Tuesday, January 27, 2026

Si Jumbo Asal Meksiko

Rekomendasi
- Advertisement -
Ceplukan jumbo berbobot 10 kali ceplukan biasa.
Ceplukan jumbo berbobot 10 kali ceplukan biasa.

Ceplukan jumbo mulai berbuah 2 bulan pascatanam.

Buah ceplukan lazimnya hanya berbobot 10—20 gram. Namun, Yusuf Muhajirin memetik buah ceplukan di halaman rumahnya berbobot 10 kali lipat. Satu kilogram terdiri atas 8—10 buah. Seperti ceplukan lain, si jumbo itu juga bersembunyi di balik seludang berwarna krem. Untuk menikmati buah anggota famili Solanaceae itu Yusuf membuka pembungkus buah. Begitu tersingkap, tampaklah kulit buah yang kuning cerah menggoda.

Pehobi di Jetis, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur, itu mengusap buah ceplukan jumbo dan melahapnya. Ketika giginya menekan buah itu seketika cairan manis mengalir membasahi kerongkongannya. Dari segi rasa, ceplukan itu mirip ceplukan pada umumnya tetapi lebih manis. “Kalau dirasakan manisnya mirip apel manalagi tapi agak tanggung,” ujar Yusuf. Ceplukan jumbo itu juga renyah.

Masyarakat internasional menyebutnya ghoseberry. Menurut Sobir Thailand juga menjajakan ceplukan jumbo di pasaran. Ahli buah dari Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Sobir, mengatakan bahwa buah itu memang ceplukan, meski ada yang menyebut tomat Meksiko.

Asal Meksiko

Ceplukan jumbo milik Yusuf Muhajirin datangkan dari Meksiko setahun silam.
Ceplukan jumbo milik Yusuf Muhajirin datangkan dari Meksiko setahun silam.

Yusuf membudidayakan total 100 tanaman kerabat kentang itu di pot pada Mei 2016. Dalam satu periode budidaya sebuah tanaman menghasilkan rata-rata 10 buah. Meski ukuran buah besar, pria 39 tahun itu tak menopang cabang dengan ajir. Itulah sebabnya tanaman kerabat cabai itu tampak kepayahan menggendong buah yang besar. Ia memperoleh benih ceplukan jumbo itu dari rekannya di Meksiko.

Itu bermula dari sebuah foto di media sosial yang mencengangkan Yusuf. Ia bagai jatuh cinta pada pandangan pertama. “Ukurannya besar alias jumbo. Saya baru pertama kali melihatnya,” ujarnya Yusuf mengenang ketika menyaksikan foto ceplukan itu. Foto itu muncul di akun temannya asal Meksiko di situs pertemanan dunia maya. Begitu melihat foto ceplukan jumbo itu tanpa menunggu waktu, ia langsung memesan 100 biji ceplukan.

“Proses pengiriman selama 3 pekan,” ujar pehobi tanaman buah sejak 2011 itu. Setelah sampai Indonesia, ia merendam benih dengan air hangat suam-suam kuku selama 60 menit. Setelah itu Yusuf menyemai benih di media kompos dengan tetap menjaga kelembapan. “Kalau musim panas saya semprot dengan air biasa sehari dua kali, untuk sekadar menjaga kelembapannya,” ujarnya.

Ia meletakkan persemaian benih itu di tempat teduh, misalnya di bawah rindang pohon dan terlindung dari sinar matahari langsung. Selang sepekan, biji ceplukan itu berkecambah. “Dari 10 biji yang saya semai, hanya 6—7 benih yang tumbuh. Sisanya tidak tumbuh,” ujar lelaki yang juga peternak lele itu. Yusuf menduga benih itu kopong sehingga tidak normal dan tidak bisa berkecambah.

Rasa ceplukan jumbo mirip apel manalagi.
Rasa ceplukan jumbo mirip apel manalagi.

Alumnus Sekolah Menengah Atas 2 Mojokerto itu membiarkan bibit yang berkecambah itu selama kurang lebih dua pekan di media kompos. Setelah dua pekan atau muncul 2—3 daun, bibit siap pindah tanam di polibag. Yusuf menggunakan media tanam kompos dan sekam mentah dengan perbandingan 1 : 1. Menurut ayah 3 anak itu perawatannya cukup sederhana. Yusuf menyiram dua kali sehari pada pagi dan sore hari.

