Latihan untuk mengurangi risiko anjing keracunan.
Verry Haryanto gusar melihat anjing peliharaannya, Edgar, terbaring tak berdaya. Lidahnya kebiruan dan menjulur, napas tak beraturan, dan sesekali muntah. Baru sekali itu Edgar keluar rumah lantaran Verry lupa mengunci pagar. Namun, setelah pulang anjing berumur 2 tahun itu menampakkan gejala yang tidak biasa, yakni lemas, mulut mengeluarkan air liur, dan napas tidak teratur.

Pehobi anjing di Purworejo, Provinsi Jawa Tengah, itu menduga Edgar mengonsumsi makanan beracun. Ia segera memberikan susu kepada anjing german shepperd itu. Namun, upaya itu tidak menolong. Sejam sejak muncul gejala keracunan, Edgar meregang nyawa. “Saya terlambat membawanya ke dokter,” ujar Verry. Pehobi seperti Verry lazimnya menempatkan anjing penjaga di depan rumah sehingga orang yang berniat buruk acap memberikan racun.
Norit
Menurut dokter hewan di Kotamadya Bekasi, Provinsi Jawa Barat, drh Normasari, kasus anjing keracunan sering terjadi. Penyebabnya pemilik anjing kurang perhatian sehingga anjing mengonsumsi sesuatu yang terlarang seperti cairan pembersih, sampo, sabun dan bedak antikutu. Oleh karena itu perlu pengawasan terhadap anjing peliharaan. Para pehobi sebenarnya dapat mengatasi kasus keracunan bila cepat menangani.

Bagaimana pertolongan pertama untuk menangani anjing keracunan? Pehobi dapat merangsang anjing untuk memutahkan racun. Caranya dengan memijit perut, memberikan tablet norit, atau susu sebagai antiracun. Dosis sesuai bobot badan anjing. Lima tablet norit cukup untuk anjing berukuran besar. Setelah itu segera bawa ke dokter hewan. Dokter biasanya akan memberikan infus kepada anjing untuk mengurangi dampak dehidrasi.
Bila anjing belum bisa memuntahkan racun, berikan hidrogen peroksida untuk merangsang anjing memutahkan isi perutnya. Bila setelah tindakan itu kondisinya membaik, biasanya dokter memperbolehkan pulang dan mewajibkan kontrol 3 hari kemudian. Bila nafsu makan membaik, berarti kondisi anjing terbebas dari racun. Cara lain dengan melatih anjing seperti yang dilakukan oleh pelatih dari sekolah anjing Fun Smart, Thamrin Kim.

Anjing peliharaan Thamrin bernama Buzz sudah terlatih tidak memakan apa pun sebelum diperbolehkan oleh Thamrin. Itu dapat mengurangi risiko anjing memakan makanan beracun. Thamrin melatih anjing betina jenis belgian malinois itu dari umur 2 bulan. Pada umur 2—4 bulan fase bermain dan mencari tahu. Itulah sebabnya pehobi perlu mengajarkan mana yang boleh dan terlarang digigit.
Menurut Thamrin saat paling tepat untuk melatih anjing pada umur 2 tahun. Sebab, pada saat itu anjing mempunyai rasa ingin tahu yang besar. Sebaiknya para pehobi mengarahkan keingintahuan itu dengan melatih secara rutin. Thamrin mengatakan, melatih anjing yang berumur lebih dari 2 tahun lebih sulit. Sebab, “Bila lebih dari umur itu, anjing agak susah dilatih karena sudah memiliki karakter,” kata Thamrin.
Olesi balsem
Puppy atau anak anjing sangat suka bermain dan menggigit barang yang menarik perhatian, seperti sofa, sepatu, sandal, atau tisu. Untuk mengajarkan mana yang boleh dan terlarang digigit dengan barang yang telanjur rusak karena gigitan anjing. Barang yang terlarang digigit, segera lumuri minyak kayu putih atau balsem. Kemudian lempar tanpa bersuara, bila anjing mencium atau menggigitnya segera katakan, “No!” untuk melarangnya.

Barang yang diolesi minyak kayu putih atau balsem bila tergigit atau termakan akan terasa pedas atau pahit oleh anjing. Dengan demikian anjing akan menghafal perintah dan efek tidak enak terhadap barang yang digigit atau dimakan. Setelah anjing melepas gigitan, lemparkan mainan yang diperbolehkan, misalnya bola. Bila anjing mengejar, dan mengembalikan bola segera elus dan puji dengan mengatakan “Good”.
Latihan itu menyebabkan anjing dapat mengenali mana yang diperbolehkan dan terlarang. Upayakan agar latihan secara rutin. Pada tahap selanjutnya latih anjing menggunakan makanan yang biasa dimakan. Latihan untuk mengajarkan kapan boleh mengonsumsi makanan. Letakkan makan di tempat makan, bila anjing maju untuk mengambil makan, tahan tali pengikatnya dan katakan, “No” sampai anjing diam dan tenang.
Ketika sudah tenang, elus anjing dan puji dengan mengatakan, “Good”. Kemudian katakan, “Oke” untuk memperbolehkan anjing makan. “Lakukan berulang dan rutin agar anjing paham perintah-perintah itu,” kata Thamrin. Anjing yang terlatih, tidak akan menyentuh makanan meski diberikan makanan kesukaannya. Anjing menunggu izin dari pehobi. Latihan itu untuk mengantisipasi anjing mengonsumsi makanan beracun.
Manfaat lain akan terasa ketika bersosialisasi dengan anjing lain. Latihan itu mendidik anjing untuk tidak berebut pakan. Bila anjing lain diberi makan, ia tidak serta-merta berebut makanan yang dapat mengakibatkan perkelahian antaranjing. Anjing tetap tenang meski belum memperoleh makananan. (Muhammad Awaluddin)
