Pemanfaatan kertas bekas untuk membungkus buah rambutan memperpanjang daya simpan hingga 12 hari.
Trubus — Kertas bekas seperti koran, kertas HVS, dan kertas sampul buku atau kertas kacang kerap kali berakhir di tempat sampah. Padahal, kertas-kertas itu bermanfaat untuk meningkatkan kesegaran buah rambutan sebagaimana riset Nofiarli, STP, MP, dan rekan dari Para periset di Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu) Tropika. Para periset membuktikan, kesegaran buah rambutan Nephelium lappaceum mencapai 12 hari pada suhu ruang.

Lazimnya buah rambutan hanya tahan empat hari setelah panen di suhu ruang. Pembungkusan buah dengan kertas bekas mampu memperpanjang masa simpan. Para periset memisahkan buah rambutan dari tandan dan tangkai, lalu membungkusnya dengan kertas bekas. Pastikan seluruh permukaan buah rambutan terselimuti kertas. Periset membungkus buah setelah panen.
Buah matang
Bila akan melakukan perjalanan, masukkan buah rambutan terbungkus kertas ke dalam plastik pembungkus kemudian tutup ujung plastik dengan tali atau stapler. Langkah sederhana itu mampu memperpanjang kesegaran buah anggota famili Sapindaceae itu. Para periset memanfaatkan kertas bekas secara tidak sengaja ketika Dinas Pertanian Kota Padang menyelenggarakan Pekan Daerah Pertanian (Pedatani) pada 7—9 September 2019.
Pada kegiatan itu Balitbu Tropika harus menampilkan produk hasil penelitian dan buah-buahan seperti rambutan. September termasuk musim berbuah rambutan. Akibat perubahan iklim, buah rambutan panen dua kali. Namun, panitia menghendaki buah segar. Oleh karena itu, periset harus memanen rambutan tiga hari sebelum pameran berlangsung. Itu mengkhawatirkan karena kualitas buah rambutan turun.
Nofiarli, STP, MP, dan rekan memanfaatkan kertas bekas untuk membungkus buah. Para periset itu membawa buah rambutan yang telah dikemas ke lokasi pameran menggunakan mobil bak terbuka. Sinar matahari dan suhu tinggi terus terpapar selama 4 jam. Jarak kota solok ke Padang mencapai 52 km. Tak disangka kertas bekas berhasil menyelamatkan buah rambutan sehingga tetap segar. Sebelum membungkus buah rambutan dengan kertas bekas, perhatikan proses pemanenan.

Petik buah rambutan yang matang sempurna. Cirinya 90% permukaan kulit buah berwarna merah dan rambutnya lebat menyelimuti buah. Pilih buah berperforma bagus. Artinya buah tidak terserang penyakit yang biasa menyerang seperti embun tepung. Peneliti membungkus buah yang lolos sortir.
Menjadi kurma
Semula Nofiarli dan rekan menggunakan beberapa jenis daun untuk memperpanjang kesegaran buah. Periset itu memanfaatkan daun sukun, daun pisang, daun nangka, dan daun rambutan untuk membungkus buah. Namun, metode itu belum mampu memperpanjang umur simpan buah rambutan. Hasilnya mubazir. Seluruh buah membusuk hanya dalam waktu tiga hari, tak ada sisa sedikit pun yang dapat dikonsumsi.
Meskipun mengalami penurunan kualitas, peneliti Balitbu Tropika tidak membuang buah rambutan malahan menciptakan produk baru yaitu mengolahnya menjadi kurma. Bukan berarti menyulap rambutan menjadi kurma, nama itu hanya semata-mata karena tekstur olahan buah rambutan mirip buah kurma. Rambutan berdaging buah tebal akan lebih nikmat dijadikan kurma.

Salah satu varietas yang sangat cocok untuk dijadikan kurma rambutan adalah varietas korong gadang dan sitangkue. Kedu varietas itu berdaging buah tebal dengan kadar air rendah.Pembuatan kurma rambutan relatif mudah. Buah rambutan yang sudah tidak nikmat lagi dikonsumsi dalam kondisi segar dikupas kulitnya. Cuci bersih buah rambutan, susun buah di wadah aluminium, dan tiriskan.
Selanjutnya keringkan buah di dalam oven bersuhu 60°C selama 6 jam. Kini rambutan bersalin rupa menjadi kurma dan siap dinikmati. Teknologi pengolahan rambutan itu juga berlaku untuk buah bercita rsa masam. Proses pengolahan sama, tetapi sebelum mengoven, rendam buah rambutan dalam larutan gula selama 12 jam. Perbandingan gula dan air 1 : 1. (Nofiarli, STP, MP, Kuswandi, SP, MSi, Andre Sparta, SP, MSc, Nini Marta, SP, MP, Mega Andini, SP, dan Fitriana Nasution, SP, MSc, periset di Balai Penelitian Buah Tropika)