Benih kering
Berselang satu bulan, tanaman mulai berbunga. Proses pembuahan ceplukan jumbo seperti pada tanaman tomat. “Pada umur 3 bulan tanaman berhenti berproduksi dan mati sehingga harus tanam bibit baru lagi,” kata Yusuf. Kali ini ia fokus menghasilkan benih. Oleh karena itu, Yusuf memanen buah ceplukan jumbo saat sudah tua. Cirinya kulit buah mulai mengering atau keriput.

“Umur buah tua kira-kira 2—3 minggu setelah berbunga,” ujar pehobi olahraga tenis meja itu. Yusuf membelah buah matang untuk memperoleh bijinya. Dari satu buah ceplukan jumbo, ia memperoleh 100 biji. Ia lalu mengeringanginkan biji ceplukan selama kurang lebih 3 hari tanpa terkena sinar matahari langsung. Untuk mengemas benih kering itu, Yusuf memasukkannya ke dalam lipatan tisu kering dan plastik klip.

Banyak pehobi dari berbagai kota, bahkan mancanegara yang ingin menanam ceplukan jumbo. Yusuf menyediakan benih ceplukan jumbo untuk mereka. “Para pembeli benih ceplukan jumbo produksi saya dari berbagai daerah seperti Parigimoutong, Provinsi Sulawesi Tengah, Mamuju Utara (Sulawesi Barat), Lhokseumawe (Nanggroe Aceh Darussalam), dan Balikpapan (Kalimantan Timur), serta Bangladesh.”

Ia menjual sekitar 300 biji ceplukan jumbo per bulan. “Para pembeli awalnya penasaran dari segi rasa seperti apa?” ujar lelaki kelahiran 22 Desember 1978 itu. Dari setiap 100 biji yang Yusuf produksi tingkat keberhasilan tumbuhnya mencapai 80%.

Ceplukan jumbo mulai berbuah 2 bulan pascatanam.
Ceplukan jumbo mulai berbuah 2 bulan pascatanam.

Budi Kuncoro di Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, juga jatuh hati pada ceplukan raksasa itu. “Saya tertarik karena aneh yaitu ukuran buahnya yang 10 kali lebih besar dibandingkan dengan ceplukan biasa,” ujar Budi. Ia membeli 15 benih ceplukan jumbo dari Yusuf Muhajirin 4 bulan lalu. “Benih saya semai bisa tumbuh semua,” ujarnya. Budi menyemai 15 benih itu di media rockwool selama 15—20 hari.

Setelah tumbuh 4 daun, ia memindahkan ke media tanam campuran tanah, pupuk kandang, dan sekam mentah dengan perbandingan 2 : 3 : 1. “Untuk pemupukan saya menggunakan pupuk NPK 16-16-16,” ujarnya. Ia mencampur segelas NPK dengan 10 liter air. Larutan 10 liter air itu ia encerkan dengan 40 liter air. “Pertanaman bisa dapat sekitar 1 liter,” ujar pehobi tanaman anggur itu.

Di tempat Budi, ceplukan asal Meksiko itu mulai berbuah sekitar sebulan lebih 15 hari setelah tanam. Per tanaman bisa menghasilkan 20—50 buah. Menurut Budi Kuncoro ceplukan jumbo itu rentan serangan hama lalat buah, sehingga ia menyungkup tanaman itu sejak berbunga dengan plastik ukuran 1 meter. “Tanaman tertutup dan dapat udara dari bawah,” ujar pehobi hidroponik itu.

Fathurrahman di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, juga penasaran dengan ceplukan jumbo. Ia membeli 20 benih dari Yusuf. “Saya menyemai benih ciplukan di media rockwool. Semuanya hidup, tidak ada yang mati,” ujar pehobi hidroponik itu.

Selang 15 hari, ia memindahkan bibit itu ke media tanam campuran 40% kompos dan 60% sekam mentah. Di tempat Fathurrahman, ciplukan jumbo mulai berbunga sebulan pascatanam. (Bondan Setyawan)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img