Robot meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Trubus — Alvan Fajarudin heran melihat tanaman-tanaman yang tumbuh di dekat rel kereta api dan di bawah jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) sehat sentosa. “Saya jarang melihat ada yang terserang hama dan penyakit tanaman,” ujar mahasiswa semester tujuh Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman, Universitas Brawijaya, itu. Ia akhirnya memahami duduk perkara itu dari rekannya yang kuliah di jurusan Elektro.
“Gelombang elektromagnetik memang meningkatkan ketahanan atau imunitas tanaman,” ujar mahasiswa kelahiran Kabupaten Gresik, Jawa Timur, 17 Desember 1997 itu. Alvan tergerak menerapkan teknologi itu dalam bentuk robot. “Robotnya berbentuk mobil-mobilan yang bisa berjalan di lahan. Ketika jalan-jalan di lahan itu, mobil menyalurkan gelombang elektromagnetik ke tanah,” ujar Alvan.
Tahan hama
Pada 2018 bersama rekannya Candra Sabdana Nugroho, Kris Wahyuningsih, Iklillah Maulidiyah Warda, dan Alwan Afif Fadhillah, Alvan berhasil membuat robot berbentuk mobil yang menyalurkan gelombang elektromagnetik ke tanah. Mereka memberikan nama Agrowbot, singkatan dari Plant Growth Promoting. “Harapannya tanaman yang tumbuh di lahan lebih tahan hama dan penyakit plus bisa membantu menekan degradasi lahan,” ujar Iklillah Maulidiyah.

Sayangnya, bentuk ban yang tak sesuai, membuat robot itu tak berjalan lancar di lahan. “Kami akan mencoba membuat dari mobil remot control yang off road. Biayanya juga jadi lebih murah,” ujar Alvan. Ia berencana memodifikasi mobil remot control dengan menambahkan beberapa peralatan pendukung seperti sensor cahaya dan sensor kelembapan. Menurut Alvan biayanya Rp1 juta.
Bandingkan dengan mobil robot rakitan sebelumnya yang menghabiskan dana Rp3 juta. “Tujuannya agar lebih terjangkau untuk para petani,” ujar Alvan yang mengikuti beragam kompetisi. Pada 2018 mereka mengikututi kompetisi di PT East West Seed Indonesia, Universitas Jember dan meraih juara ke-3. Setahun berselang Alvan mengikuti pameran Bangkok, Thailand, dan meraih medali perak.
Dosen di Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Deffi Armita SP, MP, MS, berharap, agrowbot mampu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan oganisme pengganggu tanaman. Petani yang memanfaatkannya akan mengurangi penggunaan pestisida kimia. “Efek dan dampak negatif pestisida kimia juga dapat diminimalisir,” ujarnya. Menurut Deffi, riset Alvan dan rekan belum banyak data lantaran masih tahap awal.
Percepat pertumbuhan
Beberapa publikasi riset nasional dan internasional mengungkapkan bahwa elektromagnetik terbukti meningkatkan laju perkecambahanan, pertumbuhan akar, pencegahan penyakit pada beberapa tanaman seperti padi. Arda Surya Editya dan Istas Pratomo dari Jurusan Teknik Eletro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember menguji pengaruh gelombang elektromagnetik terhadap pertumbuhan tanaman padi Oryza sativa di lingkungan mikrogravitasi.

Riset pada November 2018 itu menunjukkan, peradiasian elektomagnetik frekuensi 2,4 GHz mempercepat pertumbuhan padi. Hal itu karena proses peradiasian mampu memanaskan sel tumbuhan sehingga fotosintesis menjadi optimal. Sayang, angka peningkatannya tak disebutkan. Mereka menyimpulkan, dengan adanya radiasi elektromagnetik frekuensi 2,4 GHz dapat membantu tanaman hidup dilingkungan mikrografitasi atau luar angkasa. Sehingga memungkinkan untuk adanya kehidupan diluar angkasa.
Riset lain oleh Imelda Agustina Zuhria R dan rekan dari Jurusan Fisika, Universitas Brawijaya, membuktikan pengaruh pemberian variasi medan listrik terhadap perubahan pola dormansi serta germinasi pada benih padi. Hasilnya makin besar medan listrik yang dikenakan pada padi, makin singkat pula waktu pecah dormansi, sehingga pertumbuhan germinasi lebih cepat juga. (Bondan Setyawan)
