Mengatasi keterlambatan berbuah pada jeruk dengan memijat dan melengkungkan ranting.

Trubus — Pijatan membuat tubuh merasa nyaman. Ir. Arry Supriyanto, M.S. menerapkan pijatan untuk merangsang pohon jeruk berbuah. Periset di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) itu mengombinaskan pijatan dan lengkungan. Arry menyebut teknik pikung akronim dari pijat dan lengkung. Menurut Arry salah satu penyebab pohon terlambat berbuah, “Karena terlalu banyak unsur nitrogen. Tanaman fokus ke fase vegetatif, akhirnya fase generatif terlambat.”
“Pikung merupakan proses memijat sambil melengkungkan ranting atau cabang tanaman dengan tujuan merangsang pembungaan,” kata Arry. Jadi, prosesnya pekebun melengkungkan sambil memijat, bukan melengkungkan lalu memijat secara bergantian. Inspirasi itu berasal dari para petani apel di Kota Batu, Jawa Timur. “Petugas kebun kami di Balitjestro melakukan hal yang sama pada jeruk dan berhasil juga,” kata Arry.
Bersihkan gulma

Keberhasilan di kebun percobaan itu membuat Arry penasaran. Oleh karena itu, Arry meneliti teknik pikung di laboratorium Universitas Gadjah Mada pada 2014—2015. Tujuannya untuk membuktikan alasan ilmiah mengapa pikung bisa berhasil. Arry menemukan fenomena unik pada teknik pikung. “Ketika tanaman dipikung, menyebabkan mobilisasi hormon sitokinin menuju tunas-tunas tanaman terutama tunas yang akan menghasilkan bunga,” ujarnya.

Sitokinin merupakan hormon yang berperan penting pada pecahnya tunas yang kemudian menjadi bunga dan buah. Itulah sebabnya, teknik pikung dapat merangsang fase pembungaan. “Selain itu hormon yang menghambat proses itu yaitu asam absisat atau absicic acid (ABA) juga berkurang kadarnya, ketika tanaman dipikung,” ujar alumnus Jurusan Fisiologi Tanaman, Insitut Pertanian Bogor.
Hasil penelitian Arry menunjukkan, tunas hasil pikung lebih cepat berbunga daripada teknik lama berupa pengeratan pada batang bagian bawah tanaman. “Pada jeruk siam, selisihnya sekitar dua pekan dibandingkan dengan yang dijerat kawat pada batang bawahnya. Hal itu karena pada pengawatan, hormon sitokinin juga meningkat, tetapi hormon ABA tidak berkurang,” ujarnya.

Menurut kepala kebun percobaan Banaran, Balitjestro, Ady Cahyono, S.P. ketika bunga mulai muncul, awasi serangan hama dan penyakit, terutama hama trips. Cegah serangan trips dengan cara menyemprotkan insektisida berbahan abamectin. Lakukan pikung pada semua ranting primer dan sekunder. Jika tanaman terlalu tinggi, pekebun bisa menggunakan tangga. Setelah pikung, biarkan pohon sekitar sebulan atau lebih tanpa penyiraman.
“Proses itu sebulan hingga daun mulai layu dan menggulung,” ujar Arry. Baru setelah itu lakukan penyiraman atau tersiram air hujan. “Kurang lebih sebulan pascapenyiraman, bunga mulai mekar,” ujar Arry. Menurut Arry salah satu ciri keberhasilan pikung, daun tanaman itu layu bahkan beberapa rontok. Setelah proses selesai, daun akan segar kembali. “Kalau gagal biasanya karena waktu memikung tidak bunyi ‘krek’ alias kurang sempurna memikungnya,” ujar Arry. Menurut Arry ada juga yang kurang sabar saat memikung hingga ranting atau cabang itu patah. (Bondan Setyawan)
