Merintis bisnis hidroponik hingga beromzet puluhan juta per bulan.
Trubus — Empat tahun belajar Ilmu Tanah, Yusep Jalaludin justru mengembangkan sayuran tanpa tanah alias hidroponik. Alumnus Ilmu Tanah Institut Pertanian Bogor itu mengatakan, menekuni Ilmu Tanah tidak melulu belajar tanah dan batuan. Pemuda kelahiran 24 Agustus 1994 itu juga belajar mengenai pertukaran unsur hara ke tanaman. Itu menunjang pengetahuan dasar hidroponik.

“Ibaratnya jika pada tanah memberikan nasi, perlu pengolahan dulu agar bisa diserap. Pada hidroponik sudah berupa bubur langsung bisa diserap,” kata petani muda di Desa Sentul, Kecamatan Babakanmadang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu. Yusep rutin menuai 15—20 kg beragam sayuran seperti kangkung, selada, dan pakcoi setiap hari. Bobot satu tanaman selada rata-rata 100 gram dan kangkung (50—60 gram) per tanaman.
Jutaan rupiah
Yusep memasok sayuran ke salah satu platform pemasaran digital dan industri salad di kota Bogor. Harga jual Rp25.000—Rp45.000 per kilogram tergantung jenis sayuran. Menurut Yusep jenis selada seperti romaine, lolo rosa, dan iceberg lebih mahal daripada kangkung dan bayam. Omzet pemuda 25 tahun itu rata-rata Rp11 juta—Rp27 juta per bulan dari perniagaan sayuran hidroponik.
Ia membudidayakan sayuran hidroponik di atas lahan 1.500 m2. Di area itu terdapat 10 talang hidroponik masing-masing sepanjang 12 meter. Satu talang hidroponik dari pipa polivinil klorida (PVC) terdiri atas 72 lubang tanam. Yusep dapat panen setiap hari karena mengatur pola tanam. Ia disiplin menanam 50—100 lubang tanam per jenis sayuran setiap hari. Umur produksi sayuran itu rata-rata 25—30 hari.
Menurut Yusep permintaan sayuran hidroponik sebetulnya lebih besar dari 15 kg per hari. Itulah sebabnya ia berencana meningkatkan produksi. Kadang-kadang untuk pasar tertentu permintaan sayuran hidroponik bersinggungan dengan permintaan sayuran konvensional. Saat musim kemarau, permintaan kangkung hidroponik malah meningkat hingga 20%.

Peningkatan permintaan itu akibat banyak petani konvensional berhenti memproduksi kangkung karena air terbatas. Budidaya sayuran hidroponik lebih irit air karena tersirkulasi. Sebaliknya pada musim hujan giliran permintaan selada hidroponik yang meningkat. Itu karena selada asal panen konvensional di lapangan mudah busuk saat hujan. Secara keseluruhan pasar Hidroponik meningkat 20% saban tahun. Artinya ceruk pasar meningkat.
Menurut Yusep seni dalam hidroponik adalah menghasilkan produk konsisten. Jika manajemen kurang tepat, mutu dan produksi bisa terhambat. Imbasnya kepercayaan konsumen menurun. Jika manajemen tepat pasokan dan mutu produk baik konsumen akan memesan ulang bahkan mungkin mengikat kontrak. Yusep mengatakan, titik impas pada 24 bulan atau 2 tahun setelah memulai usaha hidroponik.
Komunitas
Yusep memulai usaha hidroponik pada 2017 saat tahun terakhir kuliah. Ia mengelola total 10.000 lubang tanam di lahan 4.500 meter persegi yang disewa di Desa Cimanggu, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Ia mengajak teman kuliahnya agar modal makin besar, yakni Rp250 juta. Menurut Yusep tantangan awal ketika panen perdana karena kesulitan mencari pasar. Saking sulitnya Yusep menjual produk hidroponik ke pasar tradisional.
“Dulu asal harga sudah balik modal saja senang,” kata Yusep. Seiring bertambahnya jaringan barulah pasar terbentuk, memasok ke industri rumahan salad dan kontrak dengan platform digital pemasaran daring. Ia memperoleh pasar itu dengan cara aktif di komunitas hidroponik. Pada 2019 kapasitas produksi meningkat 50% menjadi 15.000 lubang tanam. Pada tahun 2019 Yusep memindahkan lokasi kebun hidroponik ke Sentul, Kecamatan Babakanmadang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Yusep bulat beragribisnis hidroponik karena melihat peluang usaha di bidang pangan yang tidak akan pernah mati. Seiring meningkatnya populasi penduduk, kebutuhan pangan pun akan meningkat. Selain itu, pesaing di bidang produksi pun tidak terlalu banyak. Terlebih pendapatan yang diperoleh tidak jauh beda bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan bekerja kantoran.
Ia lebih memilih berhidroponik dibandingkan dengan berangkat kerja berdesakan di kereta menuju Jakarta. Mengenakan pakaian kasual, pria kelahiran Bogor, 24 Agustus 1994 itu rutin untuk mengecek pH dan electrical conductivity (EC). Setelah mengecek nutrisi Yusep ditemani 2 orang rekannya memanen ragam sayuran hidroponik antara lain kangkung dan beragam selada. (Muhamad Fajar Ramadhan)
