Wednesday, May 6, 2026

Produksi 13 Ton per Hektare

Rekomendasi
- Advertisement -

Jagung hibrida anyar berproduksi rata-rata 11 ton, tahan penyakit, dan pas untuk dataran tinggi.

Ketahanan terhadap hawar daun di dataran tinggi JH 29 (kiri dengan tanda no. 6) bila dibandingkan dengan varietas lain (kiri dengan tanda no.5) (Dok. Roy Efendi)

Trubus — Harga jagung pakan ternak sedang bagus. Itu imbas keputusan pemerintah menghentikan impor jagung pakan pada akhir tahun 2018. Di sentra-sentra jagung seperti di Probolinggo dan Nusa Tenggara Barat harga jagung pakan stabil di kisaran Rp3.500—Rp4.000 per kg. Namun, petani di dataran tinggi atau di atas 700 m di atas permukaan laut sukar menanam jagung.

Harap mafhum tak banyak varietas jagung resisten penyakit hawar daun. Penyakit itu kerap menyerang jagung yang ditanam di dataran tinggi. Namun itu tak jadi masalah lagi sekarang. Balai Penelitian Tanaman Serealia (Balitsereal), Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan mengeluarkan dua varietas jagung yang produktif di dataran tinggi bernama JH 29 dan JH 30.

Tahan Penyakit

Dr. Roy Efendi, S.P, M.Si, periset jagung pakan hibrida JH 29 dan JH 30 dari Balitsereal. (Dok. Roy Efendi)

Menurut periset yang mengembangkan JH 29 dan JH 30, Dr. Roy Efendi, S.P, M.Si, dataran tinggi cenderung memiliki kelembapan tinggi. Hal itu menyebabkan air banyak tersimpan di pangkal daun. Kelembapan yang terbentuk mengundang cendawan Rhizoctonia solani yang menyebabkan penyakit hawar daun. Varietas yang banyak beredar di pasar lazimnya dirakit untuk ditanam di dataran rendah hingga menengah. Jagung-jagung ternyata tidak kuat naik gunung.

Menurut Roy petani lebih menyukai varietas yang tahan hawar daun tetapi produksi cukup tinggi ketimbang varietas dengan produktivitas tinggi tapi tak tahan hawar daun. Harap mafhum penyakit hawar daun menyerang saat fase pembungaan, tanaman tinggi, hingga penanggulangan menggunakan pestisida tidak memungkinkan. Ketika jagung terserang hawar daun, petani hanya pasrah dan berjanji untuk tidak menggunakan varietas jagung itu lagi.

Daun jagung hibrida JH 30 semitegak sehingga petani bisa melakukan
sistem tanam rapat. (Dok. Roy Efendi)

Kedua jagung rakitan Roy, merupakan jagung-jagung hibrida hasil seleksi yang berlangsung 3 tahun galur-galur unggul. Keunggulan masing-masing varietas menurut Roy, “Produktivitas JH 29 stabil di seluruh ketinggian, baik dataran rendah, menengah, dan tinggi. JH 30 paling unggul di dataran tinggi,” kata Roy. Jagung hibrida JH 29 memiliki potensi hasil biji 13,6 ton per ha, rata-rata hasil 11,7 ton per ha, dan rendemen biji 82%. Penutupan kelobot rapat sehingga tongkol tidak basah ketika panen saat hujan.

Kandungan nutrisi pun tinggi yaitu protein 10% dan karbohidrat 70,02%. Selain cukup tahan dengan penyakit hawar daun, JH 29 juga cukup tahan terhadap penyakit bulai yang bersumber dari cendawan Peronosclerospora maydis. JH 29 juga tahan serangan karat daun dan tahan penyakit bulai akibat serangan cendawan Peronosclerospora philippinensis.

Produktivitas Tinggi

Adaptasi di ketinggian menengah dan tinggi JH 30 baik dengan potensi hasil biji 12,6 ton per ha, rata-rata hasil 11,3 ton per ha, dan rendemen biji 81%. Kandungan nutrisi yang paling tinggi pada JH 30 yaitu lemak sebesar 9.03%. Varietas baru itu tahan patogen hawar dan karat daun serta agak tahan terhadap bulai. Roy mengatakan, JH 29 yang terbaik karena kestabilan produktivitas di berbagai ketinggian. Namun, jika khusus ingin memanfaatkan lahan dataran tinggi dengan menanam jagung, Roy menganjurkan untuk menggunakan JH 30.

Hamparan jagung hibrida JH 29 menjelang panen. (Dok. Roy Efendi)

Petani di Desa Wanga, Kecamatan Lorepeore, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, menyaksikan keunggulan JH 29 dan JH 30 saat uji multilokasi. Penyuluh pertanian di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Tengah, Basrum, S.P, M.Si, mengatakan bahwa JH 29 dan JH 30 memperlihatkan ketahannya terhadap penyakit ketika seluruh tanaman jagung dari berbagai varietas di lokasi uji dataran tinggi terserang penyakit.

Jagung hibrida JH 30 paling prima produktivitasnya di dataran tinggi ketimbang JH 29. (Dok. Roy Efendi)

Menurut ASEAN Food Security Information System (AFSIS), produktivitas rata-rata jagung di Indonesia 5,07 ton per hektare. Keruan JH 29 dan JH 30 dapat dikatakan memiliki produktivitas tinggi dengan rata-rata hasil 11,7 ton per ha dan 11,3 ton per ha.  Tak ada yang sempurna, begitu juga dengan varietas rakitan alumni doktoral Pemuliaan dan Teknologi Tanaman Institut Pertanian Bogor itu. JH 29 memiliki daun yang agak melengkung, sehingga tidak bisa untuk budi daya tanam rapat—di atas 70.000 tanaman per ha.

Namun, karakter itu seperti dua sisi koin yang berbeda. Karena kanopi melengkung, menyebabkan JH 29 tidak menyimpan air sehingga cukup tahan kelembapan di dataran tinggi. Adapun JH 30 memiliki daun yang semi tegak dan tongkol jagung miring sekitar 45 derajat sehingga air juga tidak mudah masuk ke pangkal daun (Tamara Yunike).

Previous article
Next article

Artikel Terbaru

Cara Menanam Pepaya California agar Cepat Berbuah dan Seragam

Sebagai pekebun yang ingin pepaya california cepat berbuah dan menghasilkan buah seragam, tahap awal yang penting adalah perkecambahan benih....

More Articles Like This