
Tupai gula kini tampil modis dengan beragam aksesori.
Busana karya Coco Chanel pilihan sempurna perempuan cantik yang ingin jadi pusat perhatian. Perancang busana asal Perancis itu sumber inspirasi lahirnya beragam karya seperti seperti topi, jaket, dan blus yang mendunia pada abad ke-20. Kini bukan hanya perempuan yang menjadi pusat perhatian. Dengan topi, blus, dan jaket nan menawan tupai gula atau sugar glider pun jadi satwa yang memikat meskipun di tengah kerumunan.

Di tangan Indrie Yaniz tupai gula bersalin rupa bak perempuan sosialita yang tengah beraktivitas di kota metropolis. Petaurus breviceps itu berbalut gaun, terlindung topi, dan menggendong tas menembus keramaian publik. “Efeknya beda banget membawa sugar glider yang berdandan dan beraksesori dengan yang polos,” kata Indrie. Dengan balutan aksesori hampir semua mata tertuju pada pet klangenan Indrie.
Tren baru

Tupai gula mungil nan lucu itu tak kalah modis dengan pemiliknya yang juga cantik dan trendi. Menurut pemilik Urbanpet di Karawang, Jawa Barat, Lutfhi Ansori, tren busana dan aksesori di kalangan pehobi tupai gula mengikuti jejak satwa yang telah lebih dahulu populer yaitu kucing dan anjing. Di kota besar seperti Tokyo, London, atau Jakarta banyak pemilik kucing dan anjing mendandani klangenannya lalu mengajaknya berjalan-jalan menembus keramaian kota.

Di kota-kota besar itu pehobi mendandani satwa klangenan layaknya anak kesayangan. Sering kali mereka menggunakan kereta bayi lalu meletakkan satwa di atas kereta. “Di atas kereta bayi pet terlihat cantik tanpa khawatir mengganggu pejalan kaki lain yang ditemui,” kata Imam Damar Djati PhD, pengajar design culture di Institut Teknologi Bandung yang kerap mengamati orang-orang Jepang berinteraksi dengan hewan kesayangannya.

Gejala itu membuka peluang bisnis turunan dari tren tupai gula di kalangan anak muda. “Dulu bisnis turunan dari sugar glider hanya kandang, pakan, dan pouch atau kantong. Kini banyak yang membuat aksesori khusus tupai gula,” kata Lutfhi. Bukan tidak mungkin pada masa depan tren mendandani tupai gula juga dilombakan. Menurut Lutfhi kini minimal ada 10 pemain tupai gula di Jakarta dan sekitarnya yang mulai membuat beragam aksesori.

Menurut pengelola Ingonan di Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, Naluri Nasution, tupai gula memang tetap merasa nyaman meskipun didandani aksesori seperti topi, selendang, atau selimut. “Mereka sebetulnya hewan nokturnal alias aktif pada malam hari. Saat tubuhnya terbalut aksesori, mereka lebih terlindung cahaya,” kata Nasution. Pada masa awal tren tupai gula 1—2 tahun silam, aksesori hanya berupa kantong-kantong cantik tempat satwa itu bersembunyi.

Menurut Indrie satwa anggota famili Petauridae itu menyukai bahan aksesori berupa kain tebal yang lembut dan bukan berbahan nilon. “Bila merasa tidak nyaman dengan aksesori, biasanya sugar glider gelisah saat mengenakan aksesori. Sebaliknya, saat merasa nyaman, mereka tenang seperti tidak terjadi apa-apa,” kata pegawai di sebuah bank swasta itu.

Revolusi kantong
Menurut pemilik Benkstore Accessories Sugar Glider di Jakarta, Bambang, kini aksesori berupa kantong tempat berlindung tupai gula juga mengalami revolusi besar-besaran. “Dulu bentuk pouch atau kantong hanya seperti kantong baju dengan warna polos. Kini bentuknya sudah berkembang menjadi seperti tas kamera saku. Motif tas pun tak melulu polos, tapi juga beraneka ragam agar terlihat trendy,” tutur Bambang.

Bambang menyebut tas semodel itu dengan nama travel pouch camera. Bambang juga membuat aksesori selimut kandang khusus travel. “Prinsipnya saya ingin membangun citra bahwa memelihara sugar glider itu hobi yang berkelas. Bukan sekadar peliharaan binatang biasa yang sering kali dianggap kampungan,” kata Bambang.

Dengan aksesori cantik itu jalan-jalan menembus kota besar tidak lagi menjadi halangan karena pemiliknya takut terganggu penampilan modisnya. Musababnya menurut Nasution, pehobi tupai gula didominasi oleh kalangan anak muda menengah ke atas yang penampilannya trendi dan wangi. Mereka sangat melek mode sehingga sadar betul satwa bukanlah pengganggu penampilan. (Destika Cahyana, kontributor Trubus)
