bong sambil melemparkan seekor makaw blue and gold kesayangannya ke udara. Burung paruh bengkok berukuran 40 cm itu segera terbang bebas mengelilingi lahan terbuka seluas 2 hektare di Kota Delta Mas, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Burung asal daratan Amerika Selatan itu terbang tinggi hingga bagai sebuah titik di angkasa.

559_38-1Bahkan, kadang-kadang sosoknya seperti hilang, tak tampak oleh mata. Kalau sudah demikian, pehobi asal Jakarta Barat itu segera meniup peluit khusus sambil berteriak memanggil nama burungnya supaya terbang kembali ke arah suara. Benar saja, tak sampai 3 menit siluet Zorro muncul di angkasa. Teriakan riangnya terdengar semakin keras dan berakhir saat hinggap dengan mulus di tangan Andreas.

Di tengah laut
Kegiatan Andreas bersama klangenanya itu disebut free fly atau melemparkan burung untuk terbang ke alam bebas selama waktu tertentu dan kembali kepada pemiliknya. Nyaris setiap pekan, Bong–panggilan Andreas—dan rekan-rekan yang tergabung dalam Free Fly Mania Indonesia yang berbasis di Jakarta Barat melakukan latihan bersama. Lokasinya selalu berpindah-pindah tergantung kesepakatan peserta.

Lokasi free fly harus lazimnya memiliki area pandang yang luas dan jauh dari pemukiman penduduk untuk menghindari pencurian burung saat terbang rendah. “Pada awalnya rata-rata hanya 5 orang pehobi yang turut serta, belakangan semakin banyak yaitu mencapai belasan orang,” ujar Bong. Itu semua tak lepas dari bantuan sosial media untuk menyebarluaskan foto-foto, video, dan berbagai informasi seputar free fly.

Pehobi paruh bengkok asal Kalideres, Jakarta Barat, Daniel Jo, salah satu penggagas FFM Indonesia yang paling rajin mengunggah foto dan video di media sosial. Momentum yang terabadikan saat burung berwarna-warni cerah mengudara itu sangat indah dan menggugah rasa ingin tahu masyarakat.

Menurut Daniel Jo anggota komunitas di media sosial mencapai 3.204 orang yang tersebar di berbagai kota di seantero Indonesia seperti Bogor, Malang, dan Pekanbaru. Daniel Jo acap kali mengajak para anggota komunitas untuk free fly burung paruh bengkok di lokasi ekstrem seperti pegunungan, danau, tebing terjal, dan tengah laut. Pada pertengahan Juni 2015, mereka menempuh perjalanan menuju pantai Sawarna, Provinsi Banten.

Pohon tinggi
Menurut anggota komunitas, Koh Afu, free fly juga ada nilai seni dan tantangannya. “Burung yang sudah jago atau berpengalaman, dapat diajak untuk terbang ke berbagai tempat, tidak terpaku di tanah lapang lagi. Yang penting burung harus benar-benar bonding atau terikat dan mengenal secara batin dengan pemiliknya,” ujar Afu yang memiliki burung berpengalaman free fly bernama Sham (makaw shamrock) dan Buff (makaw buffon).

Peserta  FFM Indonesia Competition 2016 di Delta Mas, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, dari berbagai kota di Pulau Jawa.
Peserta FFM Indonesia Competition 2016 di Delta Mas, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, dari berbagai kota di Pulau Jawa.

Agar burung cepat bonding, Afu memperlakukan penuh kasih sayang dan disiplin meluangkan waktu untuk bermain bersama klangenan. Waktu sampai benar-benar bonding memang bervariasi tergantung jenis burung, intensitas, dan kualitas interaksi antara pehobi dan burung. Menurut Afu pehobi bisa menerbangkan burung di luar ruangan rata-rata setelah 5 bulan berlatih.

Kini Free Fly Mania Indonesia digawangi oleh 3 serangkai anggota senior, yaitu Andreas Bong, Koh Afu, dan Daniel Jo. Meski tidak ada susunan hierarki dalam komunitas, para anggota menjuluki presiden kepada Andreas dan jenderal kepada Afu. “Itu sebutan untuk mempererat persaudaraan antaranggota saja. Faktanya Andreas menjadi tujuan bagi anggota dan pemula untuk mencari ilmu dari pengalamannya di dunia free fly,” kata Daniel.

Komunitas terbuka
Komunitas FFM Indonesia semula tempat berkumpulnya pencinta burung paruh bengkok. “Sementara ini kami spesifik pada parrot, apa pun jenis dan ukurannya,” ujar Daniel. Menurut pehobi parung bengkok sejak 2014 itu sebagian besar anggota komunitas memang mengawali hobi dari burung berukuran kecil seperti sun conure. Kemudian meningkat ke ukuran menengah seperti african grey dan ukuran besar, yaitu jenis makaw.

Sebagai bukti keseriusan mengembangkan komunitas, pada 24 April 2016 terselenggara FFM Indonesia Competision di Delta Mas, Cikarang. Gelaran perdana itu menyedot perhatian pehobi free fly dari berbagai kota di Pulau Jawa, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Malang. Tercatat 50 peserta mengikuti acara adu ketangkasan sekaligus temu anggota yang selama ini hanya berinteraksi lewat media sosial. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img