Sunday, January 25, 2026

Seri Walet (266) Agar Pas Bangun Gedung Walet

Rekomendasi
- Advertisement -
Perlu mempelajari lintasan burung sebelum membuat gedung walet. (Dok. Trubus)

Cek lokasi sebelum membangun gedung walet, memperhatikan lokasi sentra, lintasan walet terbang, dan lingkungan.

Trubus — Pemilik rumah walet di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat hanya memanen 20—30 sarang di sebuah gedung 120 m² setinggi 3 lantai setiap kali panen. Sebetulnya total panen 100 sarang burung. Artinya 70—80 sarang hasil panen merupakan sarang sriti Collacalia esculenta. Menurut praktikus walet di Cengkareng, Jakarta Barat, Philip Yamin, banyak faktor kegagalan budidaya walet.

Pelantang mini mudah dibawa
berguna untuk mengecek lokasi. (Dok. Philip Yamin)

Faktor paling fatal adalah kesalahan pemilihan lokasi gedung walet. Contohnya pada lokasi dominan sriti seperti kasus pemilik rumah di Sukabumi, perlu waktu menata koloni walet agar tidak kalah oleh koloni sriti. Philip mengatakan, membangun gedung walet baru setidaknya perlu memperhatikan 3 hal, yakni lokasi sentra, lintasan walet terbang, dan lingkungan berkaitan dengan ketersediaan pakan walet.

Pelantang mini

Meski memperhatikan tiga faktor itu bukan jaminan keberhasilan budidaya walet. Menurut Philip jika hendak membangun gedung perlu memperhatikan kondisi sentra. Contoh produksi di sentra menurun hingga stagnan dan walet kembali ke gedung pada malam hari tandanya tidak layak membangun gedung walet baru. Walet pulang ke gedung larut indikasi jarak antara gedung walet dan tempat pakan jauh.

Jika lokasi mencari pakan jauh koloni walet akan bermigrasi ke daerah yang lebih dekat dengan pakan. Imbasnya penurunan hasil panen di suatu sentra. Menurut peneliti walet di Badan Karantina Pertanian, Dr. drh. Helmi, serangga pakan walet berkaitan dengan lokasi gedung. Contohnya serangga keluarga Botrichidae, Staphilinidae dan Delpachidae lazim ditemukan di sawah dan kebun tebu.

Serangga lain keluarga Notonocidae adalah serangga air, kemungkinan dimakan ketika walet minum di sungai. Philip mengatakan, tempat berair juga disenangi walet contohnya sawah dan rawa. Adapun pada sentra yang masih baik, memiliki peluang berhasil lebih tenggi. Namun, bukan tanpa aral. Tantangannya membuat gedung walet lebih baik dibandingkan dengan gedung walet yang sudah ada.

Hasil panen tinggi bergantung pemilihan lokasi tepat.

Sebelum membuat gedung walet perlu menguji atau mengecek lokasi. Menurut Philip kini melakukan cek lokasi amat mudah karena tersedia alat pelantang atau pengeras suara player mini yang bisa dijinjing. Pelantang itu bisa terdengar hingga radius 5.000 meter. Menurut Philip ada 2 versi player mini berdasarkan sumber daya. Versi pertama menggunakan sumber daya baterai kotak 9 volt.

“Jika kondisi baterai baik bisa optimal hingga 30 menit,” kata Philip. Peternak tidak perlu risau kehabisan baterai karena baterai bisa diisi ulang atau menggunakan aki sebagai sumber daya. Versi ke-2 lebih canggih, daya player mini bisa diiisi ulang. Pengisian 3 jam cukup untuk 6 jam pemakaian. Menurut Philip alat itu sangat membantu, apa lagi untuk mengecek di daerah pedalaman yang tidak terjangkau kendaraan.

Cek lokasi

Dahulu mengecek lokasi dengan menggunakan pelantang dari mobil sehingga hasil kurang optimal. Kini pengecekan lokasi dengan cara membunyikan pelantang minimal selama 1 jam di lokasi. Menurut pria asal Tanjungbalai, Provinsi Sumatera Utara, itu jika sedikit walet datang tidak berarti lokasi itu jelek.

Cek lokasi juga tidak melulu sebagai acuan membuat gedung walet. Cek lokasi bisa dilakukan untuk survei populasi walet di suatu daerah. Philip menyarankan memutar lagu atau suara untuk panggil terlebih dahulu sebelum menggunakan suara khusus cek lokasi. Menurut Philip suara cek lokasi diartikan bagi walet suara seperti layaknya seseorang meminta tolong.

Praktikus walet di Cengkareng, Jakarta Barat, Philip Yamin. (Dok. Trubus)

Walet akan berdatangan ramai menuju sumber suara. Namun, terlihat seolah panik. Suara panggil-memanggil walet lebih ramah dibandingkan dengan suara cek lokasi. Menurut praktikus walet di Jakarta, Harry Wijaya, suara cek lokasi memang efektif membuat walet berkumpul. Namun, tidak bisa digunakan sebagai suara panggil. Burung akan berkumpul tapi enggan menginap. Kondisi terparah menyebabkan koloni walet yang sudah menginap panik dan kabur.

Menurut Philip beberapa praktikus membuat gedung walet di daerah titik buta atau blind spot. Biasanya daerah itu di luar daerah sentra dan di luar lintasan. Namun, lingkungannya potensial sebagai sumber pakan walet. Menurut pria 39 tahun itu perkembangan gedung walet di titik buta lambat. Namun, potensial menjadi sentra baru di kemudian hari. Pasalnya ketika lingkungan tempat sumber pakan menipis akan mengarah ke titik buta, karena lingkungannya potensial menyediakan pakan untuk walet. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img