Trubus — Bawang merah rentan terserang organisme pengganggu. “Bawang rentan terserang layu fusarium sebelum umur 25 hari,” ujar Mudatsir, petani di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, itu. Meski begitu penggunaan pupuk organik terfermentasi dapat menekan serangannya. Menurut ahli hama dan penyakit tanaman, Ir. Final Prajnanta, M.M., serangan fusarium amat merugikan.
“Munculnya serangan moler ditandai dengan tanaman yang mendadak menjadi layu dan menguning,” kata alumnus Universitas Jenderal Soedirman itu. Lantaran serangan fusarium menyebabkan daun melintir, petani menjulukinya dengan nama moler atau nginul. Ciri khas serangan moler daun mengerut dan melintir. Efek serangan yang lainnya, umbi membusuk sehingga lama-kelamaan tanaman mati.
Ulat grayak
Untuk menanggulangi serangan moler, Final menyarankan petani menggilir tanaman dengan padi. Tidak hanya itu, penggunaan musuh alami seperti Trichoderma juga mampu menekan serangan moler. Serangan moler yang lebih parah dapat diatasi dengan penggunaan pestisida. Gunakan pestisida berbahan aktif prochloraz dan propiconazole. Final menjelaskan penggunaan pestisida itu banyak diaplikasikan petani bawang di Brebes (Jawa Tengah), Nganjuk, dan Probolinggo (Jawa Timur).
Pada penggunaan pestisida petani dapat menggunakan 400—500 ml per hektare. Penyemprotan dilakukan saat awal serangan dan lakukan pengulangan jika serangan masih terjadi. Menurut Final selain serangan penyakit bawang merah juga rentan terserang hama. Tanaman anggota keluarga Amaryllidaceae itu sering terserang ulat grayak Spodoptera exigua. Hama itu bertelur di daun kemudian menetas menjadi larva yang memakan habis daun bawang.
Untuk mengatasinya, Final menyarankan pergiliran tanaman dengan padi. Lakukan sanitasi kebun dari berbagai gulma. Cara lainnya dengan memasang perangkap lampu (light trap) untuk menangkap imago atau serangga dewasa. Untuk mengatasi hama ulat Mudatsir pun memasang perangkap. Ia menggunakan botol plastik yang diolesi lem. Pemasangan 50 perangkap per hektare. Perangkap itu akan menjebak serangga.
Serangga yang terperangkap tidak dapat bertelur sehingga populasi larva pun terkendali. Apabila serangan larva melebihi ambang batas, Final menyarankan penanganan ulat grayak menggunakan pestisida. Penanggulangan bisa menggunakan insektisida berbahan aktif indoxacarb dan nuvaluron. Dosis penyemprotan 1 liter per hektare. (Desi Sayyidati Rahimah)
